Iran Vs Amerika Memanas
Arab Saudi Usir Jet Tempur AS, Ogah Jadi Tameng Provokasi Trump
Itu dilakukan Arab Saudi sebagai protes sekaligus perlindungan diri dari kemungkinan serangan balasan Iran akibat Project Freedom yang digagas Trump.
Ringkasan Berita:
- Project Freedom, sebuah operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, yang diinisiasi Presiden Donald Trump, memicu respons tegas Arab Saudi
- Arab khawatir manuver militer AS tersebut justru akan memancing serangan balasan dari Iran terhadap infrastruktur di negara-negara Teluk
- Iran saat ini memblokade total akses Selat Hormuz
TRIBUNNEWS.COM - Arab Saudi secara tegas menolak memberikan izin bagi militer Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan pangkalan udara maupun wilayah udaranya dalam mendukung Project Freedom, sebuah operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz yang diinisiasi Presiden Donald Trump.
Langkah Riyadh ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam bahwa manuver militer AS tersebut justru akan memancing serangan balasan dari Iran terhadap infrastruktur di negara-negara Teluk dan memicu kembali konflik bersenjata yang lebih luas.
Pejabat Saudi dilaporkan geram dengan pengumuman mendadak Presiden Trump terkait operasi tersebut.
Sebagai bentuk protes sekaligus perlindungan diri, Kerajaan Arab Saudi menginformasikan kepada AS bahwa mereka tidak mengizinkan jet tempur atau pesawat pendukung AS terbang dari Pangkalan Udara Prince Sultan, tenggara Riyadh.
Baca juga: Embargo Laut AS ke Iran Makin Keras, Krisis Ekonomi Mulai Terlihat Nyata
"Cara Project Freedom dieksekusi sangat berisiko dan bisa memicu eskalasi. Negara-negara Teluk bisa menderita karena serangan besar," ujar seorang pejabat Timur Tengah seperti diberitakan NBC News.
Hanya 36 jam setelah operasi diumumkan melalui media sosial, Trump akhirnya menghentikan sementara misi tersebut.
Kuwait pun mengambil langkah serupa dengan mencabut hak penggunaan pangkalan dan wilayah udaranya bagi AS hingga kebijakan tersebut dibatalkan.
Kondisi di Selat Hormuz saat ini dilaporkan sangat genting. Berdasarkan data dari S&P dan Bloomberg, tidak ada lalu lintas kapal yang teramati selama tiga hari berturut-turut di jalur tersebut.
Padahal, sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada Februari lalu, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia bergantung pada selat ini.
Iran saat ini memblokade total akses selat. Kapal-kapal komersial dalam situasi ketidakpastian meskipun gencatan senjata telah dideklarasikan pada 8 April lalu.
Berbeda dengan tetangganya, Arab Saudi memiliki posisi tawar yang membuat mereka lebih berani menolak keinginan AS.
Riyadh memiliki pipa minyak East-West sepanjang 750 mil yang membentang dari Teluk Persia ke Laut Merah.
Jalur pipa ini memungkinkan Saudi mengekspor jutaan galon minyak setiap hari tanpa harus melewati Selat Hormuz yang berbahaya.
Hal ini tentu saja memberi keuntungan taktis bagi Kerajaan jika selat tersebut tetap ditutup atau terlalu berisiko untuk dilintasi.
Sejauh ini, Gedung Putih belum bisa memastikan kapan atau apakah "Project Freedom" akan dilanjutkan kembali.
Kendati demikian, fokus utama saat ini beralih pada meja perundingan disertai gertakan yyang disampaikan oleh Trump kepada Iran agar mau meneken kesepakatan.
Namun, gertakan Trump tidak cukup kuat untuk meyakinkan sekutu dekatnya di Teluk.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, baru saja bertemu dengan pemimpin Iran dan mendesak penghentian perang segera.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Penutupan-Selat-Hormuz-OK.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.