Iran Vs Amerika Memanas
Iran Bangkit, 80 Persen Kekuatan Militer Pulih setelah Digempur AS-Israel
Iran disebut berhasil pulihkan 80 persen kekuatan militernya pascagempuran AS-Israel. Rusia dan China diduga ikut bantu pemulihan Teheran.
Ringkasan Berita:
- Laporan intelijen AS menyebut Iran berhasil memulihkan sekitar 80 persen kekuatan militernya hanya dalam enam minggu pascagempuran AS-Israel..
- Kemampuan rudal Iran dinilai masih kuat. Sumber NATO menyebut sekitar 60 persen persenjataan rudal Iran tetap aktif dan Teheran berhasil memulihkan 30 dari 33 lokasi rudalnya di Selat Hormuz.
- Intelijen AS menuding Rusia memberi bantuan teknologi dan logistik, sementara China diduga memasok komponen rudal dan drone kepada Iran
TRIBUNNEWS.COM - Laporan intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa Iran berhasil memulihkan sebagian besar kekuatan militernya hanya dalam waktu singkat setelah serangan gabungan AS dan Israel.
Dalam keterangan resminya empat pejabat Amerika Serikat yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan bahwa Iran telah membangun kembali 80 persen kapasitas militernya selama masa gencatan senjata enam minggu yang berlangsung bersama AS.
Selama periode itu, Iran juga kembali memproduksi drone tempur, memperbaiki lokasi peluncuran rudal, hingga menghidupkan kembali fasilitas produksi persenjataan yang sebelumnya menjadi target serangan.
Seorang pejabat AS bahkan menyebut Iran berhasil melampaui seluruh target waktu yang sebelumnya diperkirakan komunitas intelijen internasional.
“Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan untuk proses rekonstitusi militer mereka,” ujar salah satu pejabat tersebut, dikutip dari CNN International.
Pernyataan intelijen AS tersebut diperkuat oleh pengakuan pejabat tinggi Iran sendiri.
Ketua parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, mengatakan pemerintah Iran memang memanfaatkan masa jeda konflik untuk membangun kembali kekuatan pertahanan nasional.
Menurutnya, Iran tetap berfokus memperkuat kemampuan militer di tengah tekanan internasional dan ancaman dari Amerika Serikat maupun Israel.
Kemampuan Drone dan Rudal Iran Masih Besar
Bahkan beberapa perkiraan intelijen Amerika Serikat menyebut kemampuan rudal Iran masih bertahan dengan baik meski sempat menjadi target operasi militer AS-Israel.
Sumber NATO di Eropa mengatakan setidaknya 60 persen persenjataan rudal Iran diyakini masih aktif dan dapat digunakan.
Hal itu terlihat dari kemampuan Iran yang dinilai masih mampu melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah wilayah di kawasan Teluk.
Baca juga: Donald Trump Absen dalam Pernikahan Putranya, Isu Iran Disebut Jadi Alasan Utama
“Bagaimana lagi menjelaskan jika mereka masih dapat menyerang negara-negara Teluk menggunakan rudal dan drone?” ujar seorang sumber senior NATO.
Menariknya Iran turut disebut berhasil memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 lokasi rudalnya di sepanjang Selat Hormuz.
Kawasan tersebut menjadi perhatian dunia karena merupakan jalur utama perdagangan minyak global.
Jika konflik kembali memanas di wilayah itu, distribusi energi dunia berpotensi terganggu dan memicu lonjakan harga minyak internasional.
Hal itu tentunya memicu kekhawatiran baru di Washington dan Tel Aviv karena kemampuan Iran dinilai pulih jauh lebih cepat dari perkiraan awal komunitas intelijen Barat.
Rusia dan China Turun Tangan Bantu Iran
Di tengah upaya Iran memulihkan kekuatan militernya pasca serangan Amerika Serikat dan Israel, laporan intelijen AS juga menyoroti adanya dugaan dukungan teknologi serta dukungan logistik dari Rusia selama masa gencatan senjata berlangsung.
Dukungan itu dinilai membantu Iran mempercepat pemulihan fasilitas produksi militer, termasuk sistem drone dan rudal yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan udara.
Selain Rusia, China juga disebut memiliki peran penting dalam rantai pasokan komponen militer Iran.
Dua sumber intelijen AS menyatakan bahwa Beijing diduga tetap memasok sejumlah komponen penting yang digunakan Iran untuk memproduksi rudal dan pesawat tak berawak di tengah konflik yang berlangsung.
Meski sebagian jalur distribusi mulai terganggu akibat blokade dan pengawasan Amerika Serikat, laporan tersebut menyebut pasokan komponen dari China masih terus berjalan dalam beberapa periode konflik terakhir.
Dugaan keterlibatan China sebelumnya juga sempat disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Netanyahu menuding Beijing ikut membantu Iran melalui pengiriman komponen tertentu yang berkaitan dengan pengembangan sistem senjata dan teknologi militer.
Namun, tuduhan tersebut langsung dibantah pemerintah China. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan bahwa tuduhan negaranya mendukung persenjataan Iran tidak memiliki dasar fakta.
Menurut Guo, China tetap berkomitmen menjaga stabilitas kawasan dan menolak berbagai tuduhan yang dianggap tidak berdasar.
Dukungan teknologi, logistik, dan pasokan komponen militer itu dinilai menjadi alasan mengapa pemulihan kekuatan Iran berlangsung lebih cepat dibanding perkiraan awal Amerika Serikat dan Israel.
Situasi tersebut kini memperbesar kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Selain memperpanjang konflik di Timur Tengah, keterlibatan negara-negara besar seperti Rusia dan China dalam dinamika Iran juga dinilai dapat memperumit hubungan internasional dan memperbesar rivalitas global antara blok Barat dan Timur.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.