Menlu RI di Forum BRICS: Dunia di Garis Kritis, Perlu Segera Reformasi Sistem Global
Kelemahan sistem global, seperti Dewan Keamanan PBB (DK PBB) itu memiliki konsekuensi pada tragedi kemanusiaan tak berujung dan makin meluas.
Ringkasan Berita:
- Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono mengatakan pertemuan tingkat tinggi Menlu negara anggota dan mitra BRICS 2026 digelar pada momen yang krusial bagi dunia.
- Menurutnya dunia dewasa ini sudah pada garis kritis di mana konflik, persaingan geopolitik, dan tantangan yang berkembang amat membutuhkan reformasi sistem global.
- Kelemahan sistem global, seperti Dewan Keamanan PBB (DK PBB) itu memiliki konsekuensi pada tragedi kemanusiaan tak berujung dan makin meluas.
TRIBUNNEWS.COM, INDIA - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono mengatakan pertemuan tingkat tinggi Menlu negara anggota dan mitra BRICS 2026 digelar pada momen yang krusial bagi dunia.
Forum ini digelar di Bharat Mandapam, New Delhi, India pada 14-15 Mei 2026.
Baca juga: Forum Menlu BRICS di India Jadi Panggung RI Pertegas Keaktifan sebagai Anggota Baru
"Izinkan saya menyampaikan apresiasi tulus dari Indonesia kepada India karena telah menyelenggarakan pertemuan penting ini di momen yang sangat krusial bagi dunia," kata Sugiono dalam pidatonya di hadapan para delegasi negara yang hadir, Kamis (14/5/2026).
Ia mengatakan, Indonesia saat ini memasuki tahun kedua setelah resmi menjadi anggota BRICS pada 6 Januari 2025. Mengarungi tahun kedua ini, RI ingin membawa keyakinan baru bagi BRICS.
Sugiono menekankan prinsip pendirian BRICS. Seluruh negara anggota diharapkan kompak memegang prinsip dasar kesetaraan, kedaulatan, dukungan timbal balik dan inklusivitas.
Menurutnya dunia dewasa ini sudah pada garis kritis di mana konflik, persaingan geopolitik, dan tantangan yang berkembang amat membutuhkan reformasi sistem global.
Urgensi reformasi itu juga didorong atas banyaknya tindakan sepihak dan penerapan hukum internasional yang pilih kasih.
"Tindakan sepihak dan penerapan hukum internasional yang pilih kasih telah semakin memperdalam ketidakpercayaan dan memperlebar ketidakseimbangan dalam tata kelola global," katanya.
Kelemahan sistem global, seperti Dewan Keamanan PBB (DK PBB) itu memiliki konsekuensi pada tragedi kemanusiaan tak berujung dan makin meluas.
Sugiono kemudian mengungkit kasus serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian di Lebanon yang menewaskan empat prajurit UNIFIL Kontingen Garuda, akibat insiden tembakan tank tentara Israel.
Dalam forum pertemuan para Menlu BRICS ini, Indonesia menuntut adanya pihak yang bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan tersebut.
Baca juga: Tiba di India, Menlu Sugiono akan Hadiri Forum BRICS Bahas Isu Politik & Perdamaian Global
"Di Lebanon, empat penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di bawah UNIFIL telah gugur dalam tugas, sementara beberapa lainnya terluka. Kami menghormati pengorbanan mereka, berdiri bersama keluarga mereka, dan menuntut pertanggungjawaban penuh," ucap Sugiono.
Sosok yang pernah menjadi prajurit Kopassus periode 2002–2004 ini menekankan bahwa keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian berbendara PBB bukan hal yang bisa ditawar.
"Keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah hal yang tidak bisa ditawar," pungkas Sugiono.
Sejumlah delegasi yang hadir dalam forum BRICS India ini diantaranya Menlu Brasil, Mauro Vieira; Menlu Russia, Sergey Lavrov; Menlu India, Subrahmanyam Jaishankar; Duta Besar China untuk India, Xu Feihong; Menlu Afrika Selatan, Ronald Lamola; Menlu Republik Indonesia, Sugiono; Menlu Ethiopia, Gedion Timothewos Hessebon; Menlu Iran, Abbas Araghchi; Menlu UEA, Khalifa Shaheen Al Marar;
Sementara delegasi negara mitra BRICS yang hadir meliputi Menlu Kuba, Bruno Rodríguez Parrilla; Wamenlu Pertama Kazakhstan, Yerzahan Ashikbayev; Menlu Malaysia, Mohamad bin Haji Hasan; Sekretaris Tetap Kemlu Nigeria, Dunoma Umar Ahmed; Menlu Thailand, Sihasak Phuangketkeow; Wakil Menlu Uzbekistan, Aloyev Bakhromjon Joraboevich; dan Wakil Menlu Vietnam, Nguyen Minh Hang.
Sebagai informasi BRICS adalah organisasi multilateral negara berkembang yang berpengaruh, dengan tujuan memperkuat kerja sama dan suara negara-negara berkembang (Global South) baik secara ekonomi maupun politik.
BRICS Foreign Ministers Meeting ini menjadi bagian dari rangkaian menuju Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 yang akan diadakan 12-13 September 2026. KTT BRICS tersebut akan mengundang para pemimpin dari negara anggota dan mitra BRICS, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menlu-Sugiono-Tiba-di-India_4.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.