Sabtu, 6 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Sesumbar, AS Bisa Ambil Uranium Iran Tanpa Perjanjian

Presiden AS Donald Trump mengatakan AS bisa mengambil uranium Iran tanpa perjanjian, tapi menegaskan AS memilih jalur diplomasi.

Tayang:
Facebook The White House
PRESIDEN AS TRUMP - Foto diambil dari Facebook The White House, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan Gedung Putih pada Selasa (19/5/2026). Pada 4 Juni 2026, Trump mengatakan AS bisa mengambil uranium Iran tanpa perjanjian, tapi menegaskan AS memilih jalur diplomasi. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak memerlukan perjanjian dengan Iran untuk mendapatkan uranium yang diperkaya, meski tetap mengutamakan jalur diplomasi.
  • Trump menegaskan tujuan utama AS adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir dan menyebut Selat Hormuz sebagai salah satu poin penting dalam negosiasi.
  • Ia juga mengungkapkan sempat mempertimbangkan operasi militer untuk mengambil material nuklir Iran, tetapi membatalkannya karena berisiko tinggi.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Washington tidak memerlukan perjanjian dengan Iran untuk mendapatkan uranium yang telah diperkaya.

Meski demikian, ia menegaskan pemerintahannya saat ini masih lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomasi dibandingkan tindakan militer langsung.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengklaim Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk memperoleh uranium yang diperkaya milik Iran kapan saja jika memang menginginkannya.

“Kita bisa mendapatkannya sekarang. Saya rasa mereka (Iran) tidak bisa menghentikan kita jika kita mau, tetapi tidak perlu. Itu sudah terkubur,” kata Trump, Kamis (5/6/2026).

Namun, ia menambahkan bahwa langkah tersebut tidak diperlukan untuk saat ini.

Menurut Trump, sebagian besar uranium yang diperkaya Iran berada di fasilitas yang telah menjadi sasaran serangan selama konflik sebelumnya sehingga kondisinya saat ini berbeda dibandingkan beberapa waktu lalu.

Trump juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat terus memantau fasilitas nuklir Iran dari luar angkasa.

Ia bahkan mengisyaratkan bahwa Washington siap mengambil tindakan terhadap pihak mana pun yang dianggap mengancam kepentingan keamanan Amerika di sekitar lokasi tersebut.

Dalam penjelasannya, Trump mengaku sempat mempertimbangkan opsi pengiriman pasukan khusus untuk mengambil material nuklir Iran secara langsung, lapor Al Arabiya.

Namun, rencana tersebut tidak dilanjutkan karena dinilai akan membutuhkan operasi militer yang panjang dan berisiko tinggi di wilayah konflik.

Baca juga: Rudal-Drone Iran Obrak-abrik Terminal 1 Bandara Kuwait: Apa Masih Ada Gunanya Pasukan AS di Teluk?

Trump: Fokus Utama AS Adalah Cegah Iran Memiliki Senjata Nuklir

Trump kembali menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran adalah memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.

“Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” tegasnya.

Menurut Trump, inti dari setiap kesepakatan yang sedang dibahas adalah memastikan program nuklir Iran tidak berkembang menjadi program persenjataan.

Ia juga menyatakan optimistis bahwa Amerika Serikat akan mencapai tujuannya, baik melalui perundingan maupun cara lain jika diperlukan.

"Anda akan segera mengetahui apa isi kesepakatan antara Washington dan Teheran," kata Trump menjelaskan bahwa poin terpenting dari kesepakatan itu adalah Selat Hormuz akan segera dibuka.

“Kita akan menang secara militer atau melalui kesepakatan,” ujarnya.

Meski tidak menutup kemungkinan bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, Trump mengatakan pertemuan semacam itu hanya mungkin terjadi apabila kedua negara berhasil mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak.

Trump menyebut salah satu poin terpenting dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran adalah pembukaan penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Menurut Trump, perkembangan terkait isi kesepakatan dengan Iran akan segera diketahui publik.

Namun hingga kini, negosiasi masih menghadapi sejumlah hambatan, termasuk perbedaan pandangan mengenai program nuklir Iran dan pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, lapor Al Jazeera.

Ancaman Kembalinya Konflik Masih Membayangi

Meski mendorong diplomasi, Trump memperingatkan bahwa situasi dapat berubah apabila kepentingan Amerika Serikat diserang.

Ia mengatakan bahwa jika Iran menyebabkan kematian tentara Amerika, hal itu dapat menjadi alasan kuat bagi Washington untuk kembali melakukan operasi militer.

Sementara itu, laporan sejumlah media menyebut pemerintahan Trump masih berupaya menyusun kerangka kesepahaman awal dengan Iran melalui berbagai jalur mediasi.

Salah satu isu yang masih diperdebatkan adalah tuntutan Iran agar sebagian asetnya yang dibekukan di luar negeri dicairkan sebelum kesepakatan final tercapai.

Pemerintah Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tidak akan membahas pembatasan program nuklirnya tanpa adanya langkah nyata dari Amerika Serikat terkait sanksi ekonomi dan aset yang dibekukan.

Di tengah tarik-ulur tersebut, Trump menegaskan bahwa ia tetap mengutamakan penyelesaian diplomatik, namun tidak menutup opsi lain apabila negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan yang dianggap dapat menjamin keamanan Amerika Serikat dan sekutunya.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas penting milik Iran. Operasi militer tersebut terjadi setelah perundingan mengenai program nuklir Iran yang berlangsung di Jenewa berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan.

Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran tengah berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran terus membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya diperuntukkan bagi kebutuhan energi dan penelitian sipil, bukan untuk kepentingan militer.

Konflik semakin memanas ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia pada tahap awal perang. Di tengah situasi yang masih bergejolak, sejumlah laporan menyebut posisi kepemimpinan tertinggi kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai balasan atas serangan yang diterimanya, Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga meningkatkan pengamanan di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pusat lalu lintas perdagangan energi dunia.

Setelah hampir 40 hari berlangsung, konflik mulai menunjukkan tanda-tanda mereda dengan tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Kesepakatan tersebut tercapai berkat upaya mediasi yang dilakukan Pakistan.

Meski demikian, berakhirnya pertempuran tidak serta-merta mengakhiri seluruh persoalan. Program pengayaan uranium Iran serta pengaturan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz masih menjadi isu utama yang belum menemukan penyelesaian final.

Untuk menjaga keberlangsungan proses diplomatik, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi kembali melakukan kunjungan ke Teheran guna melanjutkan peran negaranya sebagai mediator. Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa situasi tetap sensitif dan opsi militer masih terbuka apabila perundingan tidak menghasilkan kemajuan yang diharapkan.

Selain Pakistan, negara-negara seperti Oman dan Qatar juga aktif membantu menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.

Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan final. Isu utama yang masih diperdebatkan meliputi program nuklir Iran, cadangan uranium yang diperkaya, pembukaan Selat Hormuz, serta pencabutan sanksi dan pencairan aset Iran yang dibekukan.

Presiden Donald Trump menyatakan tetap mengutamakan jalur diplomasi, meski menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sementara itu, Iran mengakui ada kemajuan dalam pembahasan, namun sejumlah perbedaan penting masih belum terselesaikan. Meski proses berjalan lambat, kedua pihak masih membuka peluang untuk mencapai kesepakatan damai.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved