Kamis, 14 Mei 2026

BREAKING NEWS: Gedung Parlemen Filipina Diberondong Tembakan

Dikutip dari media Filipina GMANews, pasukan bersenjata itu diduga berasal dari Biro Investigasi Nasional (NBI).

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Hasanudin Aco
Inquirer.net
Aparat bersenjata menerobos masuk ke gedung Parlemen Filipina pada Rabu (13/5/2026) malam. 

Saat ini Ronald menjabat senator Filipina.

PEMERINTAHAN DUTERTE - Rodrigo Duterte dalam Majelis Nasional Partai Demokrat Filipina pada 20 September 2024 di Kota Davao. (Facebook Rody Duterte)
PEMERINTAHAN DUTERTE - Rodrigo Duterte dalam Majelis Nasional Partai Demokrat Filipina pada 20 September 2024 di Kota Davao. (Facebook Rody Duterte) (Tangkapan layar media sosial)

Dela Rosa, yang berlindung di kantornya sejak Senin, menyerukan kepada publik untuk turun ke jalan dan mencegah penangkapannya.

Dia mengatakan bahwa aparat penegak hukum sedang dalam perjalanan menyusul dibukanya surat perintah penangkapan oleh ICC .

Parlemen Filipina terdiri dari dua kamar legislatif yang Senat dan DPR yang disebut Kongres.

Senat sebagai majelis tinggi dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai majelis rendah.

Senat beranggotakan 24 senator yang dipilih secara nasional, sedangkan DPR diisi oleh perwakilan distrik dan sektoral. 

Duduk perkara kasus

Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) yang bermarkas di Belanda membuka surat perintah penangkapan terhadap dela Rosa atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan pada hari Senin.

Dela Rosa disebut-sebut oleh jaksa ICC sebagai salah satu kaki tangan dalam kasus mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte .

Duterte, yang menjabat sebagai presiden dari tahun 2016 hingga 2022, ditangkap oleh polisi Filipina pada Maret 2025 dan dibawa ke ICC di Den Haag.

Para hakim ICC mengatakan pembunuhan tersebut merupakan bagian dari kampanye "luas dan sistematis" yang menargetkan tersangka kriminal, khususnya dalam operasi anti-narkoba.

Mereka mencatat bahwa setidaknya 32 orang tewas dalam insiden antara tahun 2016 dan 2018.

Surat perintah penangkapan terhadap dela Rosa, yang dikeluarkan pada bulan November, menuduh bahwa saat menjabat  kepala Kepolisian Nasional Filipina, ia membantu melakukan pembunuhan massal terhadap bandar narkoba. 

Sebelumnya, ia telah membantah terlibat dalam pembunuhan ilegal itu. 

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved