Iran Vs Amerika Memanas
AS: Blokade Iran di Selat Hormuz Sama dengan 'Senjata Nuklir Ekonomi'
Menteri Luar Negeri AS menyebut blokade Iran terhadap Selat Hormuz sama seperti senjata nuklir ekonomi yang menekan dan bisa menghancurkan dunia.
Menurutnya, jika Iran memiliki senjata nuklir, maka negara tersebut akan semakin sulit dibendung dalam mendukung kelompok-kelompok di kawasan seperti Hizbullah dan Hamas.
Sementara itu, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden AS, Donald Trump, telah meninjau proposal terbaru Iran terkait pembukaan Selat Hormuz dan penghentian konflik.
Namun, laporan menyebutkan bahwa Trump belum puas dengan tawaran tersebut, terutama karena tidak secara langsung menyentuh pembongkaran program nuklir Iran.
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir dan menolak tuntutan AS untuk menghentikan program nuklirnya.
Blokade Iran di Selat Hormuz Mengguncang Harga Minyak
Harga minyak naik pada hari Selasa, dengan minyak mentah Brent mencapai sekitar 111 USD per barel, setelah naik 2,8 persen pada hari Senin, sementara minyak mentah West Texas Intermediate melampaui 97 USD, karena pemerintahan AS mempertimbangkan proposal baru dari Teheran untuk mengakhiri perselisihan tersebut.
Terlepas dari upaya diplomatik, blokade laut di Selat Hormuz tetap lebih ketat dari sebelumnya, dan jalur air yang dilalui seperlima pasokan energi dunia itu telah menjadi seperti jalur mati, menimbulkan kekhawatiran serius tentang krisis inflasi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ketegangan pasar masih berlanjut meski Presiden AS Donald Trump dikabarkan mengadakan pertemuan khusus untuk membahas proposal Iran. Namun, ia tetap menegaskan tidak akan melanggar “garis merah”, terutama terkait pencegahan pengembangan nuklir Iran.
Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir berhenti total, sehingga pasokan minyak dan gas global terganggu. Akibatnya, harga energi naik tajam dan kekhawatiran inflasi dunia semakin besar.
Secara diplomatik, Iran melalui Menlu Abbas Araqchi menyampaikan syarat penyelesaian konflik, seperti pencabutan blokade laut AS, aturan baru pelayaran, dan jaminan tidak ada serangan militer. Namun, AS masih meragukan tawaran tersebut.
Menurut laporan The Wall Street Journal, AS akan menyiapkan usulan tandingan, sementara isu utama tetap pada penolakan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium. Menlu AS Marco Rubio juga menegaskan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz tidak dapat diterima.
Sementara itu, blokade laut semakin ketat. Pasukan AS bahkan mencegat kapal tanker Iran di dekat Sri Lanka dan memaksa mereka berbalik. Kondisi ini membuat Iran kesulitan menyimpan minyak, bahkan produksi mulai berkurang.
Para analis menilai jika situasi ini berlanjut, kekurangan pasokan bisa berlangsung lama. Namun, jika terjadi kesepakatan, harga energi bisa turun dengan cepat.
Perang AS-Israel Vs Iran
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, yang memicu pecahnya konflik baru di kawasan Timur Tengah.
Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas, lalu digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan Majelis Ahli Ulama Iran.
Serangan itu terjadi dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa. Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa programnya hanya untuk kepentingan energi sipil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menteri-Luar-Negeri-AS-Marco-Rubio-234234243.jpg)