Selasa, 19 Mei 2026

Seperlima Karyawan Perusahaan Konstruksi di Chitose Hokkaido Jepang Ini Adalah WNI

Bos perusahaan Jepang di Chitose puji pekerja Indonesia rajin dan disiplin. Sebanyak 22 WNI kini bekerja di perusahaannya

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/istimewa
SEPERLIMA WNI - Di tengah geliat Kota Chitose yang berkembang pesat berkat masuknya proyek semikonduktor canggih Rapidus, terdapat sebuah perusahaan konstruksi bernama Taki Kensetsu Kogyo dengan sekitar 101 karyawan, dan seperlimanya atau 22 orangh adalah WNI. Sisanya dari 15 negara asing bekerja di sana total 60 warga asing karyawan di perusahaan tersebut 

Ringkasan Berita:
  • Perusahaan konstruksi Taki Kensetsu Kogyo di Kota Chitose, Jepang, mempekerjakan 60 pekerja asing dari 15 negara, termasuk 22 WNI 
  • Presiden perusahaan, Yuichi Taki, menilai pekerja Indonesia rajin dan berkinerja baik sehingga perekrutan terus ditambah 
  • Perusahaan juga menyiapkan pelatihan, dukungan hidup, hingga program kerja sama perekrutan di Bali

 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, JEPANG –  Di tengah geliat Kota Chitose yang berkembang pesat berkat masuknya proyek semikonduktor canggih Rapidus, terdapat sebuah perusahaan konstruksi bernama Taki Kensetsu Kogyo dengan sekitar 101 karyawan, dan seperlimanya atau 22 orangh adalah WNI. Sisanya dari 15 negara asing bekerja di sana total 60 warga asing karyawan di perusahaan tersebut.

"Saya tidak lihat dari negara mana. Tentu saja pekerja Indonesia bagus semua bekerja dengan baik dan mendapat penilaian baik di Jepang itu sebabnya saya ambil dari Indonesia cukup banyak," papar Yuichi Taki (41), Presiden Taki Kensetsu Kogyo yang didampingi stafnya, Sekiguchi, khusus kepada Tribunnews.com pagi ini (19/5/2026).

Meski berasal dari latar budaya dan bahasa yang berbeda, para pekerja disatukan oleh satu bahasa bersama di lapangan, yaitu bahasa Jepang.

Pada akhir Februari, di area penyimpanan material perusahaan, sekitar 20 pekerja dari tujuh negara mengikuti pelatihan perakitan perancah sementara. Instruksi seperti “bawa pengikat perancah” atau “kumpulkan tali di sini” terdengar dalam bahasa Jepang, yang menjadi alat komunikasi utama dalam pekerjaan sehari-hari.

Salah satu pekerja asal Sri Lanka yang telah empat tahun bekerja di Jepang mengatakan bahwa ia belajar dengan bertanya kepada senior Jepang, lalu mengajarkannya kembali kepada rekan lain. Ia juga rutin belajar bahasa Jepang setelah pulang kerja.

Baca juga: Polisi Jepang Tangkap 14 Warga Asing, Termasuk WNI Overstay di Asahi Chiba, Ada yang  Hampir 7 Tahun

Keberagaman ini merupakan kebijakan yang dipimpin langsung oleh Presiden perusahaan, Yuichi Taki. Ia menyadari bahwa ketergantungan pada tenaga kerja dari satu negara berisiko jika situasi negara tersebut berubah. Karena itu, sejak sekitar 10 tahun lalu, perusahaan mulai merekrut tenaga kerja dari berbagai negara. Hasilnya, interaksi antarpekerja dengan bahasa ibu berbeda mendorong penggunaan bahasa Jepang sebagai bahasa umum di lapangan.

Saat ini, perusahaan mempekerjakan sekitar 60 pekerja asing dari Asia, Rusia, Amerika Selatan, hingga Afrika. Bahkan, pekerja asing yang telah memiliki pengalaman 7–8 tahun kini sudah dipercaya menjadi kepala tim dan menangani proyek secara mandiri.

"Saya ingin fokus ke negara di Asia Tenggara dalam perekrutan tenaga kerja. Tapi bukan tidak mungkin juga dari Afrika," tambah Taki lagi.

Perusahaan juga menyediakan dukungan menyeluruh, mulai dari pekerjaan hingga kehidupan sehari-hari, termasuk menyusun manual dalam berbagai bahasa.

Pada 2023, Presiden Taki juga mendirikan perusahaan grup bernama “First Story” untuk membantu pekerja asing dalam proses sebelum dan setelah datang ke Jepang, seperti pengurusan administrasi yang sering menjadi kendala akibat hambatan bahasa.

Pada Januari lalu, kedua perusahaan bersama lembaga lokal di Bali, Indonesia, meluncurkan proyek pelatihan tenaga kerja. Para instruktur dari Jepang memberikan pelatihan mulai dari penggunaan alat kerja, perawatan, hingga aturan lalu lintas, menggunakan materi yang telah disusun perusahaan.

Ke depan, peserta pelatihan tersebut dijadwalkan akan datang ke Jepang. Presiden Taki menegaskan pentingnya membangun sistem penerimaan tenaga kerja asing yang lebih baik.

“Untuk menjadikan Jepang sebagai negara yang dipilih karena lingkungan kerjanya yang baik, kita harus mengajarkan bahasa dan aturan kehidupan, serta menyiapkan sistem penerimaan sebagai negara tujuan migrasi,” ujarnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved