Konflik Palestina Vs Israel
Bisnis Senjata Israel Pecah Rekor, Raup Rp312 Triliun meski Diboikot gara-gara Perang
Bisnis senjata Israel pecah rekor Rp312 triliun pada 2025 meski diboikot akibat perang Gaza. Asia jadi pasar terbesar senjata Israel.
Ringkasan Berita:
- Israel cetak rekor baru penjualan senjata global pada 2025 dengan nilai ekspor mencapai Rp312 triliun, naik hampir 30 persen dibanding tahun sebelumnya.
- Kawasan Asia-Pasifik menjadi pasar terbesar dengan lonjakan transaksi hampir dua kali lipat menjadi 6,1 miliar dolar AS, didorong tingginya kebutuhan teknologi militer modern dan sistem pertahanan udara.
- Meski begitu industri pertahanan Israel masih terhambat boikot, hingga larangan dari sejumlah negara Eropa terkait perang Gaza
TRIBUNNEWS.COM – Israel kembali mencetak rekor dalam industri pertahanan global setelah nilai penjualan senjatanya tembus 19,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 312 triliun (kurs Rp 17.868) sepanjang tahun 2025.
Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah industri pertahanan Israel, menandai kenaikan selama lima tahun berturut-turut.
Menurut data yang dirilis Kementerian Pertahanan Israel melalui Direktorat Kerja Sama Pertahanan Internasional atau SIBA nilai ekspor senjata di tahun 2025 meningkat hampir 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 14,8 miliar dolar AS.
Kenaikan signifikan ini menunjukkan bahwa produk pertahanan Israel masih sangat diminati di pasar internasional meskipun negara tersebut terus menghadapi tekanan politik dan kritik global akibat perang di Jalur Gaza.
Salah satu lonjakan terbesar berasal dari kawasan Asia-Pasifik. Penjualan senjata Israel ke wilayah tersebut dilaporkan naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada tahun 2024, nilai transaksi pertahanan Israel di kawasan Asia-Pasifik berada di angka sekitar 3,4 miliar dolar AS. Namun pada tahun 2025, nilainya melonjak drastis menjadi sekitar 6,1 miliar dolar AS.
Dikutip dari The Times of Israel, Kawasan Asia-Pasifik menjadi pasar strategis karena meningkatnya kebutuhan negara-negara di wilayah tersebut terhadap teknologi militer modern, sistem pertahanan udara, drone tempur, radar, hingga sistem keamanan siber.
Analis pertahanan menilai produk militer Israel dianggap unggul karena telah teruji dalam berbagai operasi militer nyata.
Faktor inilah yang membuat banyak negara tetap tertarik membeli teknologi pertahanan Israel meskipun ada tekanan diplomatik dari komunitas internasional.
Reformasi Perizinan Jadi Faktor Pendorong
Peningkatan ekspor senjata Israel juga tidak lepas dari kebijakan baru pemerintah negara tersebut. Tahun lalu Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel Amir Baram menyetujui serangkaian reformasi besar untuk mempercepat penjualan senjata ke luar negeri.
Kebijakan tersebut mencakup pelonggaran signifikan dalam proses perizinan ekspor pertahanan serta perluasan daftar negara yang diperbolehkan membeli produk militer Israel.
Baca juga: Krisis Bawa Israel ke Jurang Tanpa Dasar: Antara Kesehatan Mental, Pengungsian, dan Keamanan
Langkah ini dinilai berhasil mempercepat transaksi dan membuka pasar baru bagi perusahaan pertahanan Israel. Pemerintah Israel juga disebut lebih agresif dalam melakukan pendekatan diplomasi pertahanan ke berbagai negara.
Transaksi Antarpemerintah Mendominasi
Kementerian Pertahanan Israel menyebut lebih dari separuh ekspor pertahanan tahun 2025 berasal dari transaksi antar pemerintah atau Government to Government (G2G).
Nilainya mencapai sekitar 10 miliar dolar AS. Selain itu, sebanyak 53 persen dari total ekspor berasal dari kontrak bernilai lebih dari 100 juta dolar AS.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pembeli bukan hanya perusahaan swasta, melainkan langsung pemerintah negara-negara mitra yang membeli sistem persenjataan dalam skala besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/senjata-israel-melawan-hamas.jpg)