Kamis, 23 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Turki Ajak NATO Reset Ulang Aliansi dengan AS, Blokade Selat Hormuz Perparah Krisis Energi

Turki sedang mempertimbangkanpengurangan keterlibatan AS dan meningkatkan kapasitas pertahanan mereka sendiri.

Editor: Choirul Arifin
HO/IST/dok. Anadolu
KURANGI PERAN AS - Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Turki sedang mempertimbangkanpengurangan keterlibatan AS dan meningkatkan kapasitas pertahanan mereka sendiri. 

Ringkasan Berita:
  • Turki sedang mempertimbangkanpengurangan keterlibatan AS dan meningkatkan kapasitas pertahanan mereka sendiri.
  • Donald Trump frustrasi terhadap NATO dan mempertimbangkan opsi untuk menarik sebagian pasukan AS dari Eropa.
  • Blokade Selat Hormuz akan semakin melumpuhkan pelayaran internasional, memperburuk krisis energi yang mengguncang ekonomi global.

TRIBUNNEWS.COM, ANKARA - Turki menegaskan, sekutu NATO harus menggunakan pertemuan puncak Juli mereka di Ankara untuk memperbaiki hubungan dengan Presiden AS Donald Trump dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan pengurangan keterlibatan AS dalam aliansi tersebut.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan, Turki percaya Trump akan menghadiri pertemuan puncak para pemimpin NATO pada 7-8 Juli karena "rasa hormat pribadinya" kepada Presiden Tayyip Erdogan, tetapi menambahkan bahwa ia memahami bahwa Trump enggan untuk datang ke pertemuan tersebut.

Trump telah mengkritik NATO selama bertahun-tahun dan pekan lalu mengancam akan menarik Amerika Serikat keluar dari aliansi tersebut karena penolakan anggota Eropa untuk mengirim kapal guna membuka blokade Selat Hormuz di dekat Iran.

Hal itu memperparah gesekan di dalam blok tersebut terkait rencana sebelumnya untuk mengakuisisi Greenland.

Fidan mengatakan kepada kantor berita Anadolu bahwa Sekutu telah lama menganggap kritik Trump sebagai retorika, tetapi sekarang sedang merencanakan kemungkinan pengurangan keterlibatan AS dan meningkatkan kapasitas pertahanan mereka sendiri.

Baca juga: Trump Kritik NATO soal Iran saat Bertemu Rutte

"Negara-negara NATO perlu menjadikan KTT Ankara ini sebagai kesempatan untuk membangun hubungan dengan Amerika Serikat secara sistematis," katanya.

"Jika akan ada penarikan AS dari beberapa mekanisme NATO, perlu ada rencana dan program untuk menghapuskannya secara bertahap sehingga tidak ada pihak yang terpinggirkan," tambahnya.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan ia memahami frustrasi Trump terhadap aliansi tersebut, tetapi bahwa "sebagian besar negara-negara Eropa" telah membantu upaya perang Washington di Iran.

Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa Trump, sebagai bagian dari frustrasi terhadap NATO, juga mempertimbangkan opsi untuk menarik sebagian pasukan AS dari Eropa.

Blokade Selat Hormuz Perparah Krisis Energi

Sementara itu, para analis memperingatkan bahwa rencana blokade angkatan laut Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran akan semakin melumpuhkan pelayaran internasional, memperburuk krisis energi yang mengguncang ekonomi global.

Harga minyak melonjak di atas $100 per barel pada hari Senin setelah Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade Selat Hormuz dan "mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar bea kepada Iran".

"Iran tidak akan diizinkan untuk mengambil keuntungan dari Tindakan Pemerasan Ilegal ini," kata Trump di Truth Social.

Baca juga: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO usai Perang Iran, Klaim Sekutu Eropa Gagal Beri Dukungan AS

Komando Pusat, komando militer AS yang bertanggung jawab atas operasi di Timur Tengah, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa blokade tersebut hanya akan memengaruhi kapal-kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, sebuah langkah yang tampaknya mengurangi ancaman Trump untuk sepenuhnya memblokir selat tersebut.

Trita Parsi, salah satu pendiri Quincy Institute for Responsible Statecraft yang berbasis di AS, mengatakan bahwa blokade AS akan memiliki dampak berantai di seluruh ekonomi global.

“Apa pun yang saat ini mengurangi pasokan minyak di pasar akan mendorong harga naik, yang pada gilirannya akan mendorong harga gas lebih tinggi lagi,” kata Parsi kepada Al Jazeera.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved