Iran Vs Amerika Memanas
Iran Kantongi Pendapatan Perdana dari Tol Selat Hormuz, Klaim AS soal Kerugian Dipertanyakan
Iran mulai raup pendapatan dari tol di Selat Hormuz, meski AS klaim Teheran merugi. Ketegangan memanas, dampak global dan harga minyak terancam naik.
Ringkasan Berita:
- Iran mulai memperoleh pemasukan dari tarif kapal di Selat Hormuz sejak Maret 2026, dengan potensi pendapatan mencapai 10–15 miliar dolar AS per tahun.
- Pernyataan Donald Trump soal kerugian Iran hingga 500 juta dolar AS per hari diragukan, karena Iran justru melaporkan adanya pemasukan dari jalur pelayaran yang sama.
- Kebijakan ini berpotensi menaikkan harga minyak dunia dan memperluas konflik geopolitik, di tengah pengawasan ketat militer AS di kawasan strategis tersebut.
TRIBUNNEWS.COM –Iran mengumumkan telah menerima pendapatan pertama dari pungutan tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Haji Babaei, menyebut dana tersebut telah resmi disetorkan ke rekening bank sentral.
“Pendapatan pertama dari biaya transit di Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral,” kata Babaei dalam komentar yang dimuat oleh kantor berita Tasnim.
Langkah ini menandai babak baru dalam kebijakan Iran yang mulai memonetisasi jalur strategis yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak global.
Iran diketahui mulai memberlakukan tarif pelayaran di Selat Hormuz sejak pertengahan Maret 2026.
Ketegangan yang meningkat antara Iran dengan Amerika Serikat yang juga merupakan sekutu utama Israel mendorong Teheran mengambil langkah strategis untuk memperkuat posisi ekonomi dan politiknya.
Iran memanfaatkan momentum ketegangan regional untuk mengoptimalkan kendali atas Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia, sekaligus sebagai respons terhadap tekanan, sanksi, dan kebijakan blokade yang diberlakukan oleh AS.
Selat Hormuz Jadi Sumber Pemasukan Baru Iran
Selama tarif tol diberlakukan Iran mematok skema biaya yang bervariasi, tergantung pada jenis kapal, volume muatan, serta tingkat risiko yang dinilai.
Sejumlah sumber menyebutkan, tarif yang dikenakan bisa mencapai hingga 2 juta dolar AS untuk satu kapal tanker, serta sekitar 1 dolar AS per barel untuk muatan minyak.
Anggota parlemen Iran, Alireza Salimi, mengonfirmasi bahwa pungutan tersebut telah mulai diterapkan. Namun, hingga kini belum ada rincian resmi terkait jumlah kapal yang telah melakukan pembayaran.
Baca juga: Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara di Teheran pada Kamis Malam, Ada Serangan Drone?
Meski begitu, parlemen Iran memperkirakan potensi pendapatan dari kebijakan ini dapat mencapai 10 hingga 15 miliar dolar AS per tahun.
Klaim AS soal Kerugian Dipertanyakan
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Di mana Presiden AS, Donald Trump yang sebelumnya mengklaim bahwa blokade pelayaran militer AS telah menyebabkan Iran mengalami kerugian hingga 500 juta dolar AS per hari.
Pernyataan ini merujuk pada tekanan terhadap ekspor minyak dan aktivitas ekonomi Iran di jalur strategis.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan perkembangan berbeda. Pemerintah Iran justru melaporkan telah menerima pemasukan dari pungutan tarif kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Kondisi ini memunculkan keraguan atas klaim kerugian besar yang disampaikan Washington, karena aktivitas pelayaran di jalur tersebut dinilai masih menghasilkan keuntungan bagi Iran.