Iran Vs Amerika Memanas
Sinyal Damai Muncul, Iran Dilaporkan Tinjau MoU Perdamaian dengan AS meski Banyak yang Skeptis
Isu perdamaian di Timur Tengah kembali terdengar setelah Iran meninjau MoU perdamaian dengan Amerika Serikat (AS).
Ringkasan Berita:
- Angin segar kembali terasa di Timur Tengah setelah muncul kabar bahwa Iran dan Amerika Serikat (AS) tengah memfinalisasi nota kesepahaman (MoU) sebanyak 14 poin.
- Dokumen tersebut dirancang sebagai kerangka kerja awal untuk menghentikan perang dan membuka pintu bagi negosiasi nuklir yang lebih komprehensif.
- Dalam draf kesepakatan tersebut, Iran diharuskan untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas pengayaan uraniumnya dan AS menjanjikan sanksi ekonomi bakal dicabut.
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan tengah berada di ambang kesepakatan damai.
Kedua negara yang berperang sejak 28 Februari 2026 itu, tengah memfinalisasi nota kesepahaman (MoU) sebanyak 14 poin.
Berdasarkan laporan Axios, dokumen tersebut dirancang sebagai kerangka kerja awal untuk menghentikan perang dan membuka pintu bagi negosiasi nuklir yang lebih komprehensif.
Dalam draf kesepakatan tersebut, Iran diharuskan untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas pengayaan uraniumnya.
Sebagai imbalannya, pemerintahan Presiden Donald Trump setuju untuk mencabut sanksi ekonomi yang melumpuhkan dan mencairkan aset Iran senilai miliaran dolar yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Salah satu poin paling krusial adalah normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Kedua belah diminta sepakat untuk secara bertahap mengangkat blokade dan pembatasan maritim guna memulihkan arus perdagangan energi global yang sempat terhenti akibat konflik.
Perlu diketahui, angin segar ini datang setelah AS dan Iran melakukan pembicaraan selama 24 jam terakhir.
Para pejabat AS mengatakan mereka mengharapkan tanggapan dari Teheran dalam 24-48 jam ke depan.
"Kita sudah hampir sampai, tetapi belum ada kesepakatan," kata seorang pejabat AS, Rabu (6/5/2026).
Sementara Trump menyampaikan nada optimis tentang peluang tercapainya kesepakatan.
Baca juga: Kapal Tanker Iran Lolos Masuk ke Indonesia, 2 Kapal Pertamina Tak Bisa Lewat Selat Hormuz
"Kita berurusan dengan orang-orang yang sangat ingin mencapai kesepakatan," ucap Trump dalam sebuah acara di Gedung Putih.
"Kita akan lihat apakah mereka setuju atau tidak, dan jika mereka tidak setuju, mereka akan segera setuju setelah itu," lanjutnya.
Menurut Trump, kesepakatan damai dengan Iran bisa tercapai dalam waktu seminggu.
Meski begitu, banyak pejabat di AS yang lebih skeptis bahwa kesepakatan damai dengan Iran dapat segera tercapai.
Syarat dari Iran
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya tidak akan sudi menandatangani dokumen apa pun kecuali kesepakatan tersebut bersifat "adil dan komprehensif".
Pernyataan tegas ini muncul usai Araghchi melakukan pertemuan tertutup dengan diplomat senior China, Wang Yi, pada Rabu (6/5/2026).
"Kami akan berjuang habis-habisan untuk melindungi hak dan kepentingan sah kami," tegas Araghchi, mengutip Reuters.
Sementara Anggota Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei menggambarkan MoU tersebut sebagai daftar keinginan Amerika.
Lalu Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf malah terlihat "mengejek" laporan yang mengindikasikan kedua negara telah dekat.
Baca juga: Trump Klaim Iran Setuju Stop Program Nuklir saat Teheran Masih Kaji Proposal AS
Dalam media sosialnya, Ghalibaf menyebut "Operasi Trust Bro telah gagal".
Ghalibaf mengatakan laporan tersebut hanyalah upaya propaganda AS setelah kegagalannya membuka Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.