Fisikawan Ini Prediksi Kiamat Terjadi Jumat 13 November 2026: Manusia Terhimpit Saking Padatnya
Von Foerster menulis dalam laporannya, "Cucu buyut kita tidak akan (mati karena) kelaparan. Mereka akan mati (karena) squeezed (terjepit/terhimpit).
Ia mengatakan hal ini dapat dilakukan "saat ini" dengan cara-cara seperti, "pajak berat pada keluarga dengan lebih dari dua anak."
Ia memperingatkan bahwa, "Besok, tentu saja, akan lebih sulit, karena kesenjangan antara angka kelahiran dan angka kematian semakin melebar setiap menitnya."
Kiamat pada Jumat 13 November 2026
Von Foerster, menggunakan model perhitungannya, berpendapat kalau pertumbuhan populasi meningkat pesat ketika komunikasi dan kemampuan manusia untuk bekerja sama mendorongnya untuk tumbuh.
Dalam skenario seperti itu, populasi mendekati tak terhingga, sehingga terjadilah hari kiamat.
Berdasarkan persamaannya, hari ini akan tiba pada Jumat, 13 November 2026.
Tetapi dia tidak menyebut tanggal tersebut sebagai tanggal pasti.
Sebagai informasi tanggal tersebut merupakan hari ulang tahunnya.
"Dia menggunakan tanggal tersebut hanya sebagai cara untuk menunjukkan kalau hal-hal perlu berubah agar manusia dapat bertahan hidup di dunia ini," tulis laporan tersebut.
Teori Heinz von Foerster Dianggap Lelucon
Namun, seperti halnya segala sesuatu lainnya, teori ini pun memiliki kritikus, karena tidak semua orang setuju dengan penilaian von Foerster.
Para kritikus berpendapat kalau kendala biologis—khususnya periode kehamilan manusia—dan kecenderungan historis pertumbuhan eksponensial untuk mencapai titik jenuh membuat teorinya tidak mungkin.
Pada tahun 1961, peneliti demografi Ansley J. Coale mengirimkan surat kepada Science, yang menyatakan bahwa sebagian besar ahli demografi menganggap makalah sang fisikawan sebagai lelucon.
Menanggapi hal ini, von Foerster menjawab kalau yang ingin mereka tunjukkan adalah bahwa pertumbuhan populasi manusia tidak dapat didefinisikan hanya berdasarkan angka kematian dan kesuburan.
Para ahli mengatakan bahwa kemungkinan besar hal-hal tidak akan berjalan seperti yang diprediksi fisikawan tersebut karena manusia telah berhasil meningkatkan sumber daya mereka selama bertahun-tahun.
Belakangan, perubahan tren dan cara pandang terhadap kelahiran anak juga menjadi bantahan terhadap teori ini.
Banyak negara saat ini justru mengalami de-populasi karena sikap masyarakatnya yang cenderung enggan memiliki keturunan.
(oln/wn/time/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pesta-lautan-manusia-rayakan-argentina-juara-piala-dunia-2022_20221219_075610.jpg)