Konflik Rusia Vs Ukraina
Malam Mencekam di Ukraina, Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Kyiv, Dnipro, Kharkiv
Pada 1 Juni 2026 malam hingga 2 Juni 2026 dini hari, Rusia meluncurkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv.
Zelenskyy juga menyoroti bahwa Rusia telah melarang ekspor bensin dan bahan bakar penerbangan serta mempertimbangkan pembatasan ekspor solar.
Menurutnya, hingga Mei 2026 hampir 40 persen kapasitas penyulingan minyak utama Rusia tidak beroperasi, menunjukkan dampak signifikan dari kampanye serangan Ukraina terhadap sektor energi Rusia, lapor Kyiv Independent.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina secara terbuka pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Meski demikian, akar konflik kedua negara sebenarnya telah berkembang jauh sebelumnya, terutama sejak Ukraina memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991.
Setelah merdeka, Ukraina mulai menentukan arah kebijakan dalam negeri dan luar negerinya secara independen. Dalam beberapa dekade berikutnya, Kyiv semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara anggota Uni Eropa. Ukraina juga menunjukkan keinginan untuk bergabung dengan NATO, aliansi pertahanan yang dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan strategisnya.
Ketegangan meningkat tajam pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang berujung pada lengsernya Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Moskow. Tak lama setelah itu, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan memberikan dukungan kepada kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk, kawasan yang dikenal sebagai Donbas. Konflik bersenjata di wilayah tersebut kemudian berlangsung selama bertahun-tahun.
Sejumlah upaya diplomatik sempat dilakukan untuk meredakan konflik, termasuk melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi Prancis dan Jerman. Namun, implementasi kesepakatan tersebut menghadapi banyak hambatan karena kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.
Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer di Ukraina. Moskow menyatakan langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina dan mencegah ekspansi NATO. Sebaliknya, Ukraina bersama banyak negara Barat menilai tindakan itu sebagai invasi yang melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina.
Sejak perang berlangsung, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara sekutu memberikan bantuan militer, ekonomi, serta kemanusiaan kepada Ukraina. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menyasar sektor keuangan, energi, perdagangan, dan ekonomi secara luas.
Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh Rusia dan Ukraina, tetapi juga memengaruhi kondisi global. Konflik tersebut memicu gangguan pasokan energi dan pangan dunia, meningkatkan inflasi di sejumlah negara, serta memperbesar ketegangan geopolitik internasional.
Hingga kini, pertempuran masih terus berlangsung meskipun berbagai upaya diplomasi dan negosiasi perdamaian terus diupayakan.
Namun, proses dialog yang sebelumnya mendapat dorongan dari Amerika Serikat mengalami perlambatan setelah Washington terlibat dalam konflik dengan Iran, sehingga perhatian diplomatik AS kini juga terfokus pada perkembangan krisis di kawasan Timur Tengah.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ukrain4-234hw9rhwe9.jpg)