Iran Vs Amerika Memanas
Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara di Teheran pada Kamis Malam, Ada Serangan Drone?
Warga Teheran dan beberapa kota lain di Iran sempat dikejutkan dengan aktifnya sistem pertahanan udara pada Kamis malam.
Ringkasan Berita:
- Warga Teheran dan sejumlah kota di Iran sempat dikejutkan oleh aktifnya sistem pertahanan udara pada Kamis malam (23/4/2026).
- Aktivasi ini dilakukan sebagai respons atas terdeteksinya sejumlah drone kecil atau kendaraan udara mikro (MAV) di wilayah udara Iran.
- Suara dentuman dari sistem pertahanan terdengar di berbagai lokasi, menandakan kesiagaan penuh aparat militer.
TRIBUNNEWS.COM, TEHERAN - Warga Teheran dan beberapa kota lain di Iran sempat dikejutkan dengan aktifnya sistem pertahanan udara pada Kamis malam (23/4/2026) waktu setempat.
Langkah ini diambil oleh otoritas keamanan Iran sebagai respons terhadap munculnya sejumlah pesawat tak berawak atau drone berukuran kecil di wilayah udara mereka.
Berdasarkan laporan dari kantor berita Fars News Agency, suara dentuman dari sistem pertahanan udara terdengar nyaring di berbagai lokasi.
Hal ini terjadi sesaat setelah sejumlah kendaraan udara mikro (MAV) terdeteksi melintas di beberapa titik strategis di seluruh negeri.
Pakar militer Iran, Abdolreza Sediq, memberikan penjelasan mengenai situasi tersebut. Menurutnya, ada beberapa faktor tambahan yang menyebabkan aktivasi sistem pertahanan udara tetap tinggi meskipun saat ini sedang dalam periode gencatan senjata.
Sediq mengungkapkan bahwa para operator pertahanan udara saat ini berada dalam posisi siaga tertinggi. Ia menegaskan bahwa setiap pergerakan sekecil apa pun di langit Iran akan langsung mendapatkan respons dari militer.
"Operator tetap dalam kondisi 'siaga penuh' dan diwajibkan untuk menanggapi sinyal atau cahaya yang mencurigakan," ujar Sediq dalam keterangannya kepada media setempat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jet tempur seperti MiG-29 secara rutin dikerahkan sebagai bagian dari "cincin" pertahanan udara ibu kota. Pesawat-pesawat ini bertugas untuk memantau dan mencegat potensi ancaman dari drone yang masuk ke wilayah Teheran.
Selain faktor keamanan, Sediq mencatat bahwa periode gencatan senjata justru digunakan oleh militer untuk memperkuat infrastruktur mereka.
Waktu luang ini dipakai untuk melakukan perbaikan besar-besaran terhadap sistem yang ada.
"Periode gencatan senjata digunakan untuk merombak sistem pertahanan udara, memasang radar baru, dan menguji peralatan, sehingga aktivitas semacam itu (aktivasi sistem) menjadi 'tidak terhindarkan'," tambah Sediq.
Iran juga diketahui tengah melakukan transformasi besar dalam strategi pertahanan udara mereka.
Saat ini, mereka sedang berupaya mengimplementasikan model penyebaran jaringan baru yang dianggap lebih efektif menghadapi ancaman modern.
Sediq menjelaskan bahwa Iran sedang beralih dari sistem pusat yang disebut "laba-laba" menuju struktur "mosaik" yang lebih terdesentralisasi. Latihan terus dilakukan secara intensif untuk menstabilkan pendekatan baru ini di lapangan.
Di tengah situasi yang memanas, pihak Israel pun memberikan pernyataan resmi. Melalui sumber militer, mereka membantah terlibat dalam aktivitas udara yang terjadi di langit Iran baru-baru ini.
"Israel tidak menyerang Iran," tegas sumber militer tersebut kepada surat kabar Yedioth Ahronoth, sekaligus menepis tudingan adanya sabotase dalam insiden tersebut.
Iran bantah ada perpecahan
Brigadir Jenderal Esmail Qaani, Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menegaskan bahwa persatuan rakyat Iran di jalanan dan kekompakan pejabat negara merupakan dukungan tegas bagi Front Perlawanan dan para pejuang lintas batas dalam perang suci melawan musuh Amerika-Zionis.
Pernyataan ini merespons isu perpecahan di internal pemimpin Iran, sebagaimana yang diembuskan Presiden AS Donald Trump.
Dalam pesannya di platform X, Qaani menyatakan bahwa kekuatan Front Perlawanan bersumber dari “persatuan rakyat dan kesatuan otoritas.”
Ia menekankan bahwa dengan ketaatan penuh kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi, bangsa Iran akan membuat agresor menyesal. Ia merumuskan semboyan: “Satu Tuhan, satu pemimpin, satu bangsa, satu jalan; jalan kemenangan bagi Iran.”
Pernyataan Qaani sejalan dengan pesan Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, dan Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni Ejei.
Mereka sebelumnya bersama-sama mengecam komentar Presiden AS Donald Trump tentang adanya “perpecahan antara ekstremis dan moderat” di Iran.
Mereka menilai komentar itu sebagai provokasi yang tidak berdasar.
Pesan Qaani menekankan bahwa kekuatan Republik Islam terletak pada kehendak rakyat yang selaras dengan institusi negara, membentuk perisai tak tertembus bagi Poros Perlawanan.
Harmoni nasional ini, menurutnya, telah mengubah setiap upaya Amerika-Zionis—mulai dari pembunuhan tokoh, sanksi ilegal, hingga perang psikologis media—menjadi bahan bakar bagi ketahanan, kemandirian, dan momentum regional Iran.
Sebelumnya Presiden Donald Trump menyebut Iran saat ini terpecah menjadi dua kelompok.
"Iran sangat kesulitan menentukan siapa pemimpin mereka! Mereka tidak tahu! Pertikaian internal antara 'Kelompok Garis Keras,' yang telah kalah telak di medan perang, dan 'Kelompok Moderat,' yang sama sekali tidak moderat (tetapi mendapatkan rasa hormat!), sungguh gila!" tulis Trump di Truth Social, dilansir Kamis (23/4/2026).
CNN melaporkan bahwa AS mencurigai adanya perpecahan antara tim negosiasi Iran, yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan Korps Garda Revolusi Islam Iran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Bunga-api-dari-serangan-rudal-Iran-ke-wilayah-Israel.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.