Kamis, 4 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

5 Kali Donald Trump Memarahi Netanyahu, dari Perang Gaza hingga Konflik Iran

Sejak 2025 hingga 2026, Donald Trump beberapa kali dilaporkan memarahi Benjamin Netanyahu terkait perang Gaza, konflik Lebanon, dan nuklir Iran.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
  • Sejak 2025 hingga 2026, Donald Trump beberapa kali dilaporkan memarahi Benjamin Netanyahu terkait perang Gaza, konflik Lebanon, dan negosiasi nuklir Iran.
  • Meski sering terjadi ketegangan dalam percakapan pribadi, kebijakan dukungan AS terhadap Israel secara umum tidak mengalami perubahan besar.
  • Di tengah hubungan yang kerap memanas dengan Netanyahu, pemerintahan Trump tetap melanjutkan upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran.

TRIBUNNEWS.COM - Pada Januari 2024, media AS Axios melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat saat itu, Joe Biden, mulai kehilangan kesabaran terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait perang di Gaza.

Perang telah berlangsung selama berbulan-bulan saat itu, sementara Biden menghadapi tekanan publik atas dukungan AS terhadap konflik tersebut.

Konflik itu terus berlanjut hingga akhir masa jabatan Biden dan merembet ke 10 bulan pertama masa kepresidenan kedua Donald Trump.

Sejak saat itu, media terus menerbitkan laporan anonim mengenai keretakan hubungan dan percakapan telepon yang menegangkan antara Trump dan Netanyahu.

Meski demikian, dukungan AS terhadap sekutunya di Timur Tengah itu tidak pernah benar-benar goyah.

Laporan terbaru yang juga bersumber dari percakapan anonim mengenai adu mulut dan kemarahan antara kedua pemimpin kembali muncul pekan ini dan menyebar luas di media internasional.

Axios melaporkan pada Senin (1/6/2026) bahwa Trump menyebut Netanyahu "sangat gila" dan memakinya terkait eskalasi serangan Israel di Lebanon.

Pada waktu yang hampir bersamaan, serangan Israel menewaskan enam orang, termasuk dua anak-anak, di Kota Al-Marwaniyah, Lebanon selatan.

Baca juga: Rumor Perseteruan Trump dan Netanyahu Mencuat, Analis: Bisa Jadi Hanya Perang Narasi

Para ahli menilai bahwa terlepas dari bocoran perselisihan dan kata-kata kasar antara para pemimpin AS dan Netanyahu, yang paling penting adalah kebijakan yang diterapkan, dan sejauh ini kebijakan tersebut nyaris tidak berubah.

Ryan Costello, Direktur Kebijakan National Iranian American Council Action (NIAC), mengatakan para pengamat politik mulai mengejek laporan tentang kemarahan presiden AS terhadap Netanyahu di balik layar.

"Yang benar-benar penting adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam praktiknya," kata Costello kepada Al Jazeera.

Ini bukan pertama kalinya Donald Trump memarahi Netanyahu karena sikapnya yang dianggap mencoba memengaruhi kebijakan luar negeri AS.

BAHAS IRAN - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam sebuah pertemuan. Keduanya bertemu pada Rabu (11/2/2026) di Washington DC, AS, untuk membahas soal Iran seiring berlangsungnya negosiasi AS dengan Teheran.
BAHAS IRAN - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam sebuah pertemuan. Keduanya bertemu pada Rabu (11/2/2026) di Washington DC, AS, untuk membahas soal Iran seiring berlangsungnya negosiasi AS dengan Teheran. (Tribunnews.com/Tangkap Layar/Khaberni)

Januari 2025

Mengutip TRT World, pada 10 Januari 2025, Trump melakukan intervensi besar pertamanya melalui utusan khusus Timur Tengah, Steve Witkoff.

Ia mendesak Netanyahu menerima kesepakatan gencatan senjata Gaza, yang merupakan kerangka kerja yang telah dibangun tim Joe Biden selama berbulan-bulan.

Netanyahu awalnya menolak, tetapi akhirnya menyerah.

Menurut Trump, "tidak ada pilihan lain, dengan saya Anda harus setuju."

Gencatan senjata pun berlaku dan para sandera mulai dipulangkan.

Namun, enam minggu kemudian, pada Maret 2025, Netanyahu secara sepihak mengakhiri kesepakatan tersebut dengan memerintahkan militer kembali ke Gaza dan melancarkan pemboman baru.

Pemerintahan Trump, yang secara terbuka mempertaruhkan kredibilitasnya pada kesepakatan itu, menyalahkan kelompok Hamas atas kegagalan gencatan senjata.

Oktober 2025

Masih mengutip TRT World, setelah berbulan-bulan kekerasan kembali menimpa warga sipil Gaza, Trump menengahi gencatan senjata kedua pada Oktober 2025.

Namun, untuk mencapainya diperlukan konfrontasi baru dengan Netanyahu.

Ketika Hamas memberikan sinyal terbuka untuk mencapai kesepakatan, Trump menelepon Netanyahu pada 4 Oktober.

Namun, Netanyahu mengatakan bahwa respons Hamas merupakan penolakan dan tidak berarti apa-apa.

Menurut seorang pejabat AS yang dikutip Axios, Trump membalas:

"Saya tidak mengerti mengapa Anda selalu begitu pesimis. Ini adalah kemenangan. Terimalah."

"Bibi, kau tidak bisa melawan dunia," kata Trump kepadanya, sebagaimana kemudian ia ceritakan kepada majalah TIME.

Setelah mendapat tekanan, Netanyahu akhirnya mengalah dan gencatan senjata kedua diumumkan.

Namun hingga akhir 2025, Israel belum bergerak menuju fase kedua, yaitu penarikan penuh dari Gaza sebagaimana dipersyaratkan dalam perjanjian tersebut.

Hamas kemudian menyatakan secara terbuka bahwa Israel harus memenuhi seluruh ketentuan fase pertama sebelum pembahasan mengenai perlucutan senjata dapat dimulai.

Netanyahu terus menunda implementasi kesepakatan, pasukannya tetap dikerahkan, dan fase kedua pun terhenti.

April 2026

Saat Gaza masih dibombardir setiap hari oleh Israel, Netanyahu membuka front baru dengan meningkatkan operasi militer di Lebanon, yang menewaskan lebih dari 300 orang dalam satu hari.

Trump menghubunginya pada 9 April. Sumber-sumber menyebut percakapan keduanya penuh ketegangan.

Presiden AS itu mendesak Netanyahu mengurangi serangan terhadap Hizbullah.

Menurut sumber Israel, Netanyahu memahami bahwa jika ia menolak membuka perundingan gencatan senjata langsung dengan Lebanon, Trump mungkin akan mengumumkan gencatan senjata tanpa melibatkan dirinya.

Menghadapi ancaman tersebut, Netanyahu setuju memulai perundingan.

Namun beberapa hari kemudian, Israel justru memperluas operasi daratnya di Lebanon selatan.

Hal itu menunjukkan bahwa bagi Netanyahu, menyetujui perundingan dan menghentikan operasi militer adalah dua hal yang berbeda.

Kantor Netanyahu membantah laporan mengenai percakapan tegang tersebut dan menyebutnya sebagai berita palsu.

Mei 2026

Pada Mei 2026, Trump kembali terlibat percakapan yang menegangkan dengan Netanyahu.

Trump saat itu sedang terlibat dalam negosiasi nuklir dengan Iran.

Salah satu sumber mengatakan kepada Axios bahwa Netanyahu sangat marah setelah percakapan tersebut.

Trump mengatakan kepada Netanyahu bahwa para mediator, termasuk Qatar dan Pakistan, sedang berupaya mencapai nota kesepahaman antara AS dan Iran.

Netanyahu, yang ingin melanjutkan serangan terhadap Iran untuk melemahkan kemampuan militernya, menyampaikan keraguan yang mendalam terhadap proses tersebut.

Ia bahkan disebut begitu khawatir hingga duta besar Israel di Washington memberi tahu anggota parlemen AS mengenai kekhawatiran tersebut.

Kedutaan Israel membantah laporan itu.

Namun, sikap Netanyahu dinilai mengikuti pola yang sama, yakni secara terbuka menunjukkan dukungan kepada Trump, tetapi di balik layar berupaya menggagalkan kesepakatan yang sedang dinegosiasikan.

1 Juni 2026

Pada 1 Juni 2026, Israel mengancam akan membom Beirut, sebuah langkah yang mendorong Iran mengancam keluar dari negosiasi nuklir.

Trump kemudian menelepon Netanyahu dalam percakapan yang disebut para pejabat AS sebagai salah satu panggilan telepon terburuk sejak ia kembali menjabat.

Menurut Axios, Trump mengatakan:

"Kau gila. Kau pasti berada di penjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini."

Trump juga mengingatkan Netanyahu tentang dukungan pribadinya selama persidangan korupsi yang dihadapi pemimpin Israel itu, serta memperingatkan bahwa serangan ke Beirut hanya akan semakin mengisolasi Israel secara global.

Seorang pejabat mengatakan Trump terus menekan Netanyahu hingga akhirnya ia menjawab:

"Bibi berkata, 'OK, OK, pastikan semuanya diurus.'"

Namun, pernyataan publik Netanyahu menunjukkan sikap yang berbeda.

"Posisi kami tetap sama."

Netanyahu, yang dicari ICC atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza, mengatakan Israel akan menyerang Beirut jika Hizbullah tidak menghentikan aksinya dan bahwa operasi di Lebanon selatan akan terus berlanjut.

Perundingan Masih Berlanjut

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa negosiasi dengan Iran masih berlangsung.

Mengutip Iran International, Rubio menyebut, ada kemungkinan Iran telah bersedia membahas aspek-aspek program nuklirnya yang sebelumnya tidak ingin mereka bahas.

"Sekarang kami sedang bernegosiasi, dan saya katakan bernegosiasi karena negosiasi dengan Iran tidak seperti negosiasi dengan Swiss. Sangat berbeda," ujarnya pada Selasa (2/6/2026) waktu setempat.

"Sayangnya, negosiasi membutuhkan perantara. Tetapi ada kemungkinan itu di depan mata kita. Itu bisa terjadi hari ini, besok, atau minggu depan."

"Untuk pertama kalinya, setidaknya dalam ingatan saya, mereka telah setuju untuk menegosiasikan aspek-aspek program nuklir mereka yang sebulan lalu atau setahun lalu bahkan tidak mau mereka sebutkan, apalagi dibahas," tambahnya.

Rubio mengatakan bahwa struktur kekuasaan internal Iran yang terpecah-pecah telah mempersulit proses negosiasi sehingga respons dari Iran sering kali membutuhkan waktu beberapa hari.

Ia juga mengatakan Iran masih memiliki banyak drone, tetapi kemampuan pertahanan konvensionalnya telah terkikis secara signifikan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved