China Vs NATO, Beijing Lancarkan Peperangan Elektronik Terhadap Kapal Perang Belanda di LCS
Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas setelah militer China mengklaim berhasil “mengusir” kapal perang Belanda di kawasan tersebut.
Ringkasan Berita:
- Ketegangan di Laut China Selatan meningkat setelah militer China mengklaim berhasil mengusir kapal perang Belanda di sekitar Kepulauan Paracel, wilayah yang juga diklaim Vietnam dan Taiwan.
- Insiden ini menjadi perhatian internasional karena Beijing disebut menggunakan tidak hanya pengusiran fisik, tetapi juga peperangan elektronik untuk mengganggu sistem kapal NATO.
- Komando Teater Selatan PLA menuduh kapal fregat Belanda masuk ke perairan yang mereka klaim sebagai wilayah teritorial tanpa izin.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas setelah militer China mengklaim berhasil “mengusir” kapal perang Belanda yang beroperasi di sekitar Kepulauan Paracel, wilayah sengketa yang juga diklaim Vietnam dan Taiwan.
Insiden ini menjadi sorotan internasional karena Beijing disebut tidak hanya melakukan pengusiran secara fisik, tetapi juga menggunakan kemampuan peperangan elektronik atau electronic warfare untuk mengganggu sistem kapal perang dari negata anggoat Aliansi Pertahanan NATO tersebut.
Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menyatakan kapal fregat Belanda memasuki wilayah yang mereka klaim sebagai perairan teritorial tanpa izin.
China kemudian mengerahkan angkatan laut dan angkatan udara untuk melakukan identifikasi, pemantauan, hingga pengusiran terhadap kapal tersebut.
Dalam pernyataan resmi militer China yang dikutip Reuters Kamis (28/5/2026), Beijing menuduh kapal perang Belanda sengaja menciptakan provokasi dan mengganggu stabilitas kawasan Laut China Selatan.
“Tindakan pihak Belanda melanggar kedaulatan dan keamanan China serta merusak perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan,” kata juru bicara Komando Teater Selatan PLA, Tian Junli, yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Media pemerintah China juga menyebut operasi pengusiran itu melibatkan langkah-langkah electronic warfare.
Sejumlah sumber militer yang dikutip South China Morning Post (SCMP) menyebut sistem radar, komunikasi, dan navigasi kapal perang Belanda sempat mengalami gangguan ketika berada di dekat wilayah sengketa Paracel.
Meski demikian, pemerintah Belanda membantah telah melanggar wilayah teritorial China.
Kementerian Pertahanan Belanda menegaskan kapal fregat mereka sedang menjalankan operasi kebebasan navigasi atau freedom of navigation operation (FONOP), sebuah operasi yang umum dilakukan negara-negara NATO dan sekutunya untuk menantang klaim maritim sepihak China di Laut China Selatan.
Belanda juga menegaskan bahwa pelayaran dilakukan sesuai hukum internasional, khususnya Konvensi Hukum Laut PBB atau UNCLOS.
Pemerintah Belanda menyebut Laut China Selatan merupakan jalur pelayaran internasional yang tidak boleh dikuasai sepihak oleh negara mana pun.
“Belanda dan sekutu internasional akan terus mempertahankan kebebasan navigasi sesuai hukum internasional,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Belanda seperti dikutip NL Times.
Insiden ini langsung memicu perhatian besar di kalangan pengamat militer karena penggunaan electronic warfare menandai eskalasi baru dalam rivalitas China dengan negara-negara NATO.
Berbeda dengan konfrontasi biasa menggunakan kapal penjaga pantai atau jet tempur, perang elektronik memungkinkan suatu negara melumpuhkan sensor, radar, komunikasi, hingga sistem persenjataan lawan tanpa harus melepaskan tembakan.
Electronic warfare sendiri menjadi salah satu pilar utama modernisasi militer China dalam satu dekade terakhir.
Beijing diketahui mengembangkan berbagai sistem jammer, radar disruption, spoofing GPS, hingga kemampuan cyber-electronic attack yang dapat mengganggu kapal perang dan pesawat asing di kawasan Indo-Pasifik.
Pengamat pertahanan di Asia menilai langkah China tersebut merupakan sinyal bahwa Beijing kini semakin percaya diri menggunakan instrumen non-kinetik untuk mempertahankan klaim teritorialnya.
Strategi ini dianggap lebih aman dibanding serangan langsung karena dapat menekan lawan tanpa memicu perang terbuka.
Kapal Perang yang Terlibat
Dalam insiden terbaru ini, kapal perang yang menjadi pusat perhatian adalah fregat Belanda HNLMS Tromp.
Kapal tersebut merupakan salah satu kapal tempur tercanggih milik Angkatan Laut Belanda dan termasuk bagian dari interoperabilitas NATO di kawasan Indo-Pasifik.
Berikut spesifikasi utama kapal perang HNLMS Tromp:
- Termasuk fregat kelas De Zeven Provinciën dengan kemampuan pertahanan udara jarak jauh.
- Memiliki sistem radar SMART-L dan APAR yang mampu mendeteksi ancaman udara serta rudal balistik.
- Dipersenjatai rudal permukaan-ke-udara SM-2 dan ESSM untuk menghadapi ancaman pesawat maupun misil.
- Dilengkapi meriam OTO Melara 127 mm, torpedo anti-kapal selam, dan sistem close-in weapon system (CIWS).
- Memiliki kemampuan peperangan elektronik, anti-kapal selam, serta interoperabilitas penuh dengan armada NATO.
Sementara itu, China dilaporkan mengerahkan sejumlah kapal perang dan aset udara dari Armada Laut Selatan PLA Navy untuk menghadang fregat Belanda tersebut.
Salah satu kapal yang disebut aktif dalam patroli kawasan Paracel adalah destroyer Type 052D, kapal perang modern yang menjadi tulang punggung armada China.
Berikut spesifikasi utama destroyer Type 052D milik China:
- Destroyer multi-peran dengan displacement sekitar 7.500 ton.
- Menggunakan radar AESA modern dan sistem peluncur vertikal (VLS) untuk rudal jarak jauh.
- Dipersenjatai rudal anti-kapal YJ-18 dan rudal pertahanan udara HQ-9B.
- Memiliki kemampuan peperangan elektronik dan anti-submarine warfare tingkat lanjut.
- Didesain untuk operasi laut biru dan pengawalan armada kapal induk China.
Ketegangan terus meningkat
Ketegangan di Laut China Selatan memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Kawasan ini menjadi jalur perdagangan strategis dunia dengan nilai transaksi mencapai triliunan dollar AS setiap tahun.
Selain itu, Laut China Selatan diyakini menyimpan cadangan minyak, gas, dan sumber daya laut yang besar.
China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan melalui garis sembilan putus atau nine-dash line. Klaim tersebut ditolak oleh sejumlah negara Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.
Pada 2016, Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag bahkan menyatakan klaim historis China tidak memiliki dasar hukum internasional, namun Beijing menolak putusan itu.
Bagi NATO, insiden ini menjadi pengingat bahwa kawasan Indo-Pasifik bukan lagi sekadar isu regional Asia, melainkan bagian dari kompetisi global antara kekuatan Barat dan China.
Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris, Prancis, Belanda, hingga Jerman semakin aktif mengirim kapal perang ke Indo-Pasifik untuk menunjukkan dukungan terhadap kebebasan navigasi.
Sementara bagi China, keberadaan kapal-kapal NATO di dekat wilayah sengketa dianggap sebagai bentuk intervensi asing terhadap kepentingan strategis nasional mereka.
Beijing berkali-kali menegaskan tidak akan membiarkan negara luar mencampuri urusan Laut China Selatan.
Dengan meningkatnya penggunaan electronic warfare, risiko salah perhitungan militer di kawasan pun semakin besar.
Gangguan radar atau komunikasi yang dianggap sebagai tindakan agresif sewaktu-waktu dapat memicu eskalasi lebih luas antara China dan negara-negara NATO.
Di tengah rivalitas global yang terus memanas, Laut China Selatan kini bukan hanya medan sengketa maritim, tetapi juga laboratorium perang modern abad ke-21.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kapal-perang-china-ok.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.