Top Rank
Perbandingan Mitra Dagang China vs Amerika: Siapa yang Jalin Kerja Sama Antar Negara Terbanyak?
Siapa sebenarnya raksasa dagang dunia: China atau Amerika yang paling banyak menjadi mitra utama bagi negara-negara lain?
Ringkasan Berita:
- China kini menjadi mitra dagang utama bagi sebagian besar negara di dunia, melampaui Amerika Serikat.
- Kebangkitan China didorong oleh kekuatan manufaktur dan tingginya permintaan komoditas global.
- Indonesia juga mengalami pergeseran hubungan dagang dari yang sebelumnya lebih dekat ke AS menjadi lebih condong ke China pada 2025.
TRIBUNNEWS.COM - Persaingan antara Amerika Serikat dan China kini tidak lagi hanya soal kekuatan militer atau teknologi, tetapi juga perebutan pengaruh ekonomi global melalui kerja sama perdagangan.
Kedua negara berlomba memperluas jaringan mitra dagang ke berbagai kawasan dunia, mulai dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika Latin.
Di tengah ketegangan geopolitik dan perang tarif yang kerap memanas, muncul pertanyaan besar: negara mana yang sebenarnya lebih banyak menjalin hubungan dagang dengan negara lain?
Sekitar 25 tahun lalu, Amerika Serikat masih menjadi kekuatan perdagangan paling dominan di dunia.
Namun saat ini, China telah melampaui Amerika sebagai mitra dagang barang utama bagi sebagian besar negara di dunia.
Mengutip data Direction of Trade Statistics dari Dana Moneter Internasional (IMF), kebangkitan China didorong oleh perannya sebagai pusat manufaktur dunia serta meningkatnya permintaan terhadap komoditas seperti minyak, tembaga, bijih besi, dan kedelai.
Dilansir Visual Capitalist, Amerika Serikat memasuki abad ke-21 dengan posisi yang sangat kuat.
Setelah berakhirnya Perang Dingin, demokrasi liberal dan pasar terbuka berkembang di banyak bekas negara blok Soviet, sementara perdagangan global masih berpusat pada pasar konsumen AS.
Pada tahun 2000, hanya 33 negara yang tercatat berdagang lebih banyak dengan China dibandingkan dengan Amerika Serikat.
Sebagian besar negara tersebut merupakan tetangga China seperti Kazakhstan, Mongolia, Myanmar, dan Vietnam.
Sementara negara lain adalah negara yang memiliki hubungan tegang atau bahkan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan AS, seperti Kuba, Iran, Libya, dan Korea Utara.
Baca juga: Tidak Ada Wanita dalam Meja Perundingan, KTT Trump-Xi Menuai Kritik, Dinilai Maskulin dan Eksklusif
Situasi mulai berubah pada dekade 2000-an ketika China semakin terbuka terhadap ekonomi global, terutama setelah bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001.
Bersamaan dengan reformasi ekonomi domestik, keanggotaan WTO mempercepat kebangkitan China sebagai kekuatan manufaktur global.
Dalam beberapa tahun berikutnya, China berkembang menjadi mitra dagang utama bagi sejumlah negara berkembang besar seperti Brasil dan Rusia.
Biaya manufaktur yang lebih murah meningkatkan ekspor China ke berbagai negara, sementara permintaan tinggi terhadap komoditas mendorong pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PERANG-DAGANG-CHINA-AMERIKA.jpg)