Jumat, 24 April 2026

Lebih dari Setahun Ditahan, Dua Biksu Tibet Belum Diketahui Nasibnya

Samten Gyatso dan Jamyang Samten, dilaporkan hilang lebih dari satu tahun setelah ditangkap di wilayah Gansu.

Editor: Wahyu Aji
HO/Kolase/Tibet Times
Penangkapan dua biksu, Jamyang Samten dan Samten Gyatso. 

Ringkasan Berita:
  • Dua biksu Tibet, Samten Gyatso dan Jamyang Samten, dilaporkan hilang lebih dari satu tahun setelah ditangkap di wilayah Gansu, China, tanpa kejelasan lokasi maupun status hukum.
  • Penahanan diduga terkait aktivitas digital dan dukungan terhadap Dalai Lama, seperti penggunaan simbol Tibet dan komunikasi daring yang dianggap sensitif.
  • Hingga kini tidak ada dakwaan resmi, memicu kekhawatiran soal praktik penahanan tanpa komunikasi dan tekanan terhadap kebebasan berekspresi di Tibet.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penangkapan dua biksu Tibet, Samten Gyatso dan Jamyang Samten, menjadi sorotan setelah keduanya dilaporkan tidak diketahui keberadaannya selama lebih dari satu tahun.

Dikutip dari Bitter Winter, Jumat (24/4/2026), kasus ini dinilai mencerminkan tekanan berkelanjutan terhadap dukungan terhadap Dalai Lama di wilayah Tibet.

Kedua biksu tersebut berasal dari Biara Chu Khama di Kabupaten Machu (Maqu), Prefektur Otonomi Tibet Gannan, Provinsi Gansu, China.

 

Hingga kini, kondisi, lokasi, serta status hukum mereka belum diketahui. 

Tidak Ada Dakwaan Resmi

Penangkapan keduanya terjadi dalam situasi berbeda.

Salah satu biksu dilaporkan ditahan langsung dari biara, sementara yang lain dipanggil ke kantor polisi dengan alasan mengambil kembali telepon genggam yang sebelumnya disita.

Namun, setelah tiba, ia justru ditahan dan tidak kembali sejak saat itu.

Tanggal pasti penangkapan keduanya tidak dapat dipastikan, seiring terbatasnya akses komunikasi dengan pihak terkait.

Meski tidak ada dakwaan resmi yang diumumkan, sejumlah sumber menduga penahanan tersebut berkaitan dengan materi yang ditemukan di ponsel mereka, termasuk gambar bendera Tibet.

Sebelumnya, kedua biksu juga dilaporkan telah beberapa kali menjalani interogasi.

Samten Gyatso disebut berada di bawah pengawasan karena aktivitas daring yang dianggap sensitif.

Ia menggunakan gambar Dalai Lama sebagai latar belakang akun WeChat, yang kemudian memicu penggerebekan di tempat tinggalnya.

Ia juga pernah diperiksa karena menulis penghormatan singkat terkait peringatan Hadiah Nobel Perdamaian Dalai Lama.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved