5 Populer Internasional: Menlu AS Yakin Mojtaba Khamenei Masih Hidup - Isu Perseteruan AS-Israel
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Menlu AS Marco Rubio menegaskan Mojtaba Khamenei masih hidup dan tetap terlibat
Ringkasan Berita:
- Menlu AS Marco Rubio menegaskan Mojtaba Khamenei masih hidup dan tetap terlibat dalam pengambilan keputusan Iran meski berkomunikasi lewat perantara.
- Bocoran percakapan penuh amarah antara Trump dan Netanyahu memunculkan isu perseteruan, namun para analis menilai kebijakan tetap menjadi faktor utama.
- Sementara itu, Senat AS mulai resah atas perang Iran yang berlarut-larut dan menekan Rubio soal sanksi serta blokade Selat Hormuz.
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah isu internasional menjadi perhatian utama dalam 24 jam terakhir.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei belum muncul di depan umum setelah terluka di awal perang.
Namun AS meyakini Mojtaba Khamenei semakin terlibat pada tingkat tertentu.
Sementara itu, meski hubungan Trump dan Netanyahu dikabarkan menegang, para ahli menilai pada akhirnya kebijakanlah yang terpenting.
Berikut berita populer internasional selengkapnya.
1. Menlu AS Yakin Pemimpin Tertinggi Iran Masih Hidup, Aktif Terlibat tapi Komunikasi Lewat Perantara
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih hidup, Selasa (2/6/2026).
Marco Rubio meyakini Mojtaba Khamenei "semakin terlibat pada tingkat tertentu," meskipun ia belum muncul di depan umum setelah terluka di awal perang.
“Kami belum melihatnya di depan umum, dan saya membayangkan, mengingat apa yang telah terjadi pada beberapa pemimpin dalam sistem itu, tampil di depan umum mungkin bukan sesuatu yang disarankan bagi mereka secara internal."
"Tetapi meskipun demikian, saya pikir ada indikasi di luar sana bahwa dia semakin terlibat pada tingkat tertentu, meskipun semua komunikasinya selama ini dilakukan secara tertulis dan melalui perantara,” kata Rubio kepada para anggota parlemen selama sidang di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Selasa, dilansir Anadolu Agency.
Menurutnya, proses pengambilan keputusan internal Iran tampaknya sangat terpusat.
Ia mengatakan bahwa pesan dari para negosiator biasanya diteruskan kembali ke dewan pemerintahan untuk disetujui sebelum tanggapan apa pun dikeluarkan.
“Menurut pemahaman kami tentang sistem ini, dan sebagaimana telah disampaikan kepada kami baik oleh para perantara maupun langsung oleh Iran, apa pun yang dibawa atau diambil oleh (Abbas) Araghchi dan (Mohammad Bagher) Ghalibaf dari kami."
2. Muncul Isu Perseteruan AS-Israel Imbas Teguran Trump ke Netanyahu, Analis: Kebijakan yang Terpenting
Percakapan telepon yang penuh amarah dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bocor ke publik.
Laporan yang bersumber secara anonim menyebar dengan cepat di media internasional.
Axios melaporkan pada Senin (1/6/2026) bahwa Trump menyebut Netanyahu "sangat gila" dan mencaci maki dia atas peningkatan ketegangan Israel di Lebanon.
Pada waktu yang hampir bersamaan, serangan Israel menewaskan enam orang, termasuk dua anak, di kota al-Marwaniyah, Lebanon selatan.
Para ahli mengatakan bahwa terlepas dari bocoran perselisihan dan kata-kata kasar antara Trump dan Netanyahu, pada akhirnya kebijakanlah yang terpenting, dan kebijakan tersebut hampir tidak berubah.
Direktur kebijakan di National Iranian American Council Action (NIAC), Ryan Costello, mengatakan pengamat politik semakin "mengejek" laporan tentang kemarahan tertutup dari Trump terhadap Netanyahu.
“Yang benar-benar penting adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam praktiknya,” kata Costello kepada Al Jazeera, Selasa (2/6/2026).
Perang informasi
Costello berpendapat bahwa kebocoran percakapan tersebut kemungkinan besar ditujukan kepada Iran.
“Saya melihat ini terutama sebagai sinyal kepada Iran bahwa Trump serius, dan dia ingin memisahkan apa yang terjadi di Lebanon dan serangan Israel dari negosiasi Iran,” kata Costello.
3. Senat AS Mulai Resah, Cecar Marco Rubio Soal Sanksi Iran dan Selat Hormuz
Keresahan mulai menyelimuti para anggota Senat Amerika Serikat (AS) terkait perang Iran yang tak kunjung usai.
Keresahan mulai mereka utarakan dengan memanggil Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Dengan situasi Ruang Sidang Kongres AS yang tegang, Rubio menghadapi ujian berat dalam kesaksian publik pertamanya sejak konflik bersenjata melawan Iran meletus.
Mantan Senator Florida itu dicecar habis-habisan oleh para anggota dewan mengenai transparansi, strategi akhir perang, serta dampak ekonomi domestik yang kian mencekik warga Amerika.
Dalam sidang tersebut, Rubio menegaskan posisi keras Washington dengan menyebut tidak ada barter pelonggaran sanksi ekonomi hanya demi pembukaan kembali Selat Hormuz yang diblokade.
"Iran disanksi karena aktivitas nuklir mereka dan pengayaan uranium tingkat tinggi."
"Jika mereka ingin sanksi dicabut, syaratnya cuma satu: hentikan total program nuklir tersebut."
"Pelonggaran sanksi berbasis kepatuhan, bukan sekadar kompromi jalur laut," tegas Rubio di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, dikutip dari Reuters.
Perang yang diinisiasi oleh serangan mendadak AS dan Israel pada 28 Februari lalu kini resmi memasuki bulan keempat.
4. Peretas Bobol Instagram Pejabat Space Force AS, Sebar Propaganda Iran dan Video Perang Vietnam
Akun Instagram milik seorang pejabat senior Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (US Space Force) diretas dan sempat digunakan untuk menyebarkan konten propaganda yang bernada pro-Iran serta anti-Amerika Serikat.
Insiden ini dilaporkan pertama kali oleh CNN, kemudian dikonfirmasi dan dikutip oleh sejumlah media internasional termasuk The Indian Express dan Hindustan Times dalam pemberitaan pada Senin (2/6/2026).
Seorang juru bicara Space Force mengonfirmasi adanya pelanggaran keamanan digital tersebut, namun menolak memberikan detail terkait pelaku, durasi peretasan, maupun metode yang digunakan.
“Tim kami sedang bekerja untuk memulihkan akses dan mengatasi insiden ini secepat mungkin,” ujar pejabat Space Force sebagaimana dikutip dari CNN.
Bagaimana Akun Diretas Digunakan?
Akun yang diretas tersebut milik Sersan Mayor Kepala (Chief Master Sergeant) John Bentivegna, salah satu pejabat keamanan senior di Space Force.
Setelah berhasil mengambil alih akun, pelaku peretasan mengunggah sejumlah video dan gambar yang memuat narasi politik sensitif, termasuk propaganda anti-AS dan pesan yang mendukung Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Salah satu konten yang ditinjau CNN menunjukkan penggunaan audio dari era Perang Vietnam, termasuk suara yang dikaitkan dengan “Hanoi Hannah”, sosok propagandis yang dikenal menyebarkan pesan psikologis kepada tentara Amerika pada masa perang.
5. Iran Gempur Aset Militer AS di Kuwait-Bahrain, Penerbangan Lumpuh, Sejumlah Orang Terluka
Ketegangan perang antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah militer Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk Kuwait dan Bahrain, pada Selasa (2/6/2026).
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan serangan rudal ke Kuwait merupakan balasan atas serangan militer AS terhadap wilayah Iran.
IRGC menegaskan operasi tersebut menjadi peringatan keras bagi Washington agar tidak melanjutkan serangan terhadap kedaulatan Iran.
Menurut pernyataan IRGC, setiap tindakan militer baru dari Amerika Serikat akan dibalas dengan respons yang lebih tegas.
Iran juga menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari upaya mempertahankan keamanan nasional di tengah konflik yang terus meluas di kawasan.
Namun serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar di Bandara Internasional Kuwait serta mengganggu aktivitas penerbangan di kawasan.
Militer Kuwait menyatakan serangan menghantam terminal Bandara Internasional Kuwait dan menimbulkan kerusakan material yang signifikan. Otoritas setempat juga melaporkan adanya korban luka akibat serangan yang terjadi pada Selasa malam waktu setempat.
Meski demikian, pihak berwenang belum mengungkap jumlah pasti korban luka. Pemerintah Kuwait memastikan seluruh korban telah mendapatkan perawatan medis.
AS Klaim Berhasil Gagalkan Serangan Iran
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan sebagian besar rudal dan drone Iran berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Dalam pernyataannya, CENTCOM mengungkapkan dua rudal balistik Iran yang diarahkan ke Kuwait gagal mencapai target atau hancur di udara.
(Tribunnews.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.