Konflik China dan AS
Hasil Studi IISS: Ketegangan Taiwan Berisiko Seret AS dan China ke Konflik Nuklir
Dalam skenario konflik, China kemungkinan akan berupaya menjauhkan kekuatan militer AS dan sekutunya dari kawasan sekitar Taiwan.
Ringkasan Berita:
- Lembaga IISS memperingatkan konflik militer AS dan China terkait Taiwan berpotensi berkembang menjadi eskalasi nuklir.
- Studi menyoroti minimnya mekanisme komunikasi dan pengendalian krisis antara Washington dan Beijing.
- Taiwan disebut menjadi titik paling sensitif di tengah meningkatnya perlombaan senjata dan rivalitas strategis di Asia Pasifik.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan China terkait Taiwan berpotensi berkembang menjadi konflik berskala lebih besar hingga memicu eskalasi nuklir.
Peringatan itu disampaikan dalam laporan terbaru International Institute for Strategic Studies (IISS), lembaga kajian keamanan berbasis di London, Inggris.
Baca juga: Perang Iran Gerus Stok Rudal Amerika, Jepang Kena Dampak untuk Hadapi Kekuatan China
Laporan setebal 156 halaman tersebut dirilis menjelang forum keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura dan menyoroti meningkatnya rivalitas militer di kawasan Asia Pasifik.
Menurut IISS, dunia saat ini sedang bergerak menuju fase baru perlombaan senjata nuklir dengan Asia Pasifik sebagai pusat utama persaingan strategis.
Dalam kajian tersebut, Taiwan disebut sebagai salah satu titik paling sensitif dalam hubungan antara Washington dan Beijing. IISS menilai potensi konflik di kawasan itu dapat meluas ke berbagai domain militer, termasuk serangan terhadap sistem komunikasi, komando, intelijen, dan pengawasan strategis.
Membaca Langkah China dan AS dalam Skenario Konflik
Studi itu menggambarkan bahwa dalam skenario konflik, China kemungkinan akan berupaya menjauhkan kekuatan militer AS dan sekutunya dari kawasan sekitar Taiwan.
Di sisi lain, Amerika Serikat diperkirakan fokus memperkuat pertahanan dan ketahanan Taiwan menghadapi tekanan militer Beijing.
IISS juga menyoroti minimnya “guard rails” atau mekanisme pengaman antara kedua negara untuk mencegah eskalasi tidak terkendali.
Peneliti lembaga tersebut menyebut belum ada bukti kuat bahwa Washington dan Beijing memiliki kesepakatan jelas mengenai aturan keterlibatan militer maupun prosedur pengurangan risiko konflik.
“Potensi eskalasi nuklir akan terus membayangi setiap konflik besar antara AS dan China yang melibatkan Taiwan,” tulis laporan tersebut seperti dikutip Reuters.
China selama ini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.
Meski demikian, Beijing menyatakan tetap mengedepankan opsi “reunifikasi damai”.
Pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan pulau itu memiliki pemerintahan sendiri.
Di tengah meningkatnya ketegangan, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning meminta Amerika Serikat menangani isu Taiwan dengan “sangat hati-hati”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Helikopter-militer-China-terbang-melewati-wilayah-Taiwan.jpg)