Iran Vs Amerika Memanas
Iran Tak Kehabisan Taring, Sistem Arash-e Kamangir Disebut Bisa Lumpuhkan Drone Reaper
Iran kembali mengejutkan dunia, meski digempur berbulan-bulan, Iran disebut masih punya pertahanan udara yang bikin AS waspada.
Karena perannya yang vital, kehilangan drone jenis ini di wilayah sensitif seperti Selat Hormuz dinilai memiliki dampak strategis tersendiri.
Mark Hilborne dari King’s College London mengatakan Iran dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan sistem pertahanan udara yang lebih murah dan fleksibel dibanding jaringan pertahanan konvensional.
Menurutnya, pendekatan itu membuat Iran tetap mampu menciptakan ancaman meski sebagian fasilitas pertahanan udara utamanya mengalami kerusakan akibat serangan Israel dan AS.
“Iran telah menjadi cukup mandiri dalam berbagai bentuk desain rudal,” kata Hilborne kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan sistem sederhana dan murah kini bisa menjadi ancaman serius bagi teknologi militer yang jauh lebih kompleks dan mahal.
Baca juga: 5 Populer Internasional: IRGC Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper - Kasus Kejahatan WNI di Tokyo Naik
Analis keamanan Horizon Engage, Alex Almeida, mengatakan Arash-e Kamangir kemungkinan merupakan pengembangan dari sistem rudal permukaan-ke-udara jarak pendek milik Iran.
Ia menduga sistem tersebut menggunakan sensor elektro-optik atau pencari panas sehingga tidak terlalu bergantung pada radar besar.
Menurut Almeida, sistem bergerak seperti itu lebih sulit dideteksi dan dihancurkan karena dapat dipindahkan dengan cepat.
Sistem pertahanan udara bergerak juga dinilai lebih efektif untuk menghadapi drone seperti MQ-9 Reaper yang bergerak lebih lambat karena fokus pada misi pengawasan udara.
Iran selama beberapa tahun terakhir terus meningkatkan produksi sistem pertahanan lokal sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.
Selain mengembangkan rudal dan drone, Iran juga diketahui membangun jaringan pertahanan udara domestik untuk menghadapi tekanan militer dari AS dan Israel.
Namun sejumlah laporan menyebut jaringan pertahanan udara Iran mengalami kerusakan besar akibat serangan dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, para analis menilai Iran masih mempertahankan kemampuan pertahanan terbatas melalui sistem bergerak yang lebih kecil dan fleksibel.
Nicole Grajewski dari Sciences Po Paris mengatakan strategi pertahanan Iran kini lebih berfokus pada mobilitas dan ketahanan sistem.
Menurutnya, sistem seperti Arash-e Kamangir mungkin tidak mampu menghentikan serangan udara besar-besaran, tetapi tetap dapat mempersulit operasi militer lawan.