Konflik Rusia Vs Ukraina
Ukraina Siaga Penuh, Zelenskyy: Serangan Besar Rusia Bisa Datang dalam Waktu Dekat
Presiden Ukraina Zelenskyy sebut informasi intelijen yang mengungkap kemungkinan serangan besar Rusia pada 2 Juni malam waktu setempat.
Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia berpotensi kembali melancarkan serangan besar dalam waktu dekat berdasarkan informasi intelijen yang diterima Kyiv.
- Menurutnya, Rusia telah menembakkan lebih dari 70 rudal dan sekitar 750 drone dalam serangan yang menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 130 lainnya.
- Zelenskyy mengakui keterbatasan stok pertahanan udara Ukraina dan mendesak negara-negara sekutu untuk meningkatkan bantuan militer.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1561 pada Rabu (3/6/2026).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia berpotensi kembali melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Ukraina dalam waktu dekat.
Peringatan tersebut disampaikan berdasarkan informasi intelijen yang diterima pemerintah Ukraina setelah gelombang serangan rudal dan drone yang menimbulkan banyak korban jiwa.
Dalam pidato malam pada 2 Juni, Zelenskyy meminta masyarakat Ukraina untuk selalu memperhatikan peringatan serangan udara dan segera mencari perlindungan ketika sirene berbunyi.
"Kami mengetahui dari dinas intelijen bahwa serangan skala besar mungkin akan terjadi lagi malam ini. Mohon, saya mendesak Anda, perhatikan peringatan serangan udara," kata Zelenskyy.
Menurut Zelenskyy, Rusia melancarkan serangan besar pada malam 1 hingga 2 Juni dengan menembakkan lebih dari 70 rudal dan sekitar 650 drone ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan tersebut berlanjut sepanjang hari dengan tambahan sekitar 100 drone.
Akibat serangan itu, sedikitnya 22 orang dilaporkan tewas, termasuk dua anak-anak, sementara sekitar 130 orang lainnya mengalami luka-luka. Sejumlah bangunan sipil juga menjadi sasaran, termasuk permukiman warga dan sebuah klinik di ibu kota Kyiv.
"Sayangnya, tingkat persediaan pertahanan udara kita saat ini tidak memungkinkan kita untuk menembak jatuh sebagian besar rudal. Belasungkawa saya kepada semua yang kehilangan kerabat dan orang-orang yang mereka cintai," ujar Zelenskyy.
Presiden Ukraina itu juga kembali mengkritik Presiden Rusia Vladimir Putin atas serangan yang menurutnya telah merenggut nyawa warga sipil.
"Sekali lagi, Putin dan kegilaannya telah merenggut nyawa anak-anak biasa, bangunan tempat tinggal, dan sebuah klinik di Kyiv," tegasnya.
Baca juga: Malam Mencekam di Ukraina, Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Kyiv, Dnipro, Kharkiv
Di tengah meningkatnya serangan Rusia, Zelenskyy mendesak negara-negara Eropa dan para sekutu Ukraina untuk terus memperkuat bantuan pertahanan udara. Ia menilai Ukraina membutuhkan lebih banyak rudal pencegat, sistem pertahanan modern, serta dukungan intelijen guna melindungi warga sipil dari serangan berikutnya.
Selain itu, Zelenskyy menyoroti ketergantungan industri militer Rusia terhadap komponen impor dari luar negeri. Menurutnya, berbagai rudal dan drone yang digunakan Rusia tidak dapat diproduksi tanpa ribuan komponen yang berasal dari negara lain.
Ia menyebut lima rudal Kalibr mengandung sekitar 145 komponen impor, sementara 33 rudal Iskander memiliki lebih dari 1.100 komponen asing. Bahkan sekitar 650 drone serang yang digunakan Rusia mengandung lebih dari 17.000 komponen yang berasal dari luar negeri.
Karena itu, Zelenskyy menegaskan bahwa pengetatan sanksi internasional dan penghentian pasokan komponen teknologi ke Rusia menjadi langkah penting untuk membatasi kemampuan Moskow melanjutkan serangan militernya terhadap Ukraina, lapor Suspilne.
AS Berencana Akhiri Pengecualian Sanksi Minyak Rusia, Rubio: Ini Hanya Langkah Sementara
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan bahwa pemerintah AS ingin segera mengakhiri pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Rusia yang saat ini masih berlaku.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio saat memberikan keterangan di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS pada 2 Juni.
Dalam sidang tersebut, Senator Partai Demokrat, Jeanne Shaheen, menanyakan apakah pemerintah AS akan kembali memperpanjang pengecualian sanksi terhadap minyak Rusia.
Rubio menjelaskan bahwa keputusan akhir berada di tangan Departemen Keuangan AS. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan utama Washington tetap mendukung pemberlakuan sanksi terhadap sektor minyak Rusia.
"Kami ingin mengakhirinya sesegera mungkin, karena kebijakan dasar negara ini adalah memberikan sanksi terhadap minyak Rusia. Pengecualian ini hanya bersifat sementara dengan tujuan membantu meningkatkan pasokan minyak global," kata Rubio.
Pengecualian tersebut pertama kali diberlakukan pada Maret lalu dan ditujukan untuk minyak Rusia yang sudah berada dalam perjalanan laut sebelum sanksi diterapkan. Langkah itu diambil guna mencegah gangguan pasokan energi dunia yang dapat memicu lonjakan harga minyak.
Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.
Pada Mei lalu, pemerintah AS memutuskan untuk memperpanjang sementara pengecualian tersebut sebagai langkah untuk menjaga stabilitas harga energi internasional dan menghindari kekurangan pasokan minyak di pasar global.
Namun, kebijakan itu menuai kritik dari sejumlah pihak di Eropa. Valdis Dombrovskis menyayangkan keputusan Washington memperpanjang pengecualian tersebut karena dinilai dapat mengurangi tekanan ekonomi terhadap Rusia.
Meski demikian, pernyataan terbaru Rubio menunjukkan bahwa pemerintah AS masih berkomitmen untuk mengakhiri pengecualian itu dan kembali menerapkan sanksi secara penuh terhadap sektor minyak Rusia dalam waktu mendatang, lapor Pravda.
Juara Ukraina Marta Kostyuk Kritik Diamnya Petenis Rusia di Tengah Serangan Mematikan ke Kyiv
Petenis Ukraina, Marta Kostyuk, melontarkan kritik kepada sejumlah petenis Rusia yang memilih tidak memberikan komentar terkait perang yang masih berlangsung di Ukraina.
Pernyataan itu disampaikan setelah Kostyuk meraih kemenangan penting dan melaju ke semifinal turnamen tenis. Menurutnya, para atlet Rusia mengetahui apa yang sedang terjadi di Ukraina, tetapi memilih untuk tetap diam.
Kostyuk mengatakan, "Mereka semua sudah dewasa. Mereka tahu apa yang sedang terjadi. Mereka punya telepon, Instagram, dan akses berita. Saya berharap ada sikap yang lebih jelas tentang apa yang sedang terjadi, terutama ketika negara Anda membunuh orang lain."
Ia juga mempersembahkan kemenangannya untuk rakyat Ukraina yang masih menghadapi serangan rudal dan drone Rusia.
"Saya ingin mempersembahkan pertandingan ini kepada rakyat Ukraina dan ketahanan mereka. Dengan semua yang terjadi, berada di sini adalah sebuah berkah," ujar Kostyuk.
Marta Kostyuk Puji Daria Kasatkina yang Berani Bersuara soal Perang Rusia-Ukraina
Di tengah kritiknya terhadap atlet Rusia yang memilih diam, Marta Kostyuk secara khusus memberikan apresiasi kepada Daria Kasatkina.
Kasatkina dikenal sebagai salah satu atlet yang secara terbuka mengkritik perang dan kemudian beralih membela Australia.
Menurut Kostyuk, keberanian Kasatkina patut dihargai karena tidak semua orang berani menyampaikan pendapat yang berbeda dari kebijakan negaranya.
"Saya mengenal beberapa orang yang meninggalkan Rusia begitu perang dimulai, menjual bisnis mereka, dan meninggalkan segalanya karena tidak setuju dengan apa yang dilakukan negara mereka terhadap orang lain," kata Kostyuk.
Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki pilihan untuk menyuarakan keyakinannya jika memang tidak setuju dengan perang, lapor The Guardian.
Stok Rudal Pertahanan Menipis, Ukraina Kesulitan Hadapi Gelombang Serangan Rusia
Ukraina menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan wilayah udaranya akibat berkurangnya persediaan rudal pencegat pertahanan udara.
Serangan besar-besaran Rusia yang melibatkan puluhan rudal dan ratusan drone menunjukkan bahwa kebutuhan rudal pertahanan semakin mendesak.
Laporan menyebutkan rudal pertahanan udara jenis Patriot kini menjadi rebutan banyak negara, termasuk Ukraina dan negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Akibat keterbatasan stok tersebut, Ukraina semakin sulit mencegat seluruh serangan yang datang dari Rusia.
Menlu Ukraina Desak Dunia Perketat Sanksi terhadap Moskow
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, meminta negara-negara mitra memberikan tekanan lebih besar kepada Rusia melalui sanksi tambahan dan bantuan militer.
Menurut Sybiha, Rusia mengalami kesulitan di medan perang sehingga terus mengandalkan serangan rudal dan drone terhadap wilayah sipil.
"Moskow kalah di medan perang. Tidak ada jumlah rudal yang dapat mengubah itu. Yang dapat kita ubah adalah kemampuan Rusia untuk melanjutkan teror," ujar Sybiha.
Pemerintah Ukraina berharap dukungan internasional dapat membantu memperkuat pertahanan negara tersebut.
Kilang Minyak Rusia Terbakar, Moskow Klaim Hancurkan Drone Ukraina
Tidak hanya Ukraina yang menjadi sasaran serangan. Wilayah Rusia juga mengalami serangan pesawat nirawak atau drone.
Salah satu insiden terjadi di sebuah kilang minyak di wilayah Krasnodar yang dilaporkan terbakar setelah terkena serangan drone.
Sementara itu, Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Rusia berhasil menghancurkan sejumlah drone Ukraina yang menuju ibu kota.
Menurut Sobyanin, delapan drone berhasil ditembak jatuh beberapa jam sebelum tengah malam.
Kharkiv Terancam, Ribuan Warga Diperintahkan Mengungsi dari Daerah Perbatasan
Pemerintah wilayah Kharkiv di timur Ukraina mengeluarkan perintah evakuasi wajib bagi ribuan warga yang tinggal di dekat perbatasan Rusia.
Keputusan ini diambil karena meningkatnya intensitas serangan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Gubernur Kharkiv, Oleg Synegubov, mengatakan situasi keamanan semakin memburuk sehingga evakuasi perlu diperluas.
"Dengan mempertimbangkan situasi keamanan dan serangan musuh yang terus berlangsung, kami memperluas zona evakuasi wajib," kata Synegubov.
Lebih dari 7.000 warga terdampak oleh kebijakan tersebut.
Perdana Menteri Baru Hungaria Siap Bertemu Zelenskyy, Hubungan Dua Negara Berpotensi Membaik
Perdana Menteri baru Hungaria, Péter Magyar, menyatakan kesiapannya untuk bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy guna membuka lembaran baru hubungan kedua negara.
Pernyataan tersebut muncul setelah Magyar menggantikan pendahulunya yang selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan Moskow.
Magyar mengatakan pembicaraan teknis terkait hak-hak minoritas Hungaria di Ukraina menunjukkan perkembangan yang positif.
"Negosiasi sejauh ini berjalan sangat menggembirakan, dan kami berharap dapat diselesaikan pada tingkat teknis minggu ini," ujar Magyar.
Jika pertemuan tersebut terlaksana, hubungan Hungaria dan Ukraina berpotensi memasuki fase yang lebih baik dibanding sebelumnya.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan operasi militer skala besar ke sejumlah wilayah Ukraina. Namun, akar permasalahan yang memicu perang tersebut sebenarnya telah berkembang jauh sebelumnya, sejak Ukraina memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991.
Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina mulai menentukan arah politik dan kebijakan luar negerinya sendiri. Seiring berjalannya waktu, negara itu semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara anggota Uni Eropa.
Ukraina juga menunjukkan minat untuk bergabung dengan NATO, sebuah aliansi pertahanan yang dipimpin oleh negara-negara Barat. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan pengaruhnya di kawasan Eropa Timur.
Hubungan kedua negara semakin memanas pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan di Ukraina. Peristiwa itu berujung pada lengsernya Presiden Ukraina saat itu, Viktor Yanukovych, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Moskow.
Tidak lama setelah pergantian pemerintahan tersebut, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea. Pada saat yang sama, kelompok separatis yang didukung Rusia mulai melakukan perlawanan di wilayah Donetsk dan Luhansk, kawasan yang dikenal sebagai Donbas. Konflik bersenjata di wilayah itu kemudian berlangsung selama bertahun-tahun.
Sejumlah upaya perdamaian sempat ditempuh melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Namun, implementasi kesepakatan tersebut berjalan sulit karena masing-masing pihak saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap isi perjanjian.
Puncaknya terjadi pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan dimulainya operasi militer di Ukraina. Rusia menyatakan langkah itu dilakukan untuk melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina serta mencegah perluasan NATO ke dekat perbatasannya. Sebaliknya, Ukraina dan banyak negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara Ukraina.
Sejak perang pecah, Ukraina menerima dukungan militer, ekonomi, dan bantuan kemanusiaan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara sekutu lainnya. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menyasar sektor ekonomi, keuangan, teknologi, hingga energi.
Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh kedua negara yang terlibat. Konflik ini turut memengaruhi stabilitas global, termasuk terganggunya pasokan energi dan pangan dunia, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.
Hingga saat ini, pertempuran masih terus berlangsung meskipun berbagai upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata dan perdamaian jangka panjang tetap dilakukan.
Sementara itu, proses negosiasi yang sebelumnya mendapat dorongan dari Amerika Serikat mengalami perlambatan. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi situasi tersebut adalah meningkatnya fokus Washington terhadap konflik lain di Timur Tengah, khususnya setelah keterlibatan militer AS dalam ketegangan dengan Iran, yang juga masih belum menemukan penyelesaian akhir.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ukrain4-23423r4werr.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.