Rabu, 20 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Akan Buka Front Baru jika AS Lanjutkan Perang, Teheran Siap Beri Kejutan

Iran akan membuka "Front Baru" jika AS melanjutkan perang. Menlu Iran menegaskan Teheran siap memberi kejutan di lapangan jika perang berlanjut.

Tayang:
Editor: Nuryanti
Tangkapan Layar PressTV
RUDAL IRAN - Peluncuran rudal balistik Qassem-Basir milik Iran. Pada 19 Mei 2026, militer Iran mengatakan akan membuka "Front Baru" jika AS melanjutkan perang. Menlu Iran menegaskan Teheran siap memberi kejutan di lapangan jika perang berlanjut. 
Ringkasan Berita:
  • Iran mengancam akan membuka “front baru” jika Amerika Serikat kembali melanjutkan serangan militernya.
  • Juru bicara militer Iran Mohammad Akrami Nia mengatakan Teheran telah memperkuat kemampuan tempur selama masa gencatan senjata dan siap menggunakan “metode baru” dalam perang.
  • Menlu Iran Seyyed Abbas Araghchi juga memperingatkan akan ada “banyak kejutan” jika konflik kembali pecah.
  • Ancaman itu muncul setelah Trump menyatakan AS siap melancarkan serangan besar kapan saja bila negosiasi gagal.

TRIBUNNEWS.COM - Iran memperingatkan akan membuka “front baru” terhadap Amerika Serikat (AS) jika Washington kembali melanjutkan serangan militernya ke wilayah Republik Islam tersebut.

Ancaman itu disampaikan juru bicara militer Iran, Mohammad Akrami Nia, di tengah meningkatnya ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan siap melancarkan serangan baru apabila negosiasi nuklir gagal mencapai kesepakatan.

Dalam pernyataannya yang dikutip Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), Akrami Nia menegaskan bahwa militer Iran telah memanfaatkan masa gencatan senjata untuk memperkuat kemampuan tempurnya.

“Jika musuh cukup gegabah untuk kembali melancarkan agresi terhadap negara kami, kami akan membuka front baru melawan mereka dan menggunakan peralatan serta metode baru,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Ia juga menekankan bahwa Iran tidak berada dalam posisi lemah meski perang sebelumnya menimbulkan kerusakan besar.

Menurutnya, angkatan bersenjata Iran tetap menguasai situasi strategis di Selat Hormuz dan kondisi di jalur vital perdagangan minyak dunia itu “tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.”

Menlu Iran: Akan Ada Banyak Kejutan jika Kembali Berperang 

Menteri Luar Negeri Seyyed Abbas Araghchi mengatakan akan ada banyak kejutan di medan perang jika AS memilih untuk melanjutkan perangnya.

"Yakinlah bahwa kembalinya ke medan perang akan disertai dengan lebih banyak kejutan," kata Araghchi dalam sebuah pesan yang dipublikasikan di jejaring sosial X, Selasa.

"Beberapa bulan setelah dimulainya perang melawan Iran, Kongres AS mengakui hancurnya puluhan pesawat senilai miliaran dolar," lanjutnya.

Baca juga: Jika Negosiasi Gagal, Trump: AS Mungkin Akan Serang Iran dalam 2-3 Hari

Araghchi mengatakan bahwa angkatan bersenjata Iran adalah kekuatan pertama di dunia yang menembak jatuh jet tempur F-35 milik AS yang terkenal canggih.

Ia mengindikasikan bahwa Iran memiliki pengetahuan untuk menembak kendaraan atau menargetkan militer AS.

Menteri tersebut menegaskan Teheran mampu memberi kejutan baru seperti ketika militer Iran menembak jatuh jet tempur F-35 milik AS.

"Dengan apa yang kita pelajari dan pengetahuan tersebut, yakinlah bahwa kembali berperang akan disertai banyak kejutan," tegasnya, lapor Tasnim.

Trump Mungkin akan Kembali Serang Iran

Pernyataan tersebut muncul setelah Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat hanya menunda, bukan membatalkan, rencana serangan baru terhadap Iran.

Trump menyebut Washington siap melancarkan “serangan skala penuh dan komprehensif kapan saja” apabila Teheran tidak menerima kesepakatan yang dianggap memadai oleh AS.

Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan negaranya siap menghadapi kemungkinan eskalasi baru.

“Iran bersatu dan siap menghadapi serangan militer apa pun. Bagi kami, menyerah tidak ada artinya. Kami akan menang atau binasa,” tulisnya di platform X, Selasa.

AS Mencari Alasan atas Serangan Mematikan di Sekolah Iran

Ketegangan juga diperparah oleh tuduhan Iran terhadap militer Amerika Serikat terkait serangan terhadap sebuah sekolah di Minab pada 28 Februari lalu, hari dimulainya agresi AS bersama Israel.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, membantah klaim Komando Pusat AS (CENTCOM) yang menyebut sebuah sekolah di Minab berada dekat pusat rudal Iran.

Menurut Baghaei, tuduhan itu merupakan upaya menutupi fakta bahwa serangan tersebut menewaskan lebih dari 170 siswa dan guru.

“Klaim CENTCOM sama sekali tidak berdasar dan menyesatkan. Ini adalah upaya nyata untuk menyembunyikan sifat sebenarnya dari serangan rudal yang menyebabkan pembantaian siswa dan guru,” kata Baghaei, Selasa.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai meledak pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas penting milik Iran. Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir Teheran.

Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, pemerintah Iran membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklir mereka hanya ditujukan untuk kebutuhan energi dan riset sipil.

Situasi semakin memanas setelah serangan awal dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kepemimpinan Iran kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga menghentikan negosiasi nuklir serta memperketat blokade di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia. Kebijakan itu memicu gangguan pasokan energi global dan menyebabkan harga minyak internasional melonjak.

Setelah hampir 40 hari konflik berlangsung, kedua pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan.

Di tengah situasi yang masih tegang, Amerika Serikat sempat menjalankan operasi militer bertajuk “Project Freedom” di Selat Hormuz. Namun, operasi tersebut kemudian dihentikan sementara guna memberi kesempatan bagi penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Meski begitu, proses negosiasi kembali tersendat pada 10–11 Mei setelah Iran menolak proposal terbaru dari pemerintahan Donald Trump. Salah satu isu utama yang diperdebatkan ialah tuntutan Amerika Serikat dan Israel agar cadangan uranium Iran dipindahkan ke luar negeri.

Iran menolak syarat tersebut karena dianggap mencederai kedaulatan nasionalnya. Hingga saat ini, pembicaraan damai masih berlangsung alot lantaran masing-masing pihak tetap mempertahankan posisinya.

Sementara itu, setelah pertemuan Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di China pada Kamis lalu, Trump menyatakan bahwa Xi mendukung upaya pencegahan Iran memiliki senjata nuklir, menolak militerisasi di Selat Hormuz, serta sepakat untuk tidak memasok peralatan militer kepada Iran, seperti dilaporkan Al Jazeera.

Pada 18 Mei, Iran juga mengonfirmasi telah menerima tanggapan dari Amerika Serikat atas proposal yang sebelumnya diajukan Teheran. Namun menurut Iran, isi tanggapan tersebut pada dasarnya merupakan penolakan terhadap proposal itu.

Pakistan selaku mediator menyatakan bahwa proposal terbaru dari Iran telah kembali diserahkan kepada pihak Amerika Serikat untuk dipelajari lebih lanjut.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved