Sabtu, 30 Mei 2026

Wabah Ebola

Tak Dirawat Dalam Negeri, AS 'Ekspor' Warganya yang Terkena Ebola ke Eropa

Pemerintahan AS menolak merawat warga negaranya yang terinfeksi Ebola di dalam negeri, dan lebih memilih untuk mengevakuasi mereka ke Eropa

Tayang:
Penulis: Bobby W
Editor: Tiara Shelavie
CDC
WABAH EBOLA - Foto yang dirilis oleh CDC, menampilkan seorang petugas kesehatan memeriksa seorang pasien penyakit Ebola di Uganda, tahun 2000. Pemerintahan AS menolak merawat warga negaranya yang terinfeksi Ebola di dalam negeri, dan lebih memilih untuk mengevakuasi mereka ke Eropa 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintahan AS menolak merawat warga negaranya yang terinfeksi Ebola di dalam negeri, dan lebih memilih untuk mengevakuasi atau "mengekspor" mereka ke negara-negara Eropa.
  • Sebagai langkah penanganan awal bagi warga AS yang terpapar virus, pemerintah telah mendirikan fasilitas karantina berkapasitas 50 tempat tidur di Pangkalan Udara Laikipia, Kenya.
  • Pemerintah AS berdalih bahwa pengalihan rute ke Eropa dilakukan karena waktu penerbangan yang lebih singkat

 

TRIBUNNEWS.COM - Administrasi pemerintahan Donald Trump kembali jadi sorotan setelah mewacanakan kebijakan kontroversial terhadap warga negara Amerika Serikat (AS) yang terjangkit virus Ebola dan membutuhkan perawatan medis lanjutan.

Alih-alih dirawat di dalam negeri sendiri, pejabat senior pemerintahan AS pada hari Kamis (28/5/2026) menyatakan bahwa mereka justru akan dikirim ke Eropa.

Melansir dari NBC, langkah ini merupakan rentetan kebijakan terbaru dari pemerintahan Trump untuk mencegah warganya yang terpapar atau terinfeksi Ebola masuk kembali ke dalam negeri.

Kebijakan ini dikeluarkan di tengah Wabah Ebola yang sedang berkecamuk di Republik Demokratik Kongo.

Sebagai langkah penanganan awal, AS telah mendirikan fasilitas karantina Ebola berkapasitas 50 tempat tidur di Pangkalan Udara Laikipia, Kenya tengah.

Lokasi karantina yang dikelola oleh anggota Layanan Kesehatan Masyarakat AS ini mulai beroperasi pada hari Jumat (29/5/2026) bagi warga AS yang terpapar.

Negara Eropa yang Dituju

Fasilitas di Kenya tersebut rencananya akan diperluas dengan unit isolasi dan penahanan biologis (biocontainment). 

Namun, mereka yang dinyatakan positif sakit tidak akan menetap di Kenya, dan tidak pula dipulangkan ke Amerika Serikat.

Mereka akan dievakuasi ke negara-negara Eropa yang lokasinya masih dirahasiakan.

Meski demikian, pejabat senior lain yang dihubungi NBC mulai memberi bocoran terkait negara Eropa yang dimaksud.

Baca juga: Ebola Bundibugyo Belum Ada Vaksin, WHO Minta Pengawasan Kontak 21 Hari

Ia mengisyaratkan bahwa sejumlah dokter dari AS telah dikirim ke rumah sakit rujukan di Jerman khusus untuk menangani kasus Ebola tersebut.

"Kami ingin memastikan warga negara Amerika mendapatkan perawatan terbaik," ungkapnya.

"Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri untuk mengidentifikasi di mana fasilitas atau fasilitas-fasilitas itu mungkin berada," sambung pejabat senior pemerintah tersebut kepada NBC.

Pemerintah AS berdalih bahwa waktu tempuh penerbangan yang lebih cepat ke Eropa menjadi alasan utama kebijakan pengalihan rute perawatan ini.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved