Senin, 18 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Kapal Perang Termahal AS Angkat Kaki dari Konflik Iran Setelah Misi 11 Bulan

USS Gerald R. Ford, kapal perang termahal AS Rp215 triliun, dipulangkan usai 11 bulan tempur di konflik Iran dan dihantam masalah teknis.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Kapal induk senilai 13 miliar dolar milik AS akhirnya kembali ke pangkalan di Virginia setelah menjalani penugasan terlama sejak Perang Vietnam.
  • Selama bertugas USS Gerald R. Ford mengalami masalah serius, termasuk kebakaran besar dan gangguan sistem toilet vakum. Beberapa teknologi canggih kapal juga mengalami kendala teknis
  • USS Gerald R. Ford memainkan peran penting dalam operasi udara AS terhadap Iran dengan kemampuan meluncurkan jet tempur dan drone secara cepat menggunakan teknologi EMALS. 

TRIBUNNEWS.COM - Kapal induk paling mahal milik AS, USS Gerald R. Ford, akhirnya kembali ke pangkalan Angkatan Laut di Norfolk, Virginia, setelah menjalani penugasan militer di berbagai kawasan konflik dunia.

Termasuk dalam konflik Iran yang berlangsung sejak Februari kemarin. Namun di tengah konflik Iran yang hingga kini masih belum benar-benar mereda kapal induk terbesar milik Angkatan Laut AS itu dipulangkan.

Keputusan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor besar, mulai dari lamanya masa penugasan, gangguan teknis serius, hingga kebutuhan perawatan besar-besaran setelah terlibat dalam operasi militer intensif di Timur Tengah.

USS Gerald R. Ford sebenarnya dirancang untuk menjalani operasi militer sekitar tujuh bulan. Namun situasi konflik Iran yang terus berkembang membuat kapal induk tersebut harus tetap berada di kawasan operasi jauh lebih lama dari jadwal awal.

Penugasan hampir 11 bulan itu bahkan disebut sebagai pengerahan operasional kapal induk terlama sejak era Perang Vietnam. 

Kondisi tersebut memberikan tekanan besar terhadap para awak kapal sekaligus mempengaruhi performa teknis kapal induk senilai 13 miliar dolar AS tersebut.

Alasan USS Gerald R. Ford Dipulangkan

Selama berada di Timur Tengah, USS Gerald R. Ford juga menghadapi sejumlah masalah teknis yang cukup serius. Salah satu insiden terbesar terjadi pada Maret lalu ketika kebakaran besar melanda area pencucian kapal.

Proses pemadaman membutuhkan waktu hampir 30 jam dan berdampak terhadap sekitar 600 pelaut akibat kerusakan fasilitas di dalam kapal. 

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden itu memperlihatkan besarnya tantangan operasional yang dihadapi kapal induk tersebut selama bertugas di zona konflik.

Selain kebakaran, USS Gerald R. Ford juga berulang kali mengalami gangguan pada sistem toilet vakum yang menjadi sorotan media Amerika Serikat.

Sistem sanitasi kapal dilaporkan sering mengalami penyumbatan sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari para awak kapal selama berbulan-bulan berada di laut.

Baca juga: AS Langgar Gencatan Senjata di Selat Hormuz, Iran Pukul Mundur Kapal AS ke Teluk Oman

Tidak hanya itu,  mengutip dari CNN International beberapa sistem teknologi canggih yang menjadi keunggulan utama USS Gerald R. Ford juga disebut mengalami kendala teknis.

Sebelumnya, sejumlah pengamat pertahanan memang sempat mengkritik stabilitas beberapa teknologi baru yang digunakan kapal induk generasi terbaru tersebut.

Setelah menjalani operasi tempur panjang dan menghadapi berbagai tekanan teknis, USS Gerald R. Ford kini membutuhkan proses pemeliharaan dan perbaikan besar-besaran. 

Sejumlah laporan menyebut kapal induk tersebut kemungkinan harus menjalani masa perawatan selama berbulan-bulan bahkan hingga satu tahun sebelum kembali siap diterjunkan dalam operasi militer berikutnya.

Meski USS Gerald R. Ford telah dipulangkan ke Amerika Serikat, ketegangan antara Washington dan Teheran masih belum berakhir. 

Pemerintah AS tetap mempertahankan kekuatan militernya di kawasan Teluk dengan mengerahkan kapal induk lain, USS George HW Bush, untuk menggantikan posisi Ford di Timur Tengah.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran masih dianggap sebagai ancaman strategis besar bagi kepentingan Amerika Serikat, terutama terkait keamanan jalur perdagangan energi global di Selat Hormuz.

Bagi banyak pengamat militer, kepulangan USS Gerald R. Ford menjadi gambaran bahwa bahkan kapal perang tercanggih dan termahal sekalipun tetap menghadapi tantangan besar dalam perang modern yang berkepanjangan dan penuh tekanan geopolitik.

Jadi Tulang Punggung Operasi AS di Iran

Sebelum dipulangkan USS Gerald R. Ford memainkan peran sangat penting bagi operasi militer Washington di Timur Tengah.

Kapal induk tersebut digunakan sebagai pusat peluncuran jet tempur Amerika untuk mendukung serangan udara terhadap target-target strategis Iran dan sekutunya di kawasan Teluk.

Pejabat militer AS menyebut kapal itu menjadi platform utama untuk mengirim gelombang demi gelombang serangan udara ke wilayah konflik.

Dengan teknologi EMALS, USS Gerald R. Ford mampu meluncurkan berbagai jenis pesawat tempur, mulai dari drone kecil hingga jet tempur berat dalam waktu singkat.

Kemampuan ini dianggap sangat penting dalam perang modern karena memungkinkan serangan dilakukan lebih cepat dan lebih intensif.

Selain itu, kapal ini dilengkapi radar generasi terbaru, sistem pertahanan otomatis, hingga kemampuan mengoperasikan drone tempur modern dan pesawat siluman seperti F-35.

USS Gerald R. Ford juga dirancang sebagai “kota berjalan” di laut dengan kapasitas sekitar 4.500 personel dan kemampuan operasi tempur jangka panjang tanpa perlu sering kembali ke pangkalan.

Kemampuan inilah yang membuat kapal USS Gerald R. Ford memiliki nilai pembangunan mencapai sekitar 13 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp215 triliun.

Biaya fantastis tersebut membuat USS Gerald R. Ford menjadi kapal perang paling mahal dalam sejarah militer modern.

Nilai itu bahkan belum termasuk biaya riset dan pengembangan teknologi baru yang mencapai miliaran dolar tambahan.

(Tribunnews.com / Namira)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved