Rabu, 22 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

UEA Isyaratkan Dolar Mungkin Tak Lagi Dominasi Perdagangan Minyak Global

Uni Emirat Arab (UEA) mengisyaratkan kemungkinan beralih dari dolar AS dalam transaksi minyak akibat dampak perang Iran

Editor: Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
  • Uni Emirat Arab (UEA) mengisyaratkan kemungkinan beralih dari dolar AS dalam transaksi minyak akibat dampak perang Iran yang memperketat ketersediaan dolar.
  • Gubernur bank sentral UEA mengajukan permintaan currency-swap line kepada pejabat AS, sekaligus memperingatkan bahwa mereka mungkin terpaksa menggunakan yuan China jika situasi memburuk. 
  • Meski ancaman ini nyata, sejumlah analis menilai posisi dolar masih kokoh

TRIBUNNEWS.COM - Uni Emirat Arab tampaknya memberikan sinyal bahwa dominasi dolar tidak terjamin dalam perdagangan minyak global jika dampak perang Iran semakin memburuk.

Menurut Wall Street Journal, kepala bank sentral UEA mengangkat gagasan tentang jalur currency-swap dengan pejabat Departemen Keuangan dan Federal Reserve dalam pertemuan di Washington, D.C., pekan lalu. Memang, UEA memiliki kekayaan yang melimpah, termasuk cadangan devisa senilai $270 miliar dan triliunan dolar di berbagai dana kekayaan negaranya.

Namun meskipun UEA tidak sedang mengalami krisis, Iran telah merusak infrastruktur energinya dan memblokir ekspor minyak dengan menutup Selat Hormuz, yang berdampak pada pendapatan berbasis dolar.

Jika perang Iran memicu penurunan ekonomi yang lebih dalam, swap line dengan AS akan menyediakan pasokan dolar murah bagi bank sentral UEA yang dapat mendukung dirham—yang dipatok terhadap dolar—atau memperkuat cadangan devisa jika likuiditas menipis, demikian laporan tersebut.

Pejabat UEA juga menunjukkan bahwa AS-lah yang memulai perang dengan Iran, dan menyatakan mereka mungkin terpaksa menggunakan yuan China atau mata uang lain untuk transaksi minyak jika ketersediaan dolar menjadi terbatas, menurut sumber yang dikutip Journal.

Bank sentral UEA tidak segera merespons permintaan komentar.

Baca juga: Trump Ogah Perpanjang Gencatan Senjata, AS Bom Iran Lagi Bila Tak Ada Deal

Setiap perpindahan dari dolar oleh produsen minyak utama akan menjadi ancaman besar bagi supremasi mata uang tersebut. Keputusan Arab Saudi pada tahun 1974 untuk menetapkan harga ekspor dalam dolar turut menjadikan dolar sebagai standar dalam perdagangan minyak global. Dan karena minyak merupakan input utama dalam manufaktur dan transportasi, rantai pasokan di berbagai penjuru dunia pun ikut terdolarisasi, memperkuat dominasi dolar dalam sistem pembayaran.

Namun perang Iran bisa memperparah retakan yang sudah mulai terbentuk dalam rezim yang disebut petrodolar, demikian peringatan analis Deutsche Bank bulan lalu.

"Kerusakan pada ekonomi Teluk dapat mendorong pelepasan tabungan aset asing mereka," ujar mereka. "Dalam konteks ini, laporan bahwa izin lintasan kapal melalui Selat Hormuz mungkin diberikan dengan imbalan pembayaran minyak dalam yuan patut diikuti dengan seksama. Konflik ini bisa dikenang sebagai katalis utama erosi dominasi petrodolar, dan awal mula munculnya petroyuan."

Hilangnya "hak istimewa berlebihan" dolar juga akan berdampak pada berbagai bidang keuangan global lainnya, termasuk pasar obligasi. Berkat status dolar sebagai mata uang cadangan dunia, pemerintah federal AS selama ini mampu menerbitkan utang dengan suku bunga lebih rendah dari yang seharusnya diizinkan investor.

Namun Dan Alamariu, kepala strategi geopolitik di Alpine Macro, tidak percaya pada prediksi kemunduran AS. Dalam sebuah catatan awal bulan ini, ia mengakui bahwa jika rezim Iran tetap berdiri sambil mempertahankan sebagian kendali atas selat tersebut, hal itu akan menjadi "kemunduran strategis" bagi AS dan mempermalukan Presiden Donald Trump.

Namun Gulf Cooperation Council (GCC)—yang mencakup UEA dan Arab Saudi—kini justru memiliki alasan lebih kuat untuk mempererat hubungan dengan AS, mengingat kedekatan China dengan Iran, tambah Alamariu.

"Gagasan tentang penggantian petroyuan atau petroeuro masih terlalu jauh untuk terwujud," katanya.

Bahkan jika petrodolar melemah, dominasi dolar masih bertumpu pada faktor-faktor lain yang tidak bisa ditandingi mata uang lain, menurut Paul Blustein, peneliti di Center for Strategic and International Studies. Faktor-faktor tersebut mencakup kedalaman, keluasan, dan likuiditas pasar keuangan AS, serta kebebasan memindahkan uang melintasi perbatasan AS hampir tanpa hambatan, tulisnya dalam opini di Fortune bulan lalu.

"Dolar menyumbang lebih dari setengah cadangan mata uang asing yang dipegang bank sentral, dan porsi serupa dalam faktur ekspor perdagangan lintas batas, pinjaman bank internasional, serta penerbitan obligasi," jelas Blustein. "Efek jaringan memperkokok statusnya; semua pihak punya insentif untuk menggunakan dolar karena begitu banyak pihak lain yang melakukan hal yang sama."

Tags
UEA
dolar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved