Iran Vs Amerika Memanas
Beirut Mencekam! Ribuan Warga Kabur Gegara Netanyahu Ancam Serangan Lebanon
Beirut mencekam! Ribuan warga Lebanon mengungsi usai Israel ancam serangan besar. Trump bahkan ngamuk ke Netanyahu gegara eskalasi perang.
Ringkasan Berita:
- Ribuan warga Lebanon mulai mengungsi dari Beirut selatan setelah Israel mengumumkan rencana serangan militer ke wilayah Dahiyeh yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
- Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan “tidak akan ada ketenangan di Beirut” jika serangan Hizbullah terhadap wilayah utara Israel terus berlanjut.
- Presiden AS Donald Trump dilaporkan marah kepada Netanyahu, menilai serangan Israel terlalu agresif.
TRIBUNNEWS.COM – Eksodus atau gelombang pengungsian besar mulai terjadi di wilayah Dahiyeh, pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, setelah pemerintah Israel memerintahkan serangan militer ke kawasan tersebut.
Ribuan warga dilaporkan memadati jalan-jalan utama untuk keluar dari wilayah yang dikenal sebagai basis kuat dukungan kelompok Hizbullah itu.
Situasi serupa juga terjadi di Beirut Selatan dimana sejumlah warga berusaha menyelamatkan diri dengan membawa barang dan meninggalkan rumah mereka sejak Israel mengumumkan rencana eskalasi pada Senin (1/6/2026) pukul 07.00 GMT.
“Segera setelah pemerintah Israel mengumumkan perintah serangan, orang-orang mulai mengemasi apa pun yang bisa mereka bawa dan meninggalkan lingkungan tersebut,” ujar Jurnalis Al Jazeera, Zeina Khodr, yang melaporkan langsung dari Beirut selatan.
Namun kondisi pengungsian disebut semakin sulit karena sebagian besar tempat penampungan yang dikelola pemerintah Lebanon telah penuh.
Banyak warga akhirnya memilih bertahan di dalam kendaraan mereka sambil menunggu perkembangan situasi keamanan.
Sejumlah keluarga bahkan terpaksa tidur di mobil atau di pinggir jalan karena tidak memiliki tempat tujuan lain yang aman.
Israel Ancam Tak Akan Ada Ketenangan di Beirut
Kepanikan ini terjadi tak lama setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa Israel akan terus meningkatkan tekanan militer terhadap Hizbullah apabila serangan terhadap wilayah utara Israel tidak dihentikan.
Dalam pernyataannya, Katz mengatakan “tidak akan ada ketenangan di Beirut” jika Hizbullah terus melancarkan serangan lintas perbatasan.
Israel juga mengumumkan rencana untuk memperluas kontrol keamanan di wilayah Sungai Litani, Lebanon selatan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyebut operasi tersebut sebagai “pergeseran dramatis” dalam kampanye militer Israel melawan Hizbullah.
Ia menegaskan Israel akan memperluas cengkeraman militernya di wilayah-wilayah yang dianggap berada di bawah pengaruh Hizbullah.
Baca juga: Abaikan Upaya Gencatan Senjata Trump, Pesawat Tempur Israel Lancarkan Serangan di Lebanon Selatan
Termasuk Kastil Beaufort atau Qalaat al-Shaqif di Lebanon selatan, lokasi bersejarah di utara Sungai Litani yang menjadi titik penetrasi terdalam pasukan Israel ke Lebanon dalam beberapa dekade terakhir.
Pemerintah Israel menilai tekanan militer perlu diperkuat untuk memaksa Hizbullah menghentikan serangan dan menjauh dari wilayah perbatasan.
Namun, langkah tersebut juga memicu kekhawatiran internasional karena dikhawatirkan dapat memperluas konflik dan memperburuk krisis kemanusiaan di Lebanon.
Trump Ngamuk Gara-gara Serangan Israel ke Lebanon
Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat meluapkan amarahnya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu usai Israel meningkatnya eskalasi serangan ke Lebanon.
Melalui percakapan telepon pada Senin (1/6/2026) Trump berteriak kepada Netanyahu, melontarkan kalimat, “Apa yang kau lakukan?” sebagai bentuk kemarahan terhadap langkah militer Israel yang dianggap terlalu agresif.
Dalam percakapan tersebut, Trump memperingatkan Netanyahu bahwa operasi militer berlebihan justru akan membuat Israel semakin terisolasi di mata dunia internasional.
Washington khawatir eskalasi perang dapat memicu tekanan global yang lebih besar terhadap Israel sekaligus memperburuk stabilitas kawasan.
Selain faktor militer, Gedung Putih juga cemas konflik Lebanon dapat menggagalkan jalur diplomasi yang tengah dibangun Amerika Serikat dengan Iran.
Baca juga: Pasca-Memaki Netanyahu Soal Lebanon, Trump Buru-buru Umumkan Gencatan Senjata
Sebelum percakapan telepon itu terjadi, Iran diketahui mengancam akan menghentikan negosiasi dengan Washington akibat tindakan militer Israel di Lebanon.
Pemerintah AS menilai meluasnya konflik dapat memicu ketidakstabilan baru di Timur Tengah serta memperumit hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan negara-negara regional.
Hingga kini, pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan kemarahan Trump tersebut.
Namun setelah pembicaraan telepon berlangsung, Israel akhirnya membatalkan rencana serangan besar ke Beirut yang sebelumnya sempat memicu kepanikan warga Lebanon dan kekhawatiran internasional.
(Tribunnews.com/Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.