Donald Trump Pimpin Amerika Serikat
Trump Dilaporkan Pasang Badan Bela PM Jepang Sanae Takaichi dari Xi Jinping
Trump juga dikabarkan secara khusus menelepon Sanae Takaichi saat berada di pesawat dalam perjalanan pulang dari KTT di China pada 14-15 Mei lalu
Ringkasan Berita:
- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan pasang badan membela Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dari rentetan kritik pedas Presiden China, Xi Jinping
- Menanggapi tekanan tersebut, Trump tidak hanya membela Takaichi di ruang rapat, tetapi juga secara khusus meneleponnya dalam perjalanan pulang untuk memberikan dukungan penuh
- Pihak Kementerian Luar Negeri China membantah keras narasi tersebut dan menyebutnya tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan membela Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, dari kritik Presiden China, Xi Jinping.
Pembelaan ini dikabarkan terjadi setelah Xi Jinping, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Jepang.
Adapun insiden ini sendiri terjadi saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang digelar selama dua hari di Beijing pada 14 hingga 15 Mei 2026 lalu.
Akar Masalah Jepang vs China
Sikap keras Xi Jinping terhadap Tokyo sebenarnya bukan hal baru.
Ketegangan ini memuncak sejak November tahun lalu, saat PM Takaichi secara terbuka menyatakan di parlemen Jepang bahwa negaranya kemungkinan besar akan mengambil tindakan jika sampai terjadi krisis militer di Taiwan.
Pernyataan tersebut jelas memicu kemarahan Beijing.
China bahkan menuduh pemerintahan Takaichi sedang membangun "militerisme baru" dan menyebut perkembangan militer Jepang saat ini telah menjadi ancaman nyata bagi keamanan kawasan Asia Timur.
Dalam KTT di Beijing pada 14-15 Mei lalu, Xi Jinping pun kembali mengulang kritik pedas kepada Sanae Takaichi tersebut di hadapan Trump.
Dukungan Penuh dari Washington
Mendengar rentetan kritik dari Xi Jinping, Trump rupanya tidak tinggal diam.
Berdasarkan catatan pihak Amerika Serikat, Trump langsung menanggapi dan membela Takaichi dengan menegaskan bahwa ia sangat menghargai gaya kepemimpinan Perdana Menteri Jepang tersebut.
Dukungan Trump ternyata tidak berhenti di ruang rapat.
Baca juga: Update Kerbau Kurban Disebut Mirip Trump, Tak Disembelih Berkat Mendagri Bangladesh
Melansir dari Asahi Shimbun, Trump juga dikabarkan secara khusus menelepon Takaichi saat berada di pesawat dalam perjalanan pulang dari China.
Adapun informasi tersebut didapatkan oleh Asahi Shimbun dari sejumlah pejabat pemerintah Jepang yang mengetahui dinamika KTT yang berlangsung pada 14-15 Mei
Setelah menerima telepon pada tanggal 15 Mei itu, Takaichi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada publik.
Hal ini yang diduga membuat Sanae Takaichi ikut merujuk sosok Trump yang dinilainya telah memberikan dukungan yang sangat luar biasa bagi Jepang dalam pidatonya kala itu.
Tak heran, langkah Trump ini langsung disambut gembira dan dipuji sebagai sebuah "prestasi diplomatik" oleh pemerintahan Jepang.
Menanggapi kedekatan pihak Amerika Serikat dan Jepang tersebut, China pun merespons dengan cerita yang berbeda.
Pada konferensi pers yang digelar pada Senin (25/5/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, membantah keras laporan tersebut.
Menurut Mao Ning, cerita tentang Trump yang membela Takaichi di dalam pertemuan itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh pihak China mengenai situasi yang sebenarnya terjadi.
Jalan Terjal Hubungan Jepang dan China
Baca juga: Kasus HAM Cina Terkatung-katung Usai KTT Trump–Xi
Walaupun tensi politik masih terasa kental, Tokyo sebenarnya tetap berusaha mencari celah untuk membuka dialog dengan Beijing.
Salah satu bentuk pendekatan ini ditunjukkan Takaichi saat ia mengirimkan pesan dukacita secara langsung kepada Xi Jinping atas tragedi ledakan gas di sebuah tambang batu bara di Provinsi Shanxi.
Melalui akun media sosial X miliknya, Takaichi juga mengungkapkan rasa sedihnya yang mendalam atas musibah tersebut.
Di samping itu, kedua negara juga sedang mencoba menjajaki komunikasi menjelang KTT pemimpin APEC di Shenzhen pada bulan November mendatang.
Sayangnya, jalan menuju perbaikan hubungan masih sangat terjal.
Pada 22 Mei lalu, Menteri Ekonomi Jepang Ryosei Akazawa memang sempat berbincang santai dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di sela-sela pertemuan APEC di Suzhou.
Namun, saat pihak Jepang meminta pertemuan bilateral secara resmi, permintaan tersebut belum dipenuhi oleh China.
Kakunya hubungan China dan Jepang ini juga diperkuat dari pernyataan seorang sumber Asahi Shimbun dari pihak pemerintahan Beijing pada Kamis (28/5/2026).
Sumber tersebut menyebutkan bahwa selama Takaichi tidak mencabut pernyataannya soal Taiwan di parlemen, China tidak akan mengubah sikap kerasnya.
(Tribunnews.com/Bobby)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Sanae-Takaichi-12222222.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.