Senin, 8 Juni 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Ukraina Ungkap Rusia Mau Lanjut Perang hingga Tahun 2027 atau 2028

Presiden Ukraina Zelenskyy mengungkap informasi intelijen Ukraina bahwa Rusia akan memperpanjang perang hingga tahun 2027 dan 2028.

Tayang:
Facebook The White House
ZELENSKYY TEMUI TRUMP - Foto diunduh dari The White House, Jumat (5/6/2026), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Presiden AS Donald Trump (tidak terlihat dalam foto) di Mar-a-Lago pada 29 Desember 2025. Pada 4 Juni 2026, Zelenskyy mengungkap informasi intelijen Ukraina bahwa Rusia akan memperpanjang perang hingga tahun 2027 dan 2028. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meminta Vladimir Putin tidak memperpanjang perang hingga 2027–2028 dan mengusulkan pertemuan langsung untuk membahas perdamaian.
  • Zelenskyy mengklaim Rusia sedang mempertimbangkan rencana perang jangka panjang, termasuk meningkatkan keterlibatan Belarus dan tekanan di kawasan sekitar.
  • Ia juga menilai masyarakat Rusia semakin merasakan dampak perang berupa serangan drone, kenaikan harga, kelangkaan bahan bakar, dan kemungkinan mobilisasi baru.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.563 pada Jumat (5/6/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali melontarkan seruan terbuka kepada Presiden Rusia Vladimir Putin agar tidak memperpanjang perang hingga tahun 2027 atau 2028.

Dalam surat terbuka yang dipublikasikan Kantor Presiden Ukraina pada 4 Juni, Zelenskyy mengungkapkan bahwa pihaknya memperoleh informasi intelijen yang menunjukkan Rusia tengah mempertimbangkan skenario perang jangka panjang.

Menurut Zelenskyy, langkah tersebut hanya akan memperbesar kerugian bagi kedua negara dan memperpanjang penderitaan masyarakat.

Ia juga menuding Moskow berupaya memperluas dampak konflik ke kawasan lain, termasuk dengan menarik Belarus lebih dalam ke dalam perang serta meningkatkan pengaruhnya di wilayah Transnistria yang memisahkan diri dari Moldova.

“Apakah Anda benar-benar ingin melalui semua ini?” tulis Zelenskyy dalam suratnya, seraya mempertanyakan tujuan Rusia mempertahankan konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Dalam surat tersebut, Zelenskyy menilai perang yang dimulai Rusia tidak lagi memberikan keuntungan seperti yang sering diklaim Kremlin.

Ia menegaskan bahwa serangan drone jarak jauh Ukraina kini mampu menjangkau wilayah Rusia hingga lebih dari 1.000 kilometer, termasuk area di sekitar St. Petersburg.

Zelenskyy menyebut masyarakat Rusia semakin merasakan dampak langsung perang, mulai dari meningkatnya ancaman serangan, kelangkaan bahan bakar, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga berbagai pembatasan yang muncul akibat konflik berkepanjangan.

Ia juga menyoroti rencana mobilisasi militer tambahan yang disebut-sebut sedang dipertimbangkan pemerintah Rusia. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak mendapat dukungan luas karena semakin banyak warga Rusia yang menginginkan perang segera diakhiri.

“Orang-orang Rusia tidak menyukai kenyataan bahwa perang ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir,” tulisnya.

Baca juga: Putin: Rusia Sudah Uji Rudal Oreshnik di Ukraina, Militer Kyiv Kalah Jauh

Selain menyoroti kondisi sosial di Rusia, Zelenskyy juga mengklaim sumber daya ekonomi dan politik Moskow semakin terbebani akibat perang yang berkepanjangan.

Ia menilai Rusia tidak akan mampu terus mempertahankan tingkat dukungan publik dengan cara yang sama seperti selama dua dekade terakhir.

Menurut Zelenskyy, semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula tekanan yang harus ditanggung Rusia, baik dari sisi ekonomi maupun stabilitas domestik.

Di tengah kritik tersebut, Zelenskyy kembali menegaskan bahwa Ukraina tetap membuka pintu diplomasi. Dalam surat yang sama, ia mengusulkan agar Putin menetapkan tanggal untuk menggelar pertemuan langsung guna membahas jalan keluar dari konflik.

Presiden Ukraina itu menilai keputusan-keputusan besar terkait perang hanya dapat diselesaikan melalui dialog langsung antarpemimpin negara. Karena itu, ia berharap Rusia bersedia duduk bersama untuk mencari solusi damai dan mengakhiri perang yang telah menimbulkan korban besar di kedua belah pihak.

Swedia Usul Cabut Perlindungan bagi Pria Ukraina Usia Militer

Menteri Migrasi Swedia Johan Forssell mengusulkan agar Uni Eropa tidak lagi memberikan perlindungan sementara kepada pria Ukraina yang masih berada dalam usia wajib militer dan baru datang ke Eropa sebagai pengungsi.

Menurut Forssell, Ukraina saat ini masih membutuhkan banyak personel untuk mempertahankan negaranya dari serangan Rusia. Karena itu, ia menilai lebih banyak pria Ukraina seharusnya tetap berada di negaranya dan ikut dalam upaya pertahanan.

"Sangat penting bagi kita untuk memberikan perlindungan kepada warga Ukraina, tetapi pada saat yang sama perang harus diperjuangkan dan dimenangkan. Agar hal itu terjadi, sangat penting agar lebih banyak pria tetap tinggal di Ukraina dan ikut berperang," kata Forssell.

Usulan tersebut hanya ditujukan bagi pengungsi baru dan tidak akan memengaruhi jutaan warga Ukraina yang saat ini sudah memperoleh perlindungan sementara di negara-negara Uni Eropa.

Negara-Negara Eropa Ingin Perketat Visa Turis Rusia

Sejumlah negara Eropa, termasuk Polandia, Swedia, Norwegia, dan negara-negara Baltik, meminta Uni Eropa memperketat pemberian visa wisata bagi warga Rusia.

Mereka menilai tidak pantas jika warga Rusia masih dapat menikmati liburan mewah di Eropa sementara perang di Ukraina terus berlangsung dan menimbulkan korban sipil.

"Saya ingin tidak ada lagi akhir pekan belanja. Saya ingin tidak ada lagi perjalanan mewah ke Eropa sementara warga Ukraina tewas di medan perang," ujar Johan Forssell.

Dalam surat yang disampaikan kepada Uni Eropa, negara-negara tersebut menyatakan bahwa meningkatnya jumlah wisatawan Rusia di berbagai destinasi Eropa menjadi hal yang mengkhawatirkan di tengah berlanjutnya konflik, lapor The Guardian.

Zelenskyy Kembali Ajak Putin Bertemu Langsung

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, kembali mendorong upaya diplomasi dengan mengirim surat terbuka kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dalam surat itu, Zelenskyy mengusulkan pertemuan tatap muka untuk membahas penyelesaian perang secara langsung. Ia bahkan menyebut beberapa negara yang dapat menjadi tuan rumah perundingan, seperti Swiss, Turki, maupun negara-negara Arab.

"Para pemimpinlah yang menyelesaikan isu-isu kunci. Itu selalu terjadi, dan akan selalu demikian. Saya mengusulkan untuk menetapkan tanggal yang jelas untuk pertemuan tersebut," tulis Zelenskyy.

Usulan tersebut menjadi salah satu langkah terbaru Ukraina untuk membuka peluang negosiasi damai setelah perang berlangsung selama lebih dari empat tahun.

Trump dan Kremlin Tanggapi Usulan Pertemuan Rusia-Ukraina

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut positif kemungkinan pertemuan antara Zelenskyy dan Putin.

Menurut Trump, Amerika Serikat turut berperan dalam mendorong proses perdamaian dan kedua pihak perlu bersedia melakukan kompromi jika ingin mencapai kesepakatan.

"Kami banyak berperan dalam hal ini," kata Trump.

Sementara itu, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Putin belum membaca surat tersebut, tetapi menegaskan bahwa Zelenskyy dapat datang ke Moskow jika ingin melakukan pembicaraan.

"Zelenskyy dapat datang ke Moskow jika ia menginginkan pembicaraan," ujar Peskov.

Putin: Rusia Siap Berkompromi Jika Ukraina Juga Melakukannya

Dalam forum ekonomi di St. Petersburg, Putin mengatakan Presiden AS Donald Trump telah meminta Rusia untuk melakukan sejumlah kompromi demi tercapainya perdamaian.

Menurut Putin, Moskow bersedia mempertimbangkan kompromi tersebut asalkan Ukraina juga menunjukkan sikap yang sama dalam proses negosiasi.

"Trump telah meminta Rusia untuk membuat beberapa kompromi untuk kesepakatan perdamaian, dan Rusia siap melakukannya asalkan Ukraina melakukan hal yang sama," kata Putin.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Rusia masih membuka peluang penyelesaian diplomatik meskipun perang belum berakhir.

Putin Akui Serangan Drone Ukraina Masih Menembus Pertahanan Rusia

Putin juga mengakui bahwa sebagian serangan drone Ukraina masih mampu menembus sistem pertahanan udara Rusia.

Pernyataan itu disampaikan setelah sejumlah serangan pesawat nirawak dilaporkan terjadi, termasuk di wilayah St. Petersburg.

"Sayangnya, beberapa di antaranya berhasil menembus pertahanan. Rusia memiliki sistem pertahanan udara, kita perlu memperbaikinya, memperkuatnya, dan kita akan melakukannya," ujar Putin.

Meski demikian, Rusia menegaskan akan terus meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya untuk menghadapi ancaman serupa di masa mendatang.

Ukraina Klaim Serang Pabrik Bubuk Mesiu Rusia

Militer Ukraina mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sebuah pabrik bubuk mesiu di wilayah Ryazan, Rusia.

Menurut laporan Staf Umum Ukraina, serangan tersebut memicu kebakaran yang meluas hingga ratusan meter persegi.

Di sisi lain, wilayah Krimea yang dikuasai Rusia dilaporkan memperketat penjatahan bahan bakar karena terganggunya jalur pasokan akibat serangan Ukraina.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa kedua pihak masih terus melakukan operasi militer meskipun upaya diplomasi sedang berlangsung.

DPR AS Setujui RUU Bantuan Miliaran Dolar untuk Ukraina

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menyetujui rancangan undang-undang yang berisi bantuan baru bagi Ukraina sekaligus sanksi tambahan terhadap Rusia.

RUU tersebut mencakup lebih dari 1 miliar dolar AS untuk bantuan keamanan dan rekonstruksi, serta sekitar 8 miliar dolar AS dalam bentuk dukungan pertahanan melalui skema pinjaman.

Sejumlah anggota Kongres menilai langkah ini diperlukan untuk memastikan Ukraina tetap mampu mempertahankan diri dari agresi Rusia.

Namun, rancangan tersebut masih harus mendapatkan persetujuan Senat dan menghadapi ketidakpastian terkait dukungan dari pemerintahan Trump.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina secara terbuka dimulai pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Namun, ketegangan antara kedua negara sebenarnya telah berkembang sejak Ukraina merdeka dari Uni Soviet pada 1991 dan mulai memperkuat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran Rusia. Moskow menilai langkah tersebut dapat mengancam kepentingan keamanannya sekaligus mengurangi pengaruh Rusia di kawasan Eropa Timur.

Perselisihan semakin meningkat pada 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang berujung pada jatuhnya Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, yang dikenal dekat dengan Rusia. Tak lama kemudian, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donetsk dan Luhansk yang melibatkan kelompok separatis pro-Rusia.

Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Namun, kesepakatan tersebut sulit dijalankan secara efektif karena kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.

Ketegangan mencapai puncaknya pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer khusus di Ukraina. Rusia menyatakan langkah itu bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina dan mencegah ekspansi NATO, sementara Ukraina dan negara-negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara.

Sejak perang berlangsung, Ukraina memperoleh bantuan militer, ekonomi, dan kemanusiaan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, serta negara-negara sekutunya. Sebaliknya, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang memengaruhi sektor ekonomi, perdagangan, energi, dan teknologi.

Konflik ini juga memberikan dampak luas terhadap dunia, terutama pada pasokan pangan dan energi global, serta memperburuk ketegangan geopolitik internasional. Hingga kini, pertempuran masih berlangsung meski berbagai upaya diplomasi dan perundingan damai terus dilakukan.

Namun, proses negosiasi menghadapi tantangan karena perhatian Amerika Serikat tidak hanya tertuju pada Ukraina, tetapi juga pada berbagai konflik lain di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran.

Zelenskyy pada hari Rabu mengkritik AS karena tak kunjung mengirim delegasinya ke Kyiv untuk membahas kelanjutan pembicaraan dengan Rusia.

Presiden Ukraina itu kemudian mengirim surat terbuka kepada Putin untuk melakukan pertemuan langsung dan membahas gencatan senjata.

Rusia menanggapi tawaran tersebut dengan mengatakan Putin selalu terbuka untuk melakukan pertemuan dengan Zelenskyy di Moskow.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved