Konflik Rusia Vs Ukraina
Putin Jawab Surat Zelenskyy, Sebut Isinya Kasar dan Picu Kontroversi
Presiden Rusia Vladimir Putin menjawab surat terbuka Presiden Ukraina Zelenskyy yang mengusulkan pertemuan langsung dan gencatan senjata.
Ringkasan Berita:
- Presiden Rusia Vladimir Putin mengkritik surat terbuka Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan mempertanyakan keseriusan Kiev untuk menggelar pertemuan langsung guna membahas perdamaian.
- Putin menegaskan Rusia tidak menolak dialog, tetapi menilai akar konflik harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum pertemuan tingkat tinggi dilakukan.
- Ia juga mengklaim pasukan Rusia terus maju di medan perang dan akan melanjutkan operasi hingga tujuan yang telah ditetapkan tercapai.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin menanggapi surat terbuka baru-baru ini dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengenai tawaran untuk pertemuan langsung dan membahas gencatan senjata.
Putin menganggap surat tersebut mengandung unsur kasar karena menimbulkan pertanyaan mengenai keseriusan Ukraina menggelar pertemuan langsung.
Pemimpin Rusia itu mempertanyakan surat itu benar-benar untuk membuka dialog atau justru menciptakan situasi yang mempersulit terwujudnya pertemuan tatap muka.
"Dan surat ini memang mengandung unsur kekasaran. Apa maksudnya? Apakah ini cara untuk menciptakan kondisi bagi pertemuan dan pembicaraan tatap muka? Atau justru menciptakan situasi di mana pertemuan tatap muka sama sekali tidak mungkin dilakukan?" kata Putin dalam sesi pleno Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF), Jumat (5/6/2026).
Presiden Rusia menegaskan Rusia tidak pernah menolak kemungkinan pertemuan langsung dengan Zelenskyy.
Namun, menurutnya itu tidak akan memberikan hasil jika persoalan-persoalan utama yang menjadi akar konflik belum diselesaikan dahulu.
Menurut Putin, sebelum pertemuan puncak, baik Rusia maupun Ukraina harus terlebih dahulu menemukan jalan keluar terhadap masalah yang memicu perang.
Ia juga menyinggung posisi politik Zelenskyy karena menurutnya pemimpin tidak boleh takut menghadapi pemilu dan bertindak sesuai konstitusi di negaranya.
Masa jabatan Zelenskyy berakhir pada Mei 2024, namun ia masih menjabat karena keadaan darurat militer yang menyebabkan pemilu tidak dapat diselenggarakan.
"Seseorang tidak boleh takut untuk pergi ke tempat pemungutan suara dan harus selalu bertindak dalam kerangka Konstitusi. Jika tidak, itu disebut perebutan kekuasaan, yang merupakan tindak pidana," kata Putin.
Baca juga: Isi Lengkap Surat Terbuka Zelensky ke Putin: Tulisan Panjang Bernada Peringatan Sekaligus Ajakan
Ia juga menanggapi sindiran yang menyinggung usianya sebagai pemimpin Rusia, yang menurutnya usia bukanlah faktor utama dalam kepemimpinan.
"Penulis surat itu menyebutkan usia saya. Apa yang bisa saya katakan? Tentu saja, setiap orang harus memikirkan usia mereka. Tetapi menurut saya, banyak tokoh politik lain yang menjalankan tugas mereka pada usia saya. Beberapa bahkan lebih tua dari saya. Yang terpenting bagi seorang politisi bukanlah usia, tetapi kapasitas dan kemampuan untuk berkinerja," kata Putin, lapor TASS.
Dalam pidatonya, Putin juga menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah beberapa kali berupaya memengaruhi sikap Zelenskyy.
Ia bahkan berterima kasih atas upaya tersebut, meskipun menurutnya masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam hubungan dan komunikasi antara para pemimpin yang terlibat dalam perang tersebut.
Putin: Rusia Terus Maju di Medan Tempur
Mengenai perkembangan perang, Putin mengklaim Rusia terus memperoleh kemajuan di medan tempur.
Ia menyatakan bahwa sejak 1 April Rusia telah menguasai sepenuhnya wilayah Republik Rakyat Lugansk.
Selain itu, ia menyebut kurang dari 15 persen wilayah Republik Rakyat Donetsk masih berada di bawah kendali Ukraina.
"Kami bergerak dengan tenang namun penuh percaya diri menuju penyelesaian tugas-tugas ini," kata Putin.
Ia menegaskan bahwa Rusia akan terus melanjutkan operasinya hingga seluruh target yang telah ditetapkan berhasil dicapai.
Presiden Rusia itu juga kembali menegaskan tujuan negaranya dalam konflik tersebut.
Menurut Putin, selain operasi militer, Rusia akan terus mengejar agenda yang disebutnya sebagai denazifikasi Ukraina.
Ia menambahkan bahwa perang pada akhirnya akan berakhir, tetapi hanya setelah tujuan Rusia tercapai.
"Kami berasumsi bahwa permusuhan akan berakhir. Dan tentu saja, permusuhan akan berakhir setelah kami mencapai tujuan yang telah kami nyatakan," tegasnya.
Dalam bidang keamanan, Putin menuduh Ukraina melakukan tindakan berbahaya dengan menyerang area di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia.
Ia memperingatkan bahwa tindakan tersebut tidak hanya mengancam Rusia, tetapi juga negara-negara Eropa yang mendukung Kiev.
"Warga Eropa yang mendukung tindakan rezim Kiev saat ini harus mempertimbangkan dengan cermat keamanan mereka sendiri," ujar Putin, menegaskan Rusia akan terus memperkuat sistem pertahanan udaranya.
"Kita harus memperkuat keamanan kita, memperkuat sistem pertahanan rudal kita, memperkuat pertahanan udara kita, dan kita akan melakukannya," lanjutnya.
Putin juga mengklaim Ukraina masih bergantung pada bantuan senjata dari negara-negara Barat. Menurutnya, sebagian besar drone yang digunakan Ukraina berasal dari luar negeri dan hanya dirakit di dalam negeri.
Ia menambahkan bahwa Rusia memiliki sejumlah sistem persenjataan yang tidak dimiliki Ukraina maupun banyak negara lain, termasuk rudal jarak menengah Oreshnik.
Menutup pernyataannya, Putin menyampaikan pesan khusus kepada pasukan Rusia yang masih bertugas di garis depan.
Menanggapi surat Zelensky dan perkembangan perang yang sedang berlangsung, ia memberikan dukungan singkat namun tegas kepada militernya dengan mengatakan, "Teruslah bekerja, saudara-saudara!"
Kremlin: Zelenskyy Bisa Datang ke Moskow
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan undangan Rusia kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk datang ke Moskow dan berdialog tetap berlaku.
Pernyataan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) 2026 mengenai apakah undangan tersebut dicabut setelah pidato Presiden Vladimir Putin.
Peskov membantah anggapan tersebut dan menegaskan bahwa Putin tidak pernah mengatakan undangan itu dibatalkan.
"Bukan itu yang dikatakan presiden. Jangan mencoba memutarbalikkan kata-katanya," ujar Peskov, Jumat.
SPIEF 2026 berlangsung pada 3–6 Juni di St. Petersburg dengan tema "Dialog Pragmatis: Jalan Menuju Masa Depan yang Stabil".
Forum tersebut membahas berbagai isu ekonomi dan pembangunan global, dengan Arab Saudi sebagai negara tamu tahun ini, lapor The Moscow Times.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PUTlN-34534534.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.