Iran Vs Amerika Memanas
Trump Hasut UEA Rebut Wilayah Strategis Iran, Pulau Lavan Jadi Sasaran
Trump disebut dorong UEA rebut Pulau Lavan milik Iran. Konflik Teluk memanas dan ancam picu perang regional hingga ganggu jalur minyak dunia.
Situasi semakin berubah setelah Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Teluk menyusul pecahnya konflik dengan AS dan Israel pada Februari lalu.
Sejak saat itu, Abu Dhabi mulai memandang ancaman Iran bukan lagi sekadar rival geopolitik regional, tetapi persoalan keamanan nasional yang nyata.
Oleh karenanya UEA lebih terbuka bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel dibanding sejumlah negara Arab lainnya.
Namun di balik itu, pengamat menilai terdapat agenda geopolitik yang lebih besar. Washington disebut tengah membangun poros keamanan baru di Timur Tengah bersama Israel dan UEA untuk menghadapi pengaruh Iran yang terus berkembang di kawasan.
Hubungan UEA dan Israel sendiri memang semakin erat sejak tercapainya normalisasi diplomatik melalui Perjanjian Abraham.
Kerja sama kedua negara berkembang pesat di bidang keamanan, pertahanan, hingga intelijen.
Amerika Serikat juga diyakini ingin memastikan negara-negara Teluk semakin bergantung pada perlindungan militer Washington.
Ketika ancaman Iran meningkat, negara-negara seperti UEA akan membutuhkan lebih banyak dukungan sistem pertahanan, persenjataan modern, dan kerja sama keamanan dari AS.
Di sisi lain, para pejabat UEA dilaporkan merasa dukungan terbesar justru datang dari Amerika Serikat dan Israel, bukan dari sesama negara Teluk.
Hal itu terlihat ketika beberapa negara Arab memilih menjaga jarak dari konflik langsung melawan Iran.
Ancaman Konflik Regional Semakin Besar
Peneliti Royal United Services Institute, Dr. Burcu Ozcelik, menyatakan perang tersebut telah mempercepat pembentukan poros baru antara Amerika Serikat, Israel, dan UEA.
Menurutnya, dinamika baru itu berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah sekaligus meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.
Selama ini, konflik melawan Iran lebih banyak dilakukan secara tidak langsung melalui perang proksi dan tekanan diplomatik. Namun jika negara-negara Teluk mulai ikut melakukan operasi militer langsung terhadap wilayah Iran, maka risiko pecahnya perang regional dinilai semakin besar.
Kondisi itu juga dikhawatirkan sulit dikendalikan karena Iran memiliki kemampuan balasan melalui rudal, drone, serta jaringan kelompok sekutunya di berbagai kawasan Timur Tengah. Serangan balasan Iran berpotensi menyasar fasilitas energi, pangkalan militer, hingga jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk.
Selain mengancam stabilitas keamanan regional, eskalasi konflik juga diperkirakan berdampak besar terhadap ekonomi global.