Selasa, 21 April 2026

Ancaman Krisis Energi

Penghematan BBM, Thailand Wacanakan SPBU Wajib Tutup setelah Jam 10 Malam

PM Thailand menyampaikan bahwa otoritas terkait kemungkinan akan memerintahkan SPBU untuk tutup antara pukul 22.00 hingga 05.00 pagi.

Penulis: Bobby W
Editor: Suci BangunDS
CH7HD NEWS
ANTREAN SPBU THAILAND - Tangkap Layar CH7HD News Thailand yang memerlihatkan antrean warga Thailand di sejumlah SPBU pada Selasa malam (3/3/2026). Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul pada Senin (20/4/2026) menyampaikan bahwa otoritas terkait kemungkinan akan memerintahkan SPBU untuk tutup antara pukul 22.00 hingga 05.00 pagi. 

Angka konversi mesin bulanan meningkat dua kali lipat, dari yang semula 400 kendaraan sebelum konflik Amerika Serikat-Iran pecah, menjadi 800 kendaraan selama bulan tersebut.

Dari sisi biaya, Suwatchai menilai peralihan ke kendaraan berbasis LPG dianggap lebih ekonomis bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. 

Suwatchai mengatakan biaya modifikasi kendaraan biasa ke LPG membutuhkan anggaran berkisar antara 20.000 hingga 25.000 baht per unit atau setara Rp9.132.000 hingga Rp11.415.000 (kurs Rp456,60 per 1 baht).

Angka ini jauh lebih murah dibandingkan membeli mobil listrik (EV) baru yang dibanderol setidaknya 400.000 baht atau sekitar Rp182.640.000.

Suwatchai menambahkan, adanya perbedaan segmen konsumen dalam menghadapi krisis energi ini.

 "Pembeli mobil listrik biasanya adalah mereka berpenghasilan menengah ke atas yang sudah memiliki mobil berbahan bakar bensin dan mampu membeli mobil listrik untuk menghindari biaya bahan bakar yang tinggi. Mereka yang berpenghasilan lebih rendah beralih ke LPG," jelasnya.

Suwatchai juga meyakini pergeseran penggunaan bahan bakar ini akan bersifat permanen mengingat lonjakan harga diesel yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bahkan jika konflik di Timur Tengah mereda, kerusakan infrastruktur energi seperti kilang minyak dan pabrik gas alam cair (LNG) yang terjadi di negara-negara terdampak diperkirakan membutuhkan waktu 2 hingga 3 tahun untuk perbaikan ke kondisi seperti semula. 

Hal ini diprediksi akan menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi dalam waktu yang lama.

Sebagai langkah efisiensi internal, Atlas Energy sendiri mulai memangkas biaya operasional dengan memberlakukan sistem kerja fleksibel dari rumah (WFH) bagi stafnya guna mengurangi mobilitas dan konsumsi bahan bakar kendaraan karyawan.

(Tribunnews.com/Bobby)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved