Minggu, 26 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS Kewalahan! Ranjau di Selat Hormuz Tak Kunjung Bersih, Operasi Bisa Molor hingga 6 Bulan

AS butuh hingga 6 bulan bersihkan ranjau di Selat Hormuz. Jalur minyak dunia terancam, harga energi berpotensi melonjak, ekonomi global ikut terdampak

Ringkasan Berita:
  • AS butuh hingga 6 bulan bersihkan ranjau di Selat Hormuz, bahkan kemungkinan menunggu konflik reda. Ranjau berteknologi GPS dan jalur sempit padat kapal jadi hambatan utama.
  • Operasi harus sangat hati-hati dengan kapal khusus dan robot bawah laut. Ancaman ranjau baru masih ada selama konflik belum berakhir, sehingga situasi dinilai belum sepenuhnya aman.
  • Gangguan jalur vital minyak dunia berpotensi memicu kenaikan harga energi. Ketidakpastian ini bisa memperpanjang tekanan ekonomi global.

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat dilaporkan menghadapi tantangan besar dalam upaya membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz, dengan estimasi waktu pengerjaan yang bisa mencapai enam bulan.

Laporan yang mengutip dari laporan tiga pejabat Pentagon mengungkap operasi pembersihan kemungkinan baru akan dimulai setelah konflik antara AS dan Iran benar-benar berakhir.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Berdasarkan penilaian militer AS, Iran diduga telah menempatkan sedikitnya 20 ranjau di sekitar jalur pelayaran tersebut.

Beberapa ranjau disebut menggunakan teknologi berbasis GPS, yang memungkinkan penempatan jarak jauh dan membuat proses deteksi menjadi jauh lebih sulit.

Kondisi geografis Selat Hormuz menjadi salah satu tantangan tersulit. Jalur ini dikenal sempit namun sangat padat dilalui kapal tanker dan kapal dagang internasional. 

Situasi tersebut membuat proses penyisiran tidak bisa dilakukan secara cepat, karena setiap langkah harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari ledakan yang dapat membahayakan kapal lain.

Selain itu mengutip dari Anadolu, operasi pembersihan ranjau merupakan proses bertahap yang membutuhkan teknologi khusus, seperti kapal penyapu ranjau dan robot bawah laut. 

Setiap objek mencurigakan harus diperiksa satu per satu sebelum dinyatakan aman.  Proses ini memakan waktu karena tidak semua benda di laut adalah ranjau, namun tetap harus diverifikasi.

Lebih lanjut faktor keamanan juga menjadi alasan utama mengapa operasi ini tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Selama konflik dengan Iran belum sepenuhnya berakhir, ada risiko ranjau baru kembali dipasang. 

Hal ini membuat militer AS cenderung menunggu situasi lebih stabil sebelum melakukan pembersihan secara menyeluruh.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa sebagian ancaman telah ditangani. Namun di lapangan, para pejabat militer menilai kondisi masih belum sepenuhnya aman untuk operasi besar.

Baca juga: Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembersihan ranjau di Selat Hormuz bukan sekadar tugas teknis, melainkan operasi kompleks yang melibatkan faktor militer, teknologi, dan keamanan kawasan. 

Dampak Ekonomi Global Mengintai

Dampaknya pun tidak hanya dirasakan di tingkat regional, tetapi juga berpotensi mempengaruhi stabilitas pasokan energi global.

Ranjau laut merupakan ancaman serius bagi kapal komersial maupun militer. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved