Iran Vs Amerika Memanas
Dampak AS Blokade Selat Hormuz, Pengamat Peringatkan Potensi Bahaya bagi Indonesia
Blokade AS bikin Iran enggan berunding, pengamat khawatir dampaknya ke ekonomi global dan Indonesia.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berpotensi menghambat proses diplomasi yang tengah diupayakan kedua negara.
Dosen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, mengaku khawatir blokade yang dilakukan AS justru membuat Iran enggan kembali ke meja perundingan.
Menurutnya, jika negosiasi lanjutan tidak terjadi, dampaknya bisa meluas ke ekonomi global, termasuk Indonesia.
Ia menjelaskan, Iran sebelumnya sempat menunjukkan kesediaan untuk berunding, namun kemudian menarik diri usai adanya serangan terhadap kapal kargo Iran.
Akibat insiden tersebut, kepercayaan Iran terhadap AS dinilai menurun. Situasi semakin rumit dengan adanya blokade terhadap pelabuhan Iran yang memperburuk hubungan kedua negara.
"Ketika terjadi blokade oleh pihak Amerika Serikat, akhirnya ini menimbulkan suatu ketidakpercayaan Iran, dan Iran ragu kalau kembali ke perundingan tidak menghasilkan deal (kesepakatan)," kata Tia dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Kamis (23/4/2026).
Tia menambahkan, ketika Iran menolak kembali berunding, AS merespons dengan tekanan psikologis berupa perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu. Kebijakan ini dinilai justru berpotensi memperparah ketidakpastian global.
Menurutnya, dampak dari kondisi tersebut akan sangat terasa di kawasan Asia, terutama karena ketergantungan terhadap jalur energi di Selat Hormuz.
"Karena efeknya terutama ke Asia Tenggara sangat signifikan. Kalau ke Uni Eropa misalnya hanya sekitar 20 persen, ke Asia itu sekitar 80 persen efek daripada Selat Hormuz ini, terutama ke Indonesia, khawatirnya memang akan terjadi inflasi," ujarnya.
Ia juga menyoroti langkah pemerintah Indonesia yang saat ini baru sebatas menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Namun, Tia mengingatkan potensi risiko ke depan jika ketidakpastian terus berlanjut.
Di sisi lain, ia berharap adanya peran Pakistan sebagai mediator dapat meredakan ketegangan dan mendorong kedua negara kembali ke jalur diplomasi.
"Kabarnya Islamabad mencoba approach (pendekatan) terhadap AS, kemudian melakukan pembicaraan kedua belah pihak supaya AS tidak melakukan apa pun, tidak melakukan tindakan provokatif untuk menyerang kargo-kargonya Iran, kemudian mencoba untuk tidak intervensi terhadap pelabuhan Iran," ujarnya.
Tia menilai, jika AS menghentikan langkah-langkah provokatif, peluang Iran untuk kembali ke meja perundingan akan semakin terbuka. Hal ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas global sekaligus mencegah dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk potensi inflasi di Indonesia.
Baca juga: Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal
Blokade Selat Hormuz Tak Dicabut
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mencabut blokade di Selat Hormuz.
Dilansir dari laman Euronews pada Kamis (23/4), kebijakan tersebut akan tetap diberlakukan hingga Iran menyetujui kesepakatan damai. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Trump menegaskan bahwa blokade tersebut memberikan tekanan besar terhadap Iran. Ia menyebut kerugian ekonomi Iran mencapai ratusan juta dolar per hari. Menurutnya, kondisi tersebut tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Keputusan ini juga berdampak pada terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut menjadi titik krusial dalam perdagangan energi global. Penutupan jalur ini memperburuk situasi geopolitik yang sudah memanas.
Situasi semakin kompleks setelah Iran menolak mengirim delegasi ke perundingan damai di Islamabad.
Pertemuan tersebut sebelumnya dijadwalkan sebagai upaya meredakan konflik. Penolakan ini menimbulkan ketidakpastian terhadap kelanjutan diplomasi.
Ketegangan meningkat setelah pasukan Amerika Serikat menyita kapal kargo berbendera Iran. Kapal tersebut diduga mencoba menghindari blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat. Iran mengecam tindakan itu sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Militer Iran menyatakan siap melakukan pembalasan atas tindakan tersebut. Mereka menilai penyitaan kapal sebagai bentuk agresi dan pelanggaran hukum internasional. Situasi ini menambah tekanan terhadap gencatan senjata yang rapuh.
Dampak konflik ini juga terasa pada pasar energi global. Harga minyak mentah mengalami lonjakan signifikan akibat ketidakpastian situasi. Kenaikan ini memperburuk krisis energi yang sedang berlangsung.
Sementara itu, komunikasi diplomatik antara Iran dan Pakistan terus berlangsung.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, disebut melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Pakistan.
Namun, ketegangan dengan Amerika Serikat masih menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan.
(Kompas.TV/Tribunnews)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.