Iran Vs Amerika Memanas
Trump Batalkan Serangan, Iran Peringatkan AS agar Tak Salah Perhitungan, Klaim Lebih Siap dan Kuat
Trump sempat melontarkan ancamannya terhadap Iran, seiring dengan terus tersendatnya negosiasi.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya agar tidak melakukan "kesalahan strategis" atau salah perhitungan baru.
Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan ancamannya terhadap Iran, seiring dengan terus tersendatnya negosiasi untuk mengakhiri konflik antara kedua negara tersebut.
Trump mengatakan ia telah membatalkan rencana untuk melanjutkan serangan terhadap Iran yang dijadwalkan pada Selasa (19/5/2026) setelah adanya permintaan dari para pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Namun, Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, bahwa angkatan bersenjata Iran tetap siaga tinggi dan siap menanggapi serangan baru apa pun.
Abdollahi mengatakan musuh-musuh Iran telah berulang kali menguji negara itu dan angkatan bersenjatanya.
“Mereka harus tahu bahwa Republik Islam Iran dan angkatan bersenjatanya lebih siap dan lebih kuat dari sebelumnya, dengan jari-jari mereka di pelatuk,” ujarnya, Selasa, dilansir Anadolu Agency.
Dia memperingatkan bahwa setiap serangan baru akan menghadapi respons yang “cepat, tegas, kuat, dan berskala besar”.
Abdollahi juga mengatakan bahwa Iran telah menunjukkan kemampuannya “di medan perang,” dan memperingatkan bahwa setiap tindakan baru dari musuh-musuhnya akan dibalas dengan respons yang lebih kuat daripada dalam perang terakhir.
“Kami akan membela hak-hak bangsa Iran dengan segenap kekuatan kami dan memotong tangan setiap agresor,” tegasnya.
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Iran membalas dengan serangan yang menargetkan Israel serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Siap Gugat AS-Israel ke Pengadilan Internasional Gara-gara Serang 149 Tempat Budaya
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan selanjutnya di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu.
Keputusan Trump Batalkan Serangan
Diberitakan Al Arabiya, pengumuman Trump dalam unggahan media sosial pada Senin (18/5/2026) disampaikan setelah ia mengancam bahwa waktu terus berjalan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan atau pertempuran akan kembali berkobar setelah gencatan senjata yang rapuh.
Trump tidak memberikan rincian tentang serangan yang direncanakan, tetapi mengatakan bahwa ia telah menginstruksikan militer AS "untuk bersiap melancarkan serangan skala besar ke Iran, kapan saja, jika kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai."
Trump sebelumnya tidak mengungkapkan bahwa ia berencana melakukan serangan pada 19 Mei 2026, tetapi pada akhir pekan ia memperingatkan, “bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bertindak, cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka.”
Trump telah mengancam selama berminggu-minggu bahwa gencatan senjata yang disepakati pada pertengahan April 2026 dapat berakhir jika Iran tidak mencapai kesepakatan, dengan parameter yang terus berubah untuk mencapai kesepakatan tersebut.
Trump mengatakan dalam unggahan media sosialnya bahwa ia membatalkan serangan yang direncanakan atas permintaan sekutu di Timur Tengah, termasuk para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Trump telah berulang kali menetapkan tenggat waktu untuk Teheran dan kemudian mengingkarinya.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Tiongkok Xi Jinping tentang perang melawan Iran.
Baca juga: Trump Bikin Kejutan, Iran Dapat Kelonggaran Sanksi Minyak di Tengah Diplomasi
Kedua Pihak Tidak Melihat Adanya Kekalahan
Direktur Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, yang telah menyaksikan diplomasi tanpa hasil selama bertahun-tahun antara AS dan Iran, mengatakan kedua musuh bebuyutan tersebut tidak menganggap diri mereka dikalahkan oleh konflik terbaru ini.
“Sejak gencatan senjata berlaku, baik Washington maupun Teheran tampaknya berasumsi bahwa waktu berpihak kepada mereka: Masing-masing percaya bahwa blokade dan kontra-blokade di Selat Hormuz meningkatkan biaya bagi pihak lain, sekaligus memberikan jeda untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan dimulainya kembali permusuhan,” kata Vaez, seperti diberitakan AP News.
Terlepas dari dampak kampanye tekanan ekonomi Amerika, para pejabat Iran belum mencapai ambang batas rasa sakit "sampai pada titik menerima apa yang mereka anggap sebagai tuntutan penyerahan diri," katanya.
David Schenker, mantan asisten menteri luar negeri untuk Timur Tengah di pemerintahan pertama Trump yang saat ini berada di The Washington Institute for Near East Policy, menggambarkan situasi saat ini sebagai "jalan buntu."
Dia mengatakan Trump kemungkinan memiliki "keraguan" tentang kembali ke konflik militer skala penuh, terutama karena kekhawatiran negara-negara Teluk Arab tentang pembalasan Iran dan volatilitas di pasar energi, dengan implikasi politiknya di AS.
Lalu, Rich Goldberg, seorang tokoh garis keras terhadap Iran dan mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional di kedua pemerintahan Trump yang sekarang bekerja di lembaga think tank Foundation for Defense of Democracies, menegaskan bahwa Trump masih beroperasi dari posisi yang kuat, termasuk terkait Selat Hormuz.
Goldberg, yang memiliki minat khusus pada dominasi energi Amerika, mengatakan bahwa meskipun pembukaan kembali selat tersebut akan meringankan "beban pada harga bensin" yang dirasakan oleh banyak warga Amerika, hal itu bukanlah sesuatu yang penting.
“Kenaikan harga bensin jangka pendek mengalihkan perhatian orang dari dominasi energi AS secara keseluruhan,” katanya.
(Tribunnews.com/Nuryanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-peperangan-antara-Iran-dan-Amerika-Serikat.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.