Iran Vs Amerika Memanas
Ansarallah Curiga Trump Tolak Tanggapan Iran setelah Telepon Netanyahu: Sudah Bisa Ditebak
Wakil Kepala Kantor Media Ansarallah Yaman, Nasruddin Amer curiga penolakan Trump terhadap tanggapan Iran buntut telepon Netanyahu.
Tanpa basa-basi, Trump menyebut dokumen tersebut sebagai "sampah" dan "tidak pantas".
Berdasarkan sumber internal Gedung Putih, Iran mengajukan sejumlah syarat berat yang dianggap mustahil untuk dipenuhi Washington.
Pihak AS menilai tuntutan ini hanyalah taktik Iran untuk menghilangkan posisi tawar Washington sebelum perundingan inti dimulai, terutama tentang pengayaan uranium yang menjadi kekhawatiran utama sekutu AS, termasuk Israel.
Saat menanggapi kebuntuan ini, Trump dijadwalkan menggelar pertemuan darurat dengan tim keamanan nasionalnya.
Baca juga: Terjepit Perang Iran, Trump Ngemis Bantuan ke Xi Jinping demi Bisa Bujuk Teheran
Salah satu agenda utamanya adalah kemungkinan menghidupkan kembali "Project Freedom" — sebuah operasi militer agresif untuk mengawal kapal-kapal tanker melewati Selat Hormuz guna mematahkan blokade Iran.
"Jika mereka tidak setuju untuk memberikan apa yang telah disepakati, kita harus kembali membombardir mereka habis-habisan," tegas Trump.
Ketidakpastian ini langsung direspons negatif oleh pasar global.
Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak hampir 3 persen pada Senin (11/5/2026) pagi karena kekhawatiran akan pecahnya kembali perang terbuka yang dapat menutup jalur logistik energi utama di Selat Hormuz.
Meskipun Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa pemerintah masih memberikan "setiap kesempatan bagi diplomasi", namun pergerakan militer di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
Komando Pusat AS (CENTCOM) dilaporkan terus memperketat pengawasan di perairan Arab, bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi dalam hitungan hari.
(Tribunnews.com/Whiesa)