Kamis, 14 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Sebut UEA “Pangkalan Musuh”, Ancam Serangan Lebih Besar di Timur Tengah

Iran menyebut UEA sebagai “pangkalan musuh” dan mengancam serangan lebih besar di tengah perang Timur Tengah.

Tayang:

Reuters melaporkan, salah satu serangan diduga menyasar fasilitas minyak di Pulau Lavan, Iran selatan, pada awal April 2026.

Iran tidak secara resmi menyalahkan UEA, namun media pemerintah dan sejumlah analis dekat IRGC berulang kali mengaitkan Abu Dhabi dengan serangan tersebut.

The Guardian melaporkan, keterlibatan UEA dalam konflik juga berisiko menyeret negara-negara Teluk lain ke perang regional yang lebih luas.

Araghchi Tuduh AS Hambat Perdamaian

Di tengah memanasnya hubungan dengan negara-negara Teluk, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menuding Amerika Serikat menjadi penghambat utama tercapainya perdamaian permanen di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat menerima kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Norwegia Andreas Motzfeldt Kravik di Teheran.

Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Araghchi menilai Washington tidak memiliki niat baik dalam upaya penyelesaian konflik.

“Ancaman, provokasi AS, dan kurangnya kredibilitas Washington tetap menjadi hambatan utama bagi perdamaian,” kata Araghchi, dikutip dari Al Mayadeen.

Ia juga menuding Amerika Serikat dan Israel terus melanggar gencatan senjata melalui tekanan militer dan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas

Baca juga: Ancam AS, Iran Luncurkan Serangan Baru Drone ke Seluruh Wilayah Teluk: UEA hingga Kuwait Siaga

Dalam pembicaraan dengan delegasi Norwegia, Iran turut menyoroti meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.

Araghchi menyebut situasi di jalur energi dunia tersebut merupakan dampak langsung dari “agresi militer AS-Israel terhadap Iran”.

Ia mengatakan Teheran kini tengah melakukan konsultasi dengan berbagai pihak untuk menyusun pengaturan baru terkait Selat Hormuz sesuai hukum internasional.

Iran menegaskan sebagai negara pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, mereka memiliki hak untuk menjaga keamanan kawasan tersebut.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Norwegia Andreas Motzfeldt Kravik menyerukan pentingnya menjaga stabilitas dan mendorong diplomasi di Timur Tengah.

“Kami menilai penting untuk membangun perdamaian dan stabilitas berkelanjutan di kawasan,” ujar Kravik.

Di tengah meningkatnya konflik regional, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar disebut memilih menahan diri agar tidak terseret langsung dalam perang terbuka dengan Iran.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved