Iran Vs Amerika Memanas
Iran Lancarkan Serangan Balas Dendam, Rudal IRGC Hantam Dua Pangkalan Udara AS
Iran ngamuk! Rudal IRGC menghantam dua pangkalan udara AS usai Bandar Abbas digempur. Timur Tengah di ambang perang besar dan krisis energi global.
Ringkasan Berita:
- Iran melancarkan serangan balasan ke dua pangkalan udara AS di kawasan Teluk setelah militer AS menggempur situs militer Iran di Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz.
- Pangkalan udara Ali Al Salem Air Base di Kuwait disebut menjadi target utama serangan rudal dan drone IRGC, bersama fasilitas militer AS lainnya di Camp Arifjan dan Camp Buehring.
- Konflik terbaru AS-Iran memicu kekhawatiran perang besar di Timur Tengah karena dapat mengganggu perdagangan minyak, memperburuk stabilitas kawasan Teluk.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah militer Iran melancarkan serangan balasan terhadap dua pangkalan udara Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Serangan tersebut dilakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) hanya beberapa jam setelah militer AS menggempur sebuah situs militer Iran di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz.
IRGC tak merinci pangkalan udara mana saja yang telah menjadi sasaran serangan, namun mengutip laporan BBC International salah satu pangkalan yang menjadi target utama adalah Ali Al Salem Air Base di Kuwait.
Pangkalan ini merupakan fasilitas penting Angkatan Udara Amerika Serikat yang selama ini digunakan untuk operasi militer dan pengawasan di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Kuwait mengonfirmasi, sistem pertahanan udara mereka sempat mencegat ancaman rudal dan drone yang mengarah ke wilayah tersebut, namun serangan tetap tidak bisa terhindarkan.
Selain Ali Al Salem, sejumlah laporan juga menyebut fasilitas militer AS di Camp Arifjan dan Camp Buehring di Kuwait ikut menjadi sasaran serangan drone Iran.
Serangan AS Picu Balasan Iran
Bukan tanpa alasan, serangan dilakukan IRGC sebagai bentuk balasan setelah militer AS menggempur sebuah situs militer Iran di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis Iran yang menjadi pusat aktivitas militer dan angkatan laut Iran di dekat Selat Hormuz.
Menurut pejabat militer AS, Iran saat itu telah mengoperasikan beberapa drone serang satu arah di sekitar Selat Hormuz.
Empat drone berhasil ditembak jatuh oleh pasukan Amerika sebelum mencapai target. Namun, militer AS kemudian menemukan adanya satu drone tambahan yang diduga sedang dipersiapkan untuk diluncurkan dari wilayah Bandar Abbas, Iran selatan.
Baca juga: Ketegangan Pecah Lagi, IRGC Klaim Tembak Drone Reaper AS usai Serangan CENTCOM ke Iran
Setelah mendeteksi ancaman tersebut, AS meluncurkan serangan udara ke sebuah fasilitas militer Iran yang disebut sebagai pusat kendali drone atau ground control station.
Serangan dilakukan pada malam hari dan memicu ledakan besar di wilayah timur Bandar Abbas. Bahkan media lokal Iran melaporkan suara dentuman keras terdengar di beberapa bagian kota.
Centcom menyebut operasi itu sebagai serangan “defensif dan terukur”, mereka menegaskan tujuan utama operasi tersebut adalah mencegah peluncuran drone Iran yang dinilai membahayakan keamanan pelayaran internasional serta menjaga gencatan senjata yang saat ini masih rapuh.
Namun bagi Iran, serangan AS tersebut dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang sebelumnya masih dijaga meski hubungan kedua negara terus memanas.
Pemerintah Iran menilai Washington telah melewati batas dengan menyerang fasilitas militernya secara langsung.
Karena itu, IRGC memutuskan melakukan operasi balasan sebagai bentuk peringatan keras kepada Amerika Serikat. Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya tidak akan dibiarkan tanpa respons militer.
Ancaman Perang Masih Membayangi Timur Tengah
Meski kedua negara beberapa kali memberi sinyal positif mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan damai, situasi di lapangan menunjukkan konflik masih jauh dari selesai.
Iran dan Amerika Serikat terus saling melancarkan serangan serta tekanan ekonomi di tengah negosiasi yang berlangsung alot.
Ketidakpastian ini membuat dunia internasional khawatir terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama karena dampaknya dapat langsung mempengaruhi harga minyak global dan keamanan perdagangan internasional.
Situasi ini membuat kawasan Teluk kembali berada dalam kondisi siaga tinggi. Banyak negara khawatir konflik Iran dan Amerika Serikat dapat berubah menjadi perang regional besar yang mempengaruhi stabilitas energi dan perdagangan global.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.