Kamis, 4 Juni 2026

Jerman Gagal Masuk Dewan Keamanan PBB, 5 Negara Ini Justru Lolos

Jerman gagal masuk Dewan Keamanan PBB sebagai anggota non-tetap untuk pertama kalinya. Sedangkan Kyrgyzstan pertama kali berhasil masuk DK PBB.

Tayang:
Editor: Nuryanti
UN/PBB
DEWAN KEAMANAN PBB - Foto diunduh dari UN, Kamis (4/6/2026) memperlihatkan delegasi Kyrgyzstan merayakan setelah terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan untuk masa jabatan dua tahun yang dimulai pada Januari 2027. (Foto PBB/Eskinder Debebe) 

Menteri Luar Negeri Kyrgyzstan, Jeenbek Kulubayev, juga mendorong reformasi Dewan Keamanan agar negara-negara dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin memperoleh representasi yang lebih besar, dikutip dari UN.

Zimbabwe dan Trinidad dan Tobago Menang Tanpa Lawan

Sementara itu, Zimbabwe berhasil mengamankan kursi dari kawasan Afrika dengan memperoleh 182 suara.

Negara tersebut menjadi satu-satunya kandidat dari kelompok Afrika dalam pemilihan kali ini.

Dari kawasan Amerika Latin dan Karibia, Trinidad dan Tobago juga menang tanpa lawan dengan perolehan 181 suara.

Kedua negara tersebut akan bergabung dengan Austria, Portugal, dan Kyrgyzstan sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB mulai 1 Januari 2027.

Susunan Dewan Keamanan PBB 2027

Kelima negara yang terpilih akan menggantikan Denmark, Yunani, Pakistan, Panama, dan Somalia yang masa tugasnya berakhir pada akhir 2026.

Mereka akan bergabung dengan Bahrain, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Latvia, dan Liberia yang masih menjabat hingga akhir 2027.

Dewan Keamanan PBB sendiri terdiri dari 15 anggota, yaitu lima anggota tetap yang memiliki hak veto—Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Prancis, dan Britania Raya—serta 10 anggota tidak tetap yang dipilih secara bergilir untuk masa jabatan dua tahun.

Hasil pemilihan tahun ini menunjukkan dinamika baru dalam diplomasi internasional, terutama dengan kegagalan bersejarah Jerman dan keberhasilan Kyrgyzstan yang untuk pertama kalinya berhasil menembus Dewan Keamanan PBB.

Tantangan Dewan Keamanan PBB

Dewan Keamanan PBB saat ini menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, terutama terkait konflik di Ukraina dan Gaza.

Perbedaan kepentingan di antara lima anggota tetap—Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Prancis, dan Inggris—sering menyebabkan kebuntuan karena masing-masing memiliki hak veto yang dapat menggagalkan keputusan meskipun didukung mayoritas anggota.

Kondisi ini memicu semakin banyak tuntutan reformasi, termasuk perluasan keanggotaan tetap agar lebih mencerminkan kondisi dunia saat ini, terutama dengan memberi representasi yang lebih besar kepada negara-negara berkembang dan Afrika.

Sebagai badan utama PBB yang bertanggung jawab menjaga perdamaian dan keamanan internasional, Dewan Keamanan memiliki kewenangan penting seperti menjatuhkan sanksi, mengirim pasukan penjaga perdamaian, membentuk pengadilan internasional, hingga mengizinkan penggunaan kekuatan militer dalam situasi tertentu.

Meski anggota tidak tetap tidak memiliki hak veto, mereka tetap berperan penting dalam membangun dukungan, memengaruhi negosiasi, dan membawa isu-isu kawasan ke tingkat global.

Sebagian besar pembahasan dan negosiasi penting Dewan Keamanan juga dilakukan secara tertutup di Markas Besar PBB di New York sebelum keputusan resmi diumumkan kepada publik.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved