Rabu, 29 April 2026

Keluar dari OPEC dan OPEC+, Uni Emirat Arab Janji Tak Ugal-ugalan Geber Produksi Minyak

Dengan keluar dari OPEC, Uni Emirat Arab tidak lagi terikat oleh aturan batasan produksi minyak.

Tayang:
Freepik
BURJ KHALIFA - Foto ini diambil dari Freepik pada Kamis (12/6/2025) yang menampilkan Burj Khalifa, Gedung Pencakar Langit Tertinggi di Dubai, Uni Emirat Arab. Negara ini menyatakan keluar dari organisasi negara produsen minyak, OPEC per 1 Mei 2026. 

Keluar dari OPEC dan OPEC+, Uni Emirat Arab Janji Tak Ugal-ugalan Geber Produksi Minyak
 

Ringkasan Berita:
  • Dengan keluar dari OPEC, Uni Emirat Arab, produsen minyak terbesar ketujuh di dunia, memperoleh otonomi penuh atas tingkat produksinya.
  • Hal ini memungkinkan negara tersebut untuk berupaya mencapai target yang telah mereka tetapkan, yaitu meningkatkan kapasitas hingga 5 juta barel per hari (bpd) pada tahun 2027.
  • Dengan keluar dari keanggotaan, EUA tidak lagi terikat oleh batasan kuota produksi OPEC+.

 

TRIBUNNEWS.COM - Setelah menjadi anggota kunci dari organisasi produsen minyak terbesar di dunia selama lima dekade, Uni Emirat Arab (UEA), Selasa (28/4/2026) mengumumkan kalau mereka akan menarik diri dari forum produsen minyak OPEC dan OPEC+ per 1 Mei. 

Media pemerintah menyebutnya sebagai keputusan strategis oleh negara produsen utama minyak tersebut.
 
"Keputusan ini mencerminkan visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA serta profil energi yang terus berkembang," kata kantor berita resmi WAM.

Baca juga: Media Israel: Tel Aviv Jajaki Cara untuk Mundur dari Perang Lawan Iran, UEA Sudah Gabung Perang?

Dalam pengumuman keputusan tersebut, Menteri Energi dan Infrastruktur UEA, Suhail bin Mohammed Al Mazrouei, dalam sebuah pernyataan di platform X (dulu twitter), mengatakan, negaranya berkomitmen untuk tidak semena-mena memproduksi minyak demi kestabilan pasar.

“Keputusan UEA untuk keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencerminkan evolusi yang didorong oleh kebijakan yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang. Kami berterima kasih kepada OPEC dan negara-negara anggotanya atas kerja sama konstruktif selama beberapa dekade. Kami tetap berkomitmen pada keamanan energi dengan menyediakan pasokan yang andal, bertanggung jawab, dan rendah karbon, sambil mendukung pasar global yang stabil.”

Alasan Keluar dari OPEC

UEA, salah satu produsen minyak terbesar di dunia, sebelumnya telah menolak kuota produksi yang ditetapkan oleh negara-negara OPEC

Mereka menyebutkan "kepentingan nasional" dan komitmen untuk memenuhi "kebutuhan mendesak pasar" sebagai dasar keputusan mereka.

“Keputusan ini diambil setelah peninjauan komprehensif terhadap kebijakan produksi UEA serta kapasitasnya saat ini dan di masa mendatang. Keputusan ini didasarkan pada kepentingan nasional kita dan komitmen kita untuk berkontribusi secara efektif dalam memenuhi kebutuhan pasar yang mendesak,” demikian pernyataan yang dimuat oleh Kantor Berita Emirates (Emirates News Agency).

Ditambahkan pula bahwa langkah tersebut mencerminkan evolusi yang didorong oleh kebijakan dalam pendekatan UEA, meningkatkan fleksibilitas untuk menanggapi dinamika pasar sambil terus berkontribusi pada stabilitas dengan cara yang terukur dan bertanggung jawab.

Menggambarkan Uni Emirat Arab sebagai "produsen tepercaya dari beberapa barel minyak paling hemat biaya dan rendah karbon di dunia," UEA mengatakan akan bertindak secara bertanggung jawab dengan membawa produksi tambahan ke pasar secara bertahap dan terukur, sesuai dengan permintaan dan kondisi pasar.

Pernyataan itu juga menyoroti kontribusi signifikan UEA dan "pengorbanan yang lebih besar" untuk kepentingan bersama selama masa keanggotaannya dalam aliansi OPEC dan OPEC+.

Namun, pernyataan itu mengatakan bahwa sudah saatnya untuk fokus pada kepentingan nasional dan komitmen kepada investor, pelanggan, mitra, dan pasar energi global.

Keputusan ini diambil setelah ketegangan berkepanjangan antara investasi besar-besaran UEA dalam kapasitas produksi dan kebijakan organisasi yang menerapkan pemotongan produksi ketat untuk menstabilkan harga. 

Langkah ini memungkinkan negara tersebut untuk mengejar target peningkatan kapasitas menjadi 5 juta barel per hari pada tahun 2027, tanpa terikat oleh batasan kuota OPEC+.

Setelah bergabung dengan OPEC pada tahun 1967, keluarnya UEA menandai berakhirnya hampir enam dekade keanggotaan dan terjadi setelah serangkaian perselisihan dengan negara-negara anggota lain mengenai kuota produksi dan target kapasitas.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved