Virus Ebola
Ebola Mengganas di Kongo: Pemakaman Korban Tewas Akibat Virus Ricuh, Empat Relawan Terluka
Kericuhan terjadi dalam pemakaman korban Ebola di Bunia, Republik Demokratik Kongo, setelah warga memaksa peti mati dibuka.
Ringkasan Berita:
- Warga marah mencoba membuka peti mati korban Ebola karena curiga jenazah tidak berada di dalamnya.
- Empat relawan Palang Merah terluka saat berusaha menjelaskan prosedur pemakaman aman.
- Kasus Ebola di Kongo kini menembus 300 kasus dengan 48 kematian.
TRIBUNNEWS.COM - Kekacauan pecah di pemakaman seorang korban penyakit virus Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo, menyebabkan empat relawan Palang Merah terluka parah.
Insiden itu terjadi Senin di pemakaman Nyamurongo, Kota Bunia, ibu kota Provinsi Ituri.
Menurut laporan Radio Okapi yang berafiliasi dengan PBB, situasi berubah ricuh ketika sekelompok pemuda menuntut agar peti mati dibuka.
Mereka ingin memastikan jenazah orang yang meninggal benar-benar berada di dalam peti tersebut.
“Tak lama sebelum penguburan, beberapa rekan almarhum serta pemuda dari masyarakat menuntut agar peti mati dibuka. Mereka ingin memastikan tubuh orang yang mereka cintai benar-benar hadir,” demikian laporan yang mengutip saksi mata.
Permintaan itu ditolak oleh relawan Palang Merah yang bertugas menjalankan prosedur pemakaman aman sesuai protokol penanganan Ebola.
Penolakan tersebut memicu kemarahan massa dan situasi dengan cepat berubah menjadi bentrokan fisik, mengutip Anadolu Agency, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Menkes Budi Gunadi Imbau Masyarakat Tak Panik Hadapi Ebola: Penularannya Tak Semudah COVID-19
Laporan itu menyebut para relawan diserang ketika mencoba menjelaskan langkah-langkah pencegahan kepada para pelayat. Aparat keamanan kemudian turun tangan untuk membubarkan kericuhan.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Palang Merah di Kongo terkait insiden tersebut.
Otoritas kesehatan setempat mengatakan perlawanan masyarakat, rumor, serta disinformasi memperumit penanganan wabah Ebola di Bunia dan Kota Nizi di timur laut negara itu.
Media lokal melaporkan sebuah video viral di media sosial ikut memicu amarah warga setelah menuduh peti mati yang dibawa tim medis dalam keadaan kosong.
Anggota parlemen Ituri, Jean-Pierre Bikilisende, menyebut insiden tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Sejak wabah terbaru diumumkan pada 15 Mei, epidemi Ebola masih aktif di tiga provinsi, yakni Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
Hingga Senin (1/6/2026), jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo telah melampaui 300 kasus dengan total 48 kematian.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ebola-jenazah-dk2.jpg)