Sabtu, 16 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

China Desak AS-Iran Gencatan Senjata Permanen: Perang Tak Ada Gunanya

China menegaskan perlunya gencatan senjata permanen antara AS-Iran terutama di Selat Hormuz karena melanjutkan perang tidak ada gunanya.

Tayang:
Kementerian Luar Negeri China
TRUMP KUNJUNGI CHINA - Foto diunduh dari website Kementerian Luar Negeri China. Presiden China Xi Jinping mengadakan upacara penyambutan untuk Presiden Trump di alun-alun di luar pintu masuk timur Gedung Agung Rakyat pada Kamis (14/5/2026). - China menegaskan perlunya gencatan senjata permanen antara AS-Iran terutama di Selat Hormuz karena melanjutkan perang tidak ada gunanya. 
Ringkasan Berita:
  • China mendesak Amerika Serikat dan Iran segera mencapai gencatan senjata permanen serta membuka kembali Selat Hormuz.
  • Beijing menilai perang hanya memperburuk situasi global dan menegaskan dialog adalah satu-satunya jalan penyelesaian.
  • Seruan itu muncul saat Donald Trump bertemu Xi Jinping di China membahas konflik Iran dan isu nuklir.
  • Trump mengatakan Xi sepakat menolak persenjataan nuklir Iran dan tidak akan memasok peralatan militer ke Teheran.

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah China menyerukan gencatan senjata permanen antara Amerika Serikat dan Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Beijing menilai konflik yang terus berlanjut hanya memperburuk situasi global dan tidak membawa keuntungan bagi pihak mana pun.

Melalui pernyataan resmi pada Jumat, Kementerian Luar Negeri China meminta agar jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz segera dibuka kembali demi menjaga stabilitas ekonomi dunia dan rantai pasokan global.

“Tidak ada gunanya melanjutkan konflik ini, yang sebenarnya dapat dihindari sejak awal,” demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Jumat (15/5/2026).

China menegaskan bahwa perang telah menyebabkan penderitaan besar bagi rakyat Iran dan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, konflik juga disebut memberi dampak serius terhadap pertumbuhan ekonomi global, perdagangan internasional, hingga pasokan energi dunia.

Beijing menilai penyelesaian cepat atas krisis Iran akan menguntungkan semua pihak, termasuk Amerika Serikat, Iran, serta negara-negara di kawasan.

“Dialog dan negosiasi adalah jalan yang benar, sementara penggunaan kekerasan adalah jalan buntu,” lanjut pernyataan tersebut.

China juga menyambut baik upaya gencatan senjata terbaru antara AS dan Iran serta langkah-langkah diplomatik yang mulai dibuka kedua pihak.

Menurut Beijing, momentum perundingan tidak boleh dihentikan.

Baca juga: Janji Xi Jinping ke Trump Soal Iran, Singgung Pengiriman Peralatan Militer

“Sekarang pintu dialog telah dibuka, pintu itu tidak boleh ditutup lagi,” tegas Kementerian Luar Negeri China dalam laman resminya.

Pemerintah China menekankan pentingnya penyelesaian politik terkait program nuklir Iran dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak.

Beijing juga menyerukan pembukaan kembali jalur pelayaran internasional secepat mungkin guna menjaga kelancaran distribusi energi dan barang dunia.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping di China

Seruan tersebut muncul di tengah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada 14-15 Mei 2026.

Dalam kunjungan itu, Trump menggelar pembicaraan intensif dengan Presiden China Xi Jinping mengenai berbagai isu global, termasuk konflik Iran dan situasi Timur Tengah.

Kementerian Luar Negeri China menyebut kedua pemimpin sepakat membangun hubungan China-AS yang “konstruktif dan stabil secara strategis” untuk beberapa tahun ke depan.

Menurut Beijing, kesepakatan tersebut diharapkan dapat mendorong hubungan bilateral yang lebih sehat sekaligus memberikan kontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas dunia.

Dalam jamuan makan malam di Beijing, Trump mengaku puas dengan hasil pembicaraannya bersama Xi Jinping.

“Saya mengadakan pembicaraan dan pertemuan yang sangat produktif dan positif dengan delegasi China,” kata Trump.

Trump juga memuji Xi Jinping sebagai pemimpin yang serius dan tegas dalam bekerja.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa China akan mulai membuka pasarnya secara bertahap dan meningkatkan pembelian produk pertanian asal Amerika Serikat.

Di sisi lain, China menegaskan akan terus berperan aktif dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah.

Beijing menyatakan Presiden Xi Jinping telah mengajukan empat usulan utama untuk menjaga stabilitas kawasan, termasuk memperkuat dialog politik dan mencegah perluasan konflik.

“China akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mendukung perundingan damai dan memainkan peran konstruktif dalam mencapai perdamaian abadi di Timur Tengah,” tutup pernyataan tersebut, seperti diberitakan Al Mayadeen.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai meletus pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas strategis milik Iran.

Serangan tersebut terjadi dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal mencapai kesepakatan baru terkait program nuklir Teheran.

Amerika Serikat dan Israel menuding Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun, pemerintah Iran membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya digunakan untuk kebutuhan energi serta penelitian sipil.

Situasi semakin memanas setelah serangan awal dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kepemimpinan Iran kemudian dilanjutkan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Teheran juga menghentikan pembicaraan nuklir dan memperketat blokade di Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia, yang menyebabkan terganggunya pasokan energi global dan melonjaknya harga minyak internasional.

Setelah konflik berlangsung sekitar 40 hari, kedua pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan.

Di tengah ketegangan tersebut, Amerika Serikat sempat menjalankan operasi militer “Project Freedom” di Selat Hormuz. Namun operasi itu kemudian dihentikan sementara guna membuka ruang bagi proses diplomasi.

Meski demikian, upaya negosiasi kembali mengalami kebuntuan pada 10–11 Mei setelah Iran menolak proposal terbaru yang diajukan pemerintahan Donald Trump.

Salah satu poin utama yang menjadi hambatan adalah tuntutan AS dan Israel agar stok uranium Iran dipindahkan ke luar negeri.

Iran menolak syarat tersebut karena dianggap bertentangan dengan kedaulatan nasionalnya.

Hingga saat ini, belum ada titik temu dalam pembicaraan damai karena masing-masing pihak masih mempertahankan posisi dan tuntutannya sendiri.

Setelah pembicaraan Trump dan Xi Jinping di China pada hari Kamis, Presiden AS mengatakan Xi setuju untuk tidak memberikan peralatan militer kepada Iran.

Selain itu, Trump mengatakan China juga menentang militerisasi di Selat Hormuz dan sepakat untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved