Rabu, 3 Juni 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Ukraina Siaga Penuh, Zelenskyy: Serangan Besar Rusia Bisa Datang dalam Waktu Dekat

Presiden Ukraina Zelenskyy sebut informasi intelijen yang mengungkap kemungkinan serangan besar Rusia pada 2 Juni malam waktu setempat.

Tayang:
Facebook Zelenskyy
RUSIA SERANG UKRAINA - Foto kerusakan di sejumlah bangunan di Kyiv pada Selasa (2/6/2026). Zelenskyy mengungkap informasi intelijen bahwa Rusia mungkin akan meluncurkan serangan besar-besaran lagi pada malam hari. 

Ringkasan Berita:
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia berpotensi kembali melancarkan serangan besar dalam waktu dekat berdasarkan informasi intelijen yang diterima Kyiv.
  • Menurutnya, Rusia telah menembakkan lebih dari 70 rudal dan sekitar 750 drone dalam serangan yang menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 130 lainnya.
  • Zelenskyy mengakui keterbatasan stok pertahanan udara Ukraina dan mendesak negara-negara sekutu untuk meningkatkan bantuan militer.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1561 pada Rabu (3/6/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia berpotensi kembali melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Ukraina dalam waktu dekat.

Peringatan tersebut disampaikan berdasarkan informasi intelijen yang diterima pemerintah Ukraina setelah gelombang serangan rudal dan drone yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Dalam pidato malam pada 2 Juni, Zelenskyy meminta masyarakat Ukraina untuk selalu memperhatikan peringatan serangan udara dan segera mencari perlindungan ketika sirene berbunyi.

"Kami mengetahui dari dinas intelijen bahwa serangan skala besar mungkin akan terjadi lagi malam ini. Mohon, saya mendesak Anda, perhatikan peringatan serangan udara," kata Zelenskyy.

Menurut Zelenskyy, Rusia melancarkan serangan besar pada malam 1 hingga 2 Juni dengan menembakkan lebih dari 70 rudal dan sekitar 650 drone ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan tersebut berlanjut sepanjang hari dengan tambahan sekitar 100 drone.

Akibat serangan itu, sedikitnya 22 orang dilaporkan tewas, termasuk dua anak-anak, sementara sekitar 130 orang lainnya mengalami luka-luka. Sejumlah bangunan sipil juga menjadi sasaran, termasuk permukiman warga dan sebuah klinik di ibu kota Kyiv.

"Sayangnya, tingkat persediaan pertahanan udara kita saat ini tidak memungkinkan kita untuk menembak jatuh sebagian besar rudal. Belasungkawa saya kepada semua yang kehilangan kerabat dan orang-orang yang mereka cintai," ujar Zelenskyy.

Presiden Ukraina itu juga kembali mengkritik Presiden Rusia Vladimir Putin atas serangan yang menurutnya telah merenggut nyawa warga sipil.

"Sekali lagi, Putin dan kegilaannya telah merenggut nyawa anak-anak biasa, bangunan tempat tinggal, dan sebuah klinik di Kyiv," tegasnya.

Baca juga: Malam Mencekam di Ukraina, Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Kyiv, Dnipro, Kharkiv

Di tengah meningkatnya serangan Rusia, Zelenskyy mendesak negara-negara Eropa dan para sekutu Ukraina untuk terus memperkuat bantuan pertahanan udara. Ia menilai Ukraina membutuhkan lebih banyak rudal pencegat, sistem pertahanan modern, serta dukungan intelijen guna melindungi warga sipil dari serangan berikutnya.

Selain itu, Zelenskyy menyoroti ketergantungan industri militer Rusia terhadap komponen impor dari luar negeri. Menurutnya, berbagai rudal dan drone yang digunakan Rusia tidak dapat diproduksi tanpa ribuan komponen yang berasal dari negara lain.

Ia menyebut lima rudal Kalibr mengandung sekitar 145 komponen impor, sementara 33 rudal Iskander memiliki lebih dari 1.100 komponen asing. Bahkan sekitar 650 drone serang yang digunakan Rusia mengandung lebih dari 17.000 komponen yang berasal dari luar negeri.

Karena itu, Zelenskyy menegaskan bahwa pengetatan sanksi internasional dan penghentian pasokan komponen teknologi ke Rusia menjadi langkah penting untuk membatasi kemampuan Moskow melanjutkan serangan militernya terhadap Ukraina, lapor Suspilne.

AS Berencana Akhiri Pengecualian Sanksi Minyak Rusia, Rubio: Ini Hanya Langkah Sementara

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan bahwa pemerintah AS ingin segera mengakhiri pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Rusia yang saat ini masih berlaku.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved