PBB Peringatkan Seluruh Dunia untuk Hadapi El Nino dalam Waktu Dekat
PBB melalui WMO memperingatkan bahwa fenomena El Nino berpeluang besar kembali terjadi pada paruh kedua 2026
Meskipun setiap peristiwa El Nino memiliki karakteristik yang berbeda, para ilmuwan umumnya mengaitkannya dengan curah hujan yang lebih tinggi di sebagian wilayah Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.
Sebaliknya, kondisi yang lebih kering biasanya terjadi di Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, Karibia, Australia, Indonesia, dan beberapa wilayah Asia Selatan.
Perairan yang lebih hangat juga dapat memicu pembentukan badai di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, tetapi menghambat pembentukannya di kawasan Atlantik.
Apa Itu El Nino?
Mengutip USGS, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur hingga berada di atas kondisi normal.
Pada kondisi normal, angin permukaan tingkat rendah atau angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang khatulistiwa.
Namun saat El Nino terjadi, angin tersebut melemah atau bahkan berbalik arah dari barat ke timur.
El Nino terjadi secara tidak teratur, mulai dari interval dua tahun hingga satu dekade, dan tidak ada dua peristiwa yang benar-benar sama.
Fenomena ini dapat mengganggu pola cuaca normal di berbagai belahan dunia.
Asal Usul El Nino
Mengutip Welthungerhilfe, berabad-abad lalu para nelayan di Peru memperhatikan fenomena yang tidak biasa setiap beberapa tahun sekali.
Perairan Samudra Pasifik menjadi jauh lebih hangat dan populasi ikan berkurang drastis.
Karena fenomena ini sering muncul menjelang Natal, mereka menamainya dengan istilah dalam bahasa Spanyol untuk "anak laki-laki" atau "Bayi Kristus", yaitu El Nino.
Para ilmuwan kemudian menghubungkan pemanasan laut tersebut dengan berbagai anomali cuaca di wilayah lain di dunia dan menemukan adanya keterkaitan yang memengaruhi sistem iklim global.
Fenomena El Nino bermula di kawasan Pasifik timur.
Dalam kondisi normal, Arus Humboldt membawa air dingin dari wilayah Antartika ke lepas pantai Amerika Selatan.
Sementara itu, angin pasat yang bertiup dari tenggara mendorong air permukaan yang hangat ke arah barat menuju Asia Tenggara, sehingga air dingin dari lapisan bawah laut terus naik ke permukaan dan menjaga suhu laut tetap rendah.