Iran Vs Amerika Memanas
Minyak Tembus 106 Dolar AS! Trump Perketat Selat Hormuz, Iran Balas Tahan Kapal Asing
Harga minyak melonjak di atas 106 dolar AS per barel setelah Trump perketat Selat Hormuz dan Iran menahan kapal asing.
Ringkasan Berita:
- Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus 106 dolar AS per barel setelah Amerika Serikat dan Iran semakin bersitegang di Selat Hormuz.
- Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mewajibkan izin Angkatan Laut AS bagi kapal yang melintas memicu kepanikan pasar global.
- Iran merespons dengan menahan kapal asing, sementara lalu lintas pelayaran anjlok drastis dan kekhawatiran krisis energi berkepanjangan semakin besar.
TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak mentah Brent melonjak menembus 106 dolar AS per barel setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia.
Al Jazeera melaporkan, harga Brent mencapai 106,80 dolar AS per barel pada Jumat (24/4/2026) pukul 01.00 GMT, naik hampir 5 persen dibanding penutupan sebelumnya dan menjadi level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Lonjakan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz harus mendapat izin dari Angkatan Laut AS.
Trump juga memerintahkan militer AS untuk menghancurkan kapal Iran yang diduga memasang ranjau di jalur strategis tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menegaskan tidak ada kapal yang bisa masuk atau keluar dari selat tanpa persetujuan Washington.
“Ini ditutup rapat sampai Iran mampu membuat kesepakatan,” tulis Trump.
Iran Balas dengan Menahan Kapal
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penahanan dua kapal kargo asing, yakni MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas milik Yunani.
Iran menuduh kedua kapal itu beroperasi tanpa izin dan membahayakan keamanan maritim serta merusak sistem navigasi.
Baca juga: Pengamat: Ketahanan Energi RI Terancam, Konflik Iran–Amerika Serikat Picu Risiko Krisis Pasokan
Namun, otoritas Yunani membantah kapal Epaminondas ditahan dan menyebut kapal tersebut masih berada di bawah kendali kaptennya.
Lalu Lintas Selat Hormuz Nyaris Lumpuh
Selat Hormuz biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Kini, aktivitas pelayaran di jalur tersebut menurun drastis.
Menurut platform intelijen maritim Windward, hanya sembilan kapal komersial yang melintas pada Rabu, jauh di bawah rata-rata normal 129 kapal per hari sebelum perang dimulai pada akhir Februari.
Yahoo Finance melaporkan, hampir tertutupnya Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan besar terhadap aliran minyak dari produsen utama di Teluk Persia.
Pasar Global dan Saham Ikut Terguncang
Ketegangan ini langsung mengguncang pasar keuangan global.
Indeks S&P 500 turun 0,41 persen, sementara Nasdaq Composite melemah 0,89 persen.
Analis Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak mentah di Teluk Persia dapat berkurang hingga 14,5 juta barel per hari atau lebih dari 50 persen selama April.
Pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya.
Direktur Program Timur Tengah Center for Strategic and International Studies, Mona Yacoubian, mengatakan dampak konflik ini bisa terasa sangat panjang.
“Semakin lama ini berlanjut, semakin jelas bahwa dampak buruk konflik ini akan terasa selama berbulan-bulan, bahkan mungkin lebih lama,” ujarnya.
Baca juga: Zelensky Sebut Perang Iran Alihkan Fokus AS: Ukraina Tak Bisa Menunggu Masalah Iran Selesai
Kepala strategi investasi Saxo Markets, Charu Chanana, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak saat ini lebih dipicu gangguan pasokan fisik daripada sekadar ketegangan geopolitik.
Pasar kini menunggu apakah Washington dan Teheran akan kembali ke meja perundingan, atau justru membawa krisis energi global ke babak yang lebih berbahaya.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.