5 Populer Internasional: Gencatan Senjata 3 Hari Rusia-Ukraina - Penumpang Hondius Takut Dikucilkan
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Donald Trump mengumumkan gencatan senjata tiga hari antara Rusia dan Ukraina
Ringkasan Berita:
- Donald Trump mengumumkan gencatan senjata tiga hari antara Rusia dan Ukraina untuk menghormati Hari Kemenangan.
- Amerika Serikat memperketat embargo laut terhadap Iran sehingga memicu krisis ekonomi dan ketegangan militer di Teluk.
- Penumpang kapal pesiar MV Hondius asal Spanyol takut dikucilkan karena adanya kasus hantavirus di kapal.
TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.
Presiden AS, Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan telah memberlakukan gencatan senjata sementara antara Rusia dan Ukraina.
Sementara itu, penumpang kapal pesiar MV Hondius asal Spanyol dilanda kekhawatiran terkait wabah hantavirus.
Berikut rangkuman berita populer internasional selengkapnya.
1. Resmi! Trump Umumkan Gencatan Senjata Rusia dan Ukraina, Kyiv Beri Pesan Menyinggung
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump secara mendadak mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari antara Rusia dengan Ukraina.
Gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina ini berlangsung sejak tanggal 9 hingga 11 Mei 2026.
Menurut Trump, gencatan senjata ini dilakukan untuk menghormati perayaan Hari Kemenangan Rusia pada 9 Mei 2026.
"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa akan ada GENCATAN SENJATA TIGA HARI (9, 10, dan 11 Mei) dalam Perang antara Rusia dan Ukraina," tulis Trump di Truth Social, mengutip Kyiv Independent.
"Perayaan di Rusia adalah untuk Hari Kemenangan, tetapi, demikian pula di Ukraina, karena mereka juga merupakan bagian besar dan faktor penting dalam Perang Dunia II."
"Gencatan senjata ini akan mencakup penghentian semua aktivitas militer, dan juga pertukaran tahanan sebanyak 1.000 orang dari masing-masing negara," lanjut Trump.
Trump juga mengklaim kesepakatan gencatan senjata ini telah disetujui Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.
Namun, meski mendapatkan jeda perang sebentar, Zelensky malah mengeluarkan pernyataan yang membuat Rusia tersinggung.
Dalam sebuah deklarasi, Zelensky mengizinkan Rusia untuk mengadakan parade Hari Kemenangan di Moskow.
Deklarasi itu juga menyatakan Kyiv tidak akan menyerang Lapangan Merah selama parade berlangsung.
"Selama berlangsungnya parade (dimulai pukul 10.00 pagi waktu Kyiv pada 9 Mei 2026), area Lapangan Merah akan dikecualikan dari rencana penggunaan senjata Ukraina," bunyi deklarasi yang dikeluarkan Ukraina.
2. Embargo Laut AS ke Iran Makin Keras, Krisis Ekonomi Mulai Terlihat Nyata
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Gedung Putih menegaskan bahwa embargo terhadap Teheran “sangat berhasil” dalam menekan perekonomian negara tersebut.
Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menyatakan masih “mempertimbangkan semua opsi” di tengah eskalasi militer yang semakin meningkat di kawasan Teluk.
"Saya seharusnya menerima pesan (dari Iran) malam ini, jadi kita lihat saja bagaimana kelanjutannya," kata Trump kepada wartawan di Washington, Jumat (8/5/2026).
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei mengklarifikasi pada hari Jumat bahwa Teheran masih mempelajari proposal Amerika dan akan mengumumkan tanggapannya setelah keputusan akhir tercapai.
AS Mengawasi Iran di Dekat Selat Hormuz
Di saat bersamaan, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi pengerahan kekuatan laut tambahan, termasuk kapal perusak USS Truxton, USS Rafael Peralta, dan USS Mason, yang saat ini beroperasi di wilayah Laut Arab dan Teluk sebagai bagian dari operasi pengamanan jalur pelayaran internasional.
CENTCOM menyebut operasi tersebut bertujuan mendukung blokade laut terhadap Iran dengan melakukan pengawasan dan pencegatan kapal-kapal yang diduga melanggar pembatasan ekonomi.
Dalam pernyataannya, militer AS mengklaim telah mengalihkan sedikitnya 57 kapal komersial dan menonaktifkan beberapa kapal lainnya untuk mencegah aktivitas keluar-masuk pelabuhan Iran.
“Operasi ini diperlukan untuk menjaga keamanan jalur perdagangan energi global,” demikian pernyataan yang dikutip dari akun resmi CENTCOM di platform X, Jumat (8/5/2026).
CENTCOM juga mengklaim beberapa kapal perusak mereka sempat menjadi target serangan rudal dan drone Iran saat melintas di kawasan tersebut, yang kemudian dibalas dengan serangan presisi ke sejumlah target di Iran.
Teheran sendiri belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.
3. Meski Tak Tampil di Publik, Intelijen AS Yakin Mojtaba Khamenei Terlibat dalam Strategi Perang Iran
Badan intelijen Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, terlibat dalam membentuk strategi perang Teheran dan negosiasi dengan Washington.
Diberitakan Anadolu Agency, Mojtaba Khamenei diyakini terlibat meskipun tetap tidak tampil di depan publik setelah mengalami cedera selama perang.
Sumber-sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS, mengatakan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar otoritas yang saat ini dijalankan Khamenei dalam struktur kepemimpinan Iran setelah serangan dalam perang tersebut menewaskan beberapa pejabat senior, termasuk ayahnya yakni Ali Khamenei.
Para pejabat AS dilaporkan meyakini bahwa Mojtaba Khamenei terus berkomunikasi melalui kurir tepercaya dan kontak langsung saat pulih dari cedera yang meliputi luka bakar dan luka akibat pecahan peluru.
Sementara itu, para pejabat Iran bersikeras bahwa Mojtaba Khamenei pulih dengan baik.
Mazaher Hosseini, kepala protokol di kantor pemimpin tertinggi, mengatakan pada Jumat (8/5/2026) bahwa kondisi Khamenei telah membaik dan menepis spekulasi seputar kesehatannya.
Laporan juga menyebutkan bahwa penilaian intelijen AS menemukan kemampuan militer Iran telah melemah tetapi tidak sepenuhnya hilang akibat serangan Amerika, dengan banyak peluncur rudal yang masih beroperasi.
Ditambahkan pula bahwa anggota senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf diyakini menangani sebagian besar operasi harian pemerintah, sementara upaya diplomatik dengan pemerintahan Trump terus berlanjut.
4. Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius Takut Dikucilkan, Khawatir Disebut sebagai Pembawa Hantavirus
Sebagian penumpang kapal pesiar MV Hondius asal Spanyol dilanda kekhawatiran terkait wabah hantavirus.
Kapal pesiar MV Hondius - yang beberapa penumpangnya telah meninggal atau jatuh sakit akibat spesies hantavirus langka - berangkat dari negara kepulauan Tanjung Verde dan menuju Kepulauan Canary di Spanyol, sebuah perjalanan selama 3 hingga 4 hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi lima kasus infeksi dan tiga kematian, memperingatkan lebih banyak kasus masih dapat muncul karena virus ini dapat memiliki masa inkubasi hingga enam minggu, tetapi secara tegas menolak kemungkinan pandemi.
Kapal pesiar Belanda itu kini sedang menuju Tenerife, di Kepulauan Canary, dan diperkirakan akan tiba pada Minggu, 10 Mei 2026.
Kapal tersebut dijadwalkan untuk berlabuh di lepas pantai, dan 144 penumpangnya akan dipindahkan ke bandara menggunakan perahu.
Sebanyak 14 penumpang berkebangsaan Spanyol yang berada di kapal akan dipindahkan ke Rumah Sakit Gómez Ulla di Madrid, di mana mereka akan dikarantina selama 45 hari.
Sementara, awak kapal lainnya akan dipindahkan ke negara masing-masing.
Kini seorang pria Spanyol mengaku takut bagaimana mereka akan diterima kembali di daratan.
Mereka telah melihat laporan berita sensasional dan meme-meme yang acuh tak acuh yang mengucilkan mereka yang berada di atas kapal MV Hondius.
Hal ini disampaikan dua penumpang kepada Associated Press melalui telepon dari kapal tersebut pada Jumat (8/5/2026).
“Anda membuka media sosial - mereka ingin meledakkan kapal itu. Mereka ingin menenggelamkan kapal itu,” kata seorang pria Spanyol.
Dia mengatakan dia khawatir akan distigmatisasi sebagai pembawa virus yang harus dihindari - atau lebih buruk lagi.
5. Pengamat: Persepsi ‘Menang Konflik’ Hambat Peluang Kesepakatan Damai Iran dan AS
Peluang tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat dinilai masih terbuka, meski proses negosiasi menghadapi tantangan besar akibat perbedaan persepsi politik di kedua pihak.
Direktur Program Studi Timur Tengah di George Washington University, Sina Azodi, mengatakan baik Iran maupun Amerika Serikat sama-sama serius untuk mencapai kesepakatan.
Namun, masing-masing pihak merasa berada dalam posisi unggul setelah konflik yang terjadi.
“Baik Iran maupun Amerika datang ke meja perundingan dengan persepsi bahwa mereka baru saja memenangkan perang, sehingga merasa tidak terlalu perlu memberikan konsesi,” ujar Azodi kepada Al Jazeera.
Menurut Azodi, Iran memang mengalami banyak tekanan dan serangan selama konflik berlangsung. Namun, dari sudut pandang Teheran, tujuan utama mereka adalah mempertahankan keberlangsungan negara dan pemerintahan, yang dinilai berhasil dicapai.
“Iran menerima banyak serangan, tetapi pada akhirnya tujuan mereka adalah bertahan dalam konflik, dan itu berhasil mereka lakukan,” katanya.
Sementara di pihak Amerika Serikat, pernyataan Presiden Donald Trump terkait penghancuran kekuatan angkatan laut Iran dan pelemahan kapasitas rudalnya disebut memperkuat keyakinan di Washington bahwa AS berada di pihak pemenang.
Azodi menilai, salah satu kunci utama untuk membuka jalan menuju kesepakatan baru adalah penyelesaian isu program pengayaan uranium Iran.
“Saya percaya jika persoalan kapasitas pengayaan uranium Iran bisa diselesaikan, misalnya melalui penghentian sementara pengayaan uranium dalam jangka waktu yang disepakati kedua pihak, maka peluang tercapainya kesepakatan akan sangat besar,” ujarnya.
Isu pengayaan uranium selama ini menjadi salah satu titik utama perbedaan antara Iran dan Amerika Serikat dalam pembahasan program nuklir Teheran.
(Tribunnews.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.