Iran Vs Amerika Memanas
Setelah 88 Hari, Warga Iran Akhirnya Bisa Akses Internet Lagi, Medsos Langsung Dibanjiri Curhatan
Setelah 88 hari, warga Iran akhirnya kembali online. Namun, media sosial justru dipenuhi tangisan, trauma, dan kemarahan.
Banyak warga menggunakan candaan satir untuk meluapkan rasa frustrasi terhadap kondisi politik, perang, hingga tekanan ekonomi yang terus membebani kehidupan mereka.
Tak hanya kepada pemerintah Iran, kemarahan warga juga diarahkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Awal Mula Internet Iran Dipadamkan
Pemerintah Iran pertama kali memutus akses internet secara luas pada 8 Januari 2026 sebagai bagian dari langkah pengamanan menghadapi gelombang protes antipemerintah di berbagai kota.
Situasi kemudian semakin memburuk setelah pecah konflik militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada akhir Februari.
Pemerintah Iran saat itu memperketat kontrol informasi dan membatasi akses komunikasi digital demi alasan keamanan nasional.
Akibatnya, jutaan warga Iran praktis terputus dari dunia luar. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mampu membeli layanan VPN mahal atau menggunakan internet satelit untuk tetap terhubung.
Sementara sebagian besar warga lainnya benar-benar hidup dalam isolasi digital selama hampir tiga bulan.
Baca juga: IRGC Iran Sebut Serangan ke Pangkalan Militer AS Sebagai Peringatan Serius, Kuwait Sibuk Cegat Drone
Warga Khawatir Pengawasan Digital Semakin Ketat
Meski akses internet di Iran mulai pulih secara bertahap setelah hampir tiga bulan mengalami pemadaman, banyak warga justru khawatir pemerintah akan memperketat pengawasan digital terhadap masyarakat.
Kekhawatiran tersebut muncul karena sebagian warga menilai pemulihan internet bukan sepenuhnya bentuk kebebasan, melainkan bagian dari sistem kontrol baru yang memungkinkan aktivitas digital masyarakat lebih mudah dipantau aparat keamanan.
Mina, seorang demonstran muda yang sempat ditangkap saat gelombang protes pada Januari lalu, mengaku tidak percaya pemerintah benar-benar membuka akses internet secara bebas.
Menurutnya, pemerintah kemungkinan sedang menggiring masyarakat menggunakan jaringan internet yang lebih mudah diawasi melalui sistem yang oleh sebagian warga disebut sebagai “filternet”.
Ia menilai langkah tersebut dapat membuat aktivitas komunikasi, unggahan media sosial, hingga percakapan pribadi warga menjadi lebih mudah dipantau oleh otoritas keamanan Iran.
Karena itu, meski akses komunikasi mulai tersedia kembali, sebagian masyarakat Iran mengaku masih hidup dalam rasa takut dan ketidakpastian.
(Tribunnews.com / Namira)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Bendera-Iran-32039.jpg)