Iran Vs Amerika Memanas
Menlu AS Yakin Pemimpin Tertinggi Iran Masih Hidup, Aktif Terlibat tapi Komunikasi Lewat Perantara
Mojtaba Khamenei belum muncul di depan umum setelah terluka di awal perang, tapi Menlu AS yakin Pemimpin Tertinggi Iran masih hidup.
Ringkasan Berita:
- Mojtaba Khamenei belum muncul di depan umum setelah terluka di awal perang.
- AS meyakini Mojtaba Khamenei "semakin terlibat pada tingkat tertentu."
- Kini proses pengambilan keputusan internal Iran disebut sangat terpusat.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih hidup, Selasa (2/6/2026).
Marco Rubio meyakini Mojtaba Khamenei "semakin terlibat pada tingkat tertentu," meskipun ia belum muncul di depan umum setelah terluka di awal perang.
“Kami belum melihatnya di depan umum, dan saya membayangkan, mengingat apa yang telah terjadi pada beberapa pemimpin dalam sistem itu, tampil di depan umum mungkin bukan sesuatu yang disarankan bagi mereka secara internal."
"Tetapi meskipun demikian, saya pikir ada indikasi di luar sana bahwa dia semakin terlibat pada tingkat tertentu, meskipun semua komunikasinya selama ini dilakukan secara tertulis dan melalui perantara,” kata Rubio kepada para anggota parlemen selama sidang di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Selasa, dilansir Anadolu Agency.
Menurutnya, proses pengambilan keputusan internal Iran tampaknya sangat terpusat.
Ia mengatakan bahwa pesan dari para negosiator biasanya diteruskan kembali ke dewan pemerintahan untuk disetujui sebelum tanggapan apa pun dikeluarkan.
“Menurut pemahaman kami tentang sistem ini, dan sebagaimana telah disampaikan kepada kami baik oleh para perantara maupun langsung oleh Iran, apa pun yang dibawa atau diambil oleh (Abbas) Araghchi dan (Mohammad Bagher) Ghalibaf dari kami."
"Mereka kemudian harus kembali ke dewan ini dan pada akhirnya mendapatkan arahan dari mereka, dan proses itu seringkali membutuhkan waktu tiga hingga lima hari untuk mendapatkan tanggapan,” terangnya.
Meskipun Rubio dan Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut, media Iran melaporkan pada hari Selasa bahwa pertukaran pesan antara kedua negara telah terhenti setidaknya selama beberapa hari terakhir.
Baca juga: Rudal Iran Hantam Basis Komala di Erbil Irak Utara, Kelompok Dianggap Ancam Keamanan Nasional
Komentar Rubio muncul ketika Washington dan Teheran terus berupaya mengubah gencatan senjata yang rapuh menjadi kesepakatan yang lebih luas setelah berbulan-bulan konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan AS-Israel terhadap Iran.
Pihak berwenang Iran mengatakan lebih dari 3.000 orang telah tewas sejak awal perang, sementara setidaknya 13 anggota militer AS telah tewas dalam serangan balasan Iran.
Iran membalas dengan serangan yang menargetkan Israel dan sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan selanjutnya di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Namun, upaya untuk mencari solusi terus berlanjut sejak saat itu.
Mojtaba Khamenei Disebut Sembunyi di Bunker
Pengumuman terkait potensi kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut tertunda sebagian karena kesulitan berkomunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
AS meyakini Mojtaba Khamenei hidup di bawah pengamanan ketat di sebuah bunker rahasia.
Mojtaba Khamenei terluka selama serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan ayahnya yakni mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Baca juga: Peretas Bobol Instagram Pejabat Space Force AS, Sebar Propaganda Iran dan Video Perang Vietnam
Khamenei dilaporkan belum terlihat atau terdengar kabarnya di depan umum sejak sebelum dimulainya perang.
Menurut berita CBS, pejabat AS yang mengetahui informasi intelijen mengatakan Khamenei "pada dasarnya bersembunyi" di lokasi yang dirahasiakan, dengan sedikit akses ke dunia luar.
Mojtaba Khamenei disebut hanya dapat dihubungi melalui jaringan perantara dan kurir yang kompleks, yang memperlambat respons Iran terhadap proposal AS.
Jaringan tersebut juga melaporkan bahwa pejabat Iran yang terlibat dalam negosiasi dengan pemerintahan Trump kesulitan berkomunikasi di dalam sistem pemerintahan mereka sendiri, yang telah memperlambat kemajuan dalam pembicaraan.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan kepada CBS bahwa Khamenei telah menyetujui garis besar draf perjanjian saat ini.
(Tribunnews.com/Nuryanti)

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.