Iran Vs Amerika Memanas
Jelang Bertemu Xi Jinping, Trump Sesumbar: Tak Butuh Bantuan China di Perang Iran
Presiden AS, Donald Trump sesumbar menjelang pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping. Trump sebut tak butuh China untuk atasi perang Iran.
Para pengamat politik internasional menilai bahwa Trump kini berada dalam posisi "butuh" terhadap China.
Dengan agenda domestik yang padat dan pemilu akhir tahun yang kian dekat, Trump memerlukan stabilitas di kawasan Asia Timur untuk mengamankan poin politiknya.
Analis senior, Wu, mengungkapkan bahwa fokus Trump terhadap Taiwan telah memudar jika dibandingkan dengan masa jabatan pertamanya satu dekade lalu.
"China yang dihadapi Trump sekarang bukanlah China yang sama dengan sepuluh tahun lalu," jelas Wu kepada SCMP.
Menurutnya, Trump saat ini lebih memprioritaskan kesepakatan besar di bidang perdagangan, pengaturan tarif yang menguntungkan, serta kerja sama keamanan global — termasuk upaya meredam ketegangan di Timur Tengah.
Dalam skenario ini, Taiwan dipandang bukan lagi sebagai prioritas utama, melainkan bisa menjadi "kartu tawar" atau bahkan beban jika mengganggu agenda besar Washington.
Baca juga: Iran Dukung Proposal Empat Poin Xi Jinping Jelang Kunjungan Trump ke China
Kondisi ini tentu menjadi alarm bagi pemerintah di Taipei.
Selama ini, Taiwan sangat bergantung pada dukungan militer dan diplomatik AS untuk menghadapi tekanan Beijing.
Namun, jika Trump memilih untuk bersikap pragmatis demi mencapai kesepakatan ekonomi dengan Xi, posisi Taiwan bisa terancam.
Wu menambahkan, jika dalam pertemuan mendatang Trump secara terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya terhadap gerakan kemerdekaan Taiwan, hal itu akan menjadi kemenangan diplomatik besar bagi Beijing.
"Dampaknya akan sangat positif bagi stabilitas hubungan lintas selat dari perspektif China, namun akan menjadi pukulan telak bagi partai berkuasa di Taiwan (DPP)," tambahnya.
Beijing tetap pada pendiriannya bahwa Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari kedaulatannya.
Dengan kekuatan ekonomi dan militer China yang terus tumbuh pesat, ruang bagi gerakan kemerdekaan di pulau tersebut dinilai kian terjepit.
Selama hubungan AS-China tetap berada dalam jalur komunikasi yang normal, para analis meyakini bahwa Washington tidak akan mengambil risiko besar dengan membiarkan isu Taiwan merusak stabilitas ekonomi global yang sedang mereka coba bangun kembali bersama China.
(Tribunnews.com/Whiesa)