Konflik China dan AS
Tarif, Chip, hingga Rare Earth: Timeline Lengkap Perang Dagang AS-China
Perang dagang AS-China kini bukan lagi sekadar perebutan pasar ekspor-impor namun berkembang menjadi pertarungan pengaruh.
Tarif, Chip, hingga Rare Earth: Timeline Lengkap Perang Dagang AS-China
Ringkasan Berita:
- Hubungan dagang AS-China berkembang pesat sejak China masuk WTO pada 2001, namun berubah menjadi rivalitas ekonomi dan teknologi.
- Perang dagang memuncak pada era Donald Trump melalui tarif besar-besaran yang dibalas China dengan kebijakan serupa.
- Konflik kini meluas dari perdagangan ke sektor teknologi, keamanan nasional, hingga rantai pasok global.
TRIBUNNEWS.COM - Hubungan ekonomi Amerika Serikat dan China yang selama puluhan tahun menjadi motor perdagangan global kini berubah menjadi rivalitas strategis penuh ketegangan.
Konflik dagang kedua negara berkembang dari isu tarif menjadi persaingan teknologi, keamanan nasional, hingga perebutan pengaruh ekonomi dunia.
Baca juga: China-Rusia Pamer Kemesraan, Sepakat Bangun Pipa Power Of Siberia-2 untuk Ekspor Gas Alam
Persaingan kedua negara ini kembali menjadi sorotan saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan kembali mengunjungi China pada 13-15 Mei 2026.
Berikut timeline lengkap perjalanan konflik dagang AS-China:
1979: Awal Normalisasi Hubungan
Amerika Serikat dan China resmi menormalisasi hubungan diplomatik. Di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, China mulai membuka diri terhadap perdagangan dan investasi internasional.
1986: China Ajukan Masuk Sistem Perdagangan Global
Beijing mengajukan permohonan bergabung kembali ke General Agreement on Tariffs and Trade (GATT), cikal bakal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
2001: China Resmi Masuk WTO
China resmi menjadi anggota WTO pada Desember 2001. Langkah ini membuka lonjakan perdagangan global antara AS dan China.
Saat itu banyak pihak di Barat berharap China akan menjadi lebih terbuka secara ekonomi dan politik.
Namun reformasi yang diharapkan dinilai tidak sepenuhnya terwujud.
2000–2007: Perdagangan Tumbuh Pesat
Perdagangan dengan China meningkatkan daya beli rumah tangga AS hingga sekitar US$1.500 per tahun karena harga barang impor lebih murah.
Namun di sisi lain, banyak industri manufaktur AS mulai kehilangan pekerjaan akibat relokasi produksi ke China.
Era George W. Bush dan Barack Obama
Pemerintahan George W. Bush mulai memberlakukan tarif terhadap sejumlah produk China terkait tuduhan dumping dan subsidi.
Di era Barack Obama, AS juga menerapkan tarif pada ban asal China serta memblokir beberapa akuisisi perusahaan China atas alasan keamanan nasional.
Obama juga mendorong Trans-Pacific Partnership (TPP) untuk membatasi pengaruh ekonomi China.
Era Trump: Perang Dagang Dimulai
2017: Trump Keluar dari TPP
Tak lama setelah menjabat, Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari TPP dan mulai mengadopsi kebijakan perdagangan yang lebih proteksionis terhadap China.
2018: Perang Dagang Resmi Pecah
Defisit perdagangan AS terhadap China mencapai rekor US$377 miliar.
Trump mulai memberlakukan tarif besar terhadap panel surya, mesin cuci, baja, dan ratusan miliar dolar produk impor China.
China membalas dengan tarif terhadap 128 produk AS termasuk daging babi dan aluminium.
Juli–September 2018: Eskalasi Besar
AS mengenakan tarif 25 persen terhadap barang China senilai US$50 miliar dan tambahan 10 persen untuk barang senilai US$200 miliar.
China membalas dengan menargetkan kedelai dan otomotif asal AS.
2019: Tarif Naik Lagi
Tarif AS terhadap daftar produk senilai US$200 miliar dinaikkan menjadi 25 persen.
Ketegangan memicu gejolak besar di pasar global.
2020: “PHASE ONE DEAL”
Januari 2020: Kesepakatan Sementara
AS dan China menandatangani Phase One Deal.
China berjanji membeli tambahan produk dan jasa AS senilai US$200 miliar dalam dua tahun.
2020–2021: Pandemi Ganggu Kesepakatan
Pandemi COVID-19 dan gangguan logistik global membuat China hanya memenuhi sekitar 58 persen dari komitmen pembelian tersebut.
Sebagian besar tarif tetap dipertahankan AS.
ERA BIDEN: PERANG BERGESER KE TEKNOLOGI
2022: Fokus ke Semikonduktor
Pemerintahan Joe Biden mengalihkan fokus konflik dari perdagangan biasa ke dominasi teknologi dan keamanan nasional.
AS meloloskan CHIPS and Science Act dan membatasi ekspor semikonduktor canggih ke China.
Artinya, perang dagang kini tidak lagi sekadar soal defisit perdagangan, tetapi juga perebutan kendali teknologi masa depan seperti AI, chip, dan industri strategis.
2023: Strategi “Friend-shoring”
Defisit perdagangan AS-China mulai menurun karena rantai pasok dipindahkan ke negara lain seperti Meksiko dan Vietnam.
Strategi ini dikenal sebagai near-shoring atau friend-shoring.
Artinya, AS mulai mengurangi ketergantungan langsung pada manufaktur China tanpa sepenuhnya memutus hubungan ekonomi.
Mei 2024: Tarif Teknologi Diperketat
- Biden menaikkan tarif:
- Kendaraan listrik (EV): 100 persen
- Sel surya: 50 persen
- Semikonduktor: 50 persen
- Baja dan aluminium: 25 persen
- Langkah ini memperlihatkan AS semakin agresif melindungi industri strategis domestiknya dari dominasi China.
Era Kedua Trump: Konfrontasi Makin Tajam
Januari 2025: Tarif 145 Persen
Pada awal masa jabatan keduanya, Trump mengenakan tarif menyeluruh 145 persen terhadap hampir seluruh impor China.
China membalas dengan tarif 125 persen terhadap produk AS, yang praktis menghentikan ekspor pertanian Amerika ke China.
Oktober 2025: “Busan Truce”
Setelah pasar global terguncang dan rantai pasok dunia mengalami kepanikan, Trump dan Xi Jinping bertemu di Busan, Korea Selatan.
Keduanya menyepakati “Busan Truce” selama satu tahun untuk meredakan tekanan ekonomi global.
Tarif AS terhadap impor China diturunkan dari 57 persen menjadi 47 persen.
Awal 2026: Perdagangan Tetap Melemah
Meski ada gencatan sementara, perdagangan bilateral tetap menurun.
Perdagangan AS-China turun 11 persen secara tahunan pada awal 2026.
Ini menunjukkan konflik ekonomi kedua negara telah berubah menjadi rivalitas struktural jangka panjang yang sulit dipulihkan sepenuhnya.
Bukan Sekadar Perebutan Pasar
Perang dagang AS-China kini bukan lagi sekadar perebutan pasar ekspor-impor.
Konflik telah berkembang menjadi pertarungan pengaruh global antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Amerika Serikat berusaha mengurangi ketergantungan terhadap China dalam teknologi dan rantai pasok strategis, sementara China berupaya mempertahankan posisinya sebagai pusat manufaktur dan kekuatan ekonomi dunia.
Ketegangan ini juga berdampak luas terhadap ekonomi global, mulai dari inflasi, harga komoditas, rantai pasok, hingga pergeseran investasi ke negara-negara lain di Asia Tenggara dan Amerika Latin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-menyapa-Presiden-Tiongkok-Xi-Jinping-sebe.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.